logo alinea.id logo alinea.id

Korea Utara tembakkan dua rudal jarak pendek

Ini merupakan uji coba rudal pertama sejak Kim Jong-un dan Trump sepakat menghidupkan kembali pembicaraan denuklirisasi yang mandek.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 25 Jul 2019 11:23 WIB
Korea Utara tembakkan dua rudal jarak pendek

Korea Selatan mengatakan, Korea Utara menembakkan dua rudal jarak pendek pada Kamis (25/7) pagi. Ini merupakan uji coba rudal pertama sejak Kim Jong-un dan Donald Trump sepakat untuk menghidupkan kembali pembicaraan denuklirisasi yang mandek.

Menurut seorang pejabat di Kementerian Pertahanan Korea Selatan, rudal yang terbang sejauh 430 km dan mencapai ketinggian 50 km itu diluncurkan dari dekat Kota Wonsan sebelum akhirnya jatuh di Laut Jepang. 

Rudal pertama diluncurkan pada pukul 05.34 waktu setempat dan rudal kedua ditembakkan pada pukul 05.57 waktu setempat.

Peluncuran rudal tersebut akan memicu keraguan atas upaya memulai kembali perundingan denuklirisasi setelah Trump dan Kim Jong-un bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) pada akhir Juni.

Istana Kepresidenan Korea Selatan, Blue House, menuturkan pihaknya telah mendeteksi tanda-tanda terkait sebelum peluncuran dan kini tengah melakukan analisis terperinci dengan Amerika Serikat.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan mendesak Korea Utara untuk menghentikan tindakan yang tidak membantu meredakan ketegangan. Mereka menekankan bahwa uji coba rudal terbaru hanya akan menimbulkan ancaman militer.

Sementara itu, Perdana Menteri Shinzo Abe memaparkan bahwa uji coba rudal Korea Utara tidak memiliki dampak langsung pada keamanan Jepang. Demikian seperti dilansir Kyodo News.

"Kami mengonfirmasi bahwa situasinya tidak berdampak pada keamanan nasional negara kami. Ke depan, kami akan bekerja sama dengan AS," ungkap PM Abe.

Sponsored

Penasihat keamanan nasional AS John Bolton belum bersuara terkait peluncuran ini. Pada Kamis (24/7), Bolton berada di Korea Selatan untuk membahas mengenai keamanan regional dan aliansi yang lebih kuat.

Negosiasi denuklirisasi terancam?

Pascapertemuan Trump dan Kim Jong-un bulan lalu, AS dan Korea Utara berjanji untuk segera mengadakan putaran baru pembicaraan denuklirisasi tingkat kerja. Tapi, sejak saat itu pula Pyongyang mengkritik tajam rencana latihan militer bersama AS dan Korea Selatan.

Duta Besar Korea Selatan untuk AS Cho Yoon-je menjelaskan bahwa Washington telah mengajukan waktu dan lokasi pembicaraan, namun Pyongyang belum merespons.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Menlu Korea Utara disebut-sebut akan bertemu di sela-sela forum keamanan Asia Tenggara di Bangkok pekan depan, tetapi sumber-sumber diplomatik mengatakan belum ada keputusan yang dibuat soal itu.

Kementerian Luar Negeri Korea Utara pada bulan ini menyatakan bahwa pengingkaran komitmen secara sepihak oleh AS dengan mengadakan latihan bersama Korea Selatan membuat Korea Utara mempertimbangkan kembali komitmen untuk menghentikan uji coba senjata nuklir dan rudal balistik antarbenua.

Korea Utara terakhir kali melakukan uji coba senjata pada Mei, meliputi rudal jarak pendek serta roket yang lebih kecil. Pada saat itu, Kim Jong-un terjun langsung untuk mengawasi.

Pada Selasa (24/7), kantor berita Korea Utara KCNA melaporkan bahwa Kim Jong-un menginspeksi kapal selam yang baru dibangun. Dia ditemani oleh para pemimpin program rudal dan banyak yang menafsirkan peristiwa itu sebagai sinyal pengembangan berkelanjutan dari program rudal balistik yang diluncurkan kapal selam.

"Dengan menembakkan rudal, mempersoalkan isu latihan militer bersama dan menunjukkan sebuah kapal selam baru, Korea Utara mengirimkan satu pesan yang jelas: pembicaraan tingkat kerja tidak akan ada jika AS tidak bersikap lebih fleksibel," tutur Kim Hong-kyun, mantan utusan nuklir Korea Selatan.

Pembicaraan denuklirisasi antara Korea Utara dan AS terhenti setelah KTT Vietnam pada Februari gagal. Meski demikian, sejak saat itu Trump berulang kali menekankan bahwa hubungannya dengan Kim Jong-un baik.

Pada Senin (22/7), Trump menekankan soal pembekuan uji coba senjata nuklir dan rudal jarak jauh yang diterapkan kepada Korea Utara sejak 2017. Dia juga menyinggung soal komunikasi yang disebutnya positif baru-baru ini.

"Ada sedikit korespondensi baru-baru ini. Kami memiliki komunikasi yang sangat positif dengan Korea Utara. Sekali lagi, tidak ada uji coba nuklir, tidak ada uji coba rudal," imbuhnya. (Reuters dan BBC)