logo alinea.id logo alinea.id

Korea Utara uji coba dua rudal jarak jauh

Kim Jong-un puas atas uji coba tersebut dan menekankan adanya kebutuhan untuk terus meningkatkan kemampuan angkatan bersenjata Korea Utara.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 10 Mei 2019 10:34 WIB
Korea Utara uji coba dua rudal jarak jauh

Korea Utara mengklaim telah melakukan uji coba senjata jarak jauh, Jumat (10/5). Klaim itu bertentangan dengan laporan Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan yang menyatakan bahwa Pyongyang menembakkan dua rudal jarak pendek.

Kantor berita Korea Utara, KCNA, menuturkan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengawasi langsung uji coba senjata pada Kamis (9/5). "Di pos komando, Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un mengawasi dan memberi perintah untuk memulai uji coba," sebut KCNA.

Kim Jong-un dilaporkan puas atas uji coba tersebut dan menekankan adanya kebutuhan untuk terus meningkatkan kemampuan angkatan bersenjata Korea Utara.

KCNA tidak mengatakan jenis senjata apa yang diluncurkan, menghindari menggunakan kata-kata rudal, roket, atau proyektil.

Uji coba senjata itu terjadi ketika hubungan Amerika Serikat dan Korea Utara semakin tegang. Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump menilai bahwa Kim Jong-un sejatinya belum siap melanjutkan negosiasi denuklirisasi.

"Tidak ada yang senang atas uji coba rudal Korea Utara," kata Trump. "Hubungan kami tetap berlanjut, tapi kita akan lihat apa yang terjadi ke depan. Saya tahu mereka ingin berunding, tapi saya pikir mereka belum benar-benar siap untuk bernegosiasi."

Pada Kamis, JCS menyatakan Korea Utara meluncurkan dua rudal jarak pendek. Kedua rudal tersebut diluncurkan pada pukul 04.29 waktu setempat dan terbang ke arah timur dengan jangkauan masing-masing 420 kilometer dan 270 kilometer.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan bahwa rudal tersebut ditembakkan dari Kusong, wilayah barat laut Korea Utara. Mereka menambahkan, rudal itu memiliki ketinggian sekitar 50 kilometer dan mendarat di Laut Timur, yang juga dikenal sebagai Laut Jepang.

Sponsored

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat pun mengonfirmasi adanya uji coba rudal Korea Utara.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menilai bahwa Korea Utara mungkin meluncurkan proyektil itu sebagai bentuk protes atas ketidakpuasan hasil pembicaraan denuklirisasi pada KTT Korea Utara-AS di Hanoi, Vietnam. KTT yang berlangsung pada Februari itu berakhir dengan mengecewakan karena Trump dan Kim Jong-un tidak mencapai kesepakatan.

Moon Jae-in mengatakan bahwa uji coba senjata terbaru ini dapat dianggap sebagai upaya Korea Utara untuk menekan dan mendorong pembicaraan denuklirisasi ke arah yang mereka inginkan, serta mendesak agar diskusi segera dilanjutkan.

Pada masa lalu, Pyongyang kerap melakukan uji coba rudal di Kusong, termasuk uji coba rudal jarak menengah KN-17 pada Mei 2017 yang menempuh jarak hampir 800 kilometer sebelum mendarat di Laut Jepang.

"Badan intelijen AS dan Korea Selatan sedang melakukan analisis untuk mendapatkan informasi tambahan," kata JCS dalam pernyataannya. "Militer kami saat ini telah meningkatkan pengawasan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan adanya peluncuran susulan, sambil mempertahankan kesiapan tempur dan berkoordinasi erat dengan AS."

Juru bicara Gedung Biru Korea Selatan Ko Min-jung menyatakan kekhawatiran Seoul atas peluncuran dua rudal tersebut. Dia berpendapat bahwa langkah itu tidak membantu meningkatkan kualitas hubungan antar-Korea.

Uji coba senjata pada Kamis terjadi kurang dari sepekan setelah Korea Utara menguji beberapa sistem senjata baru pada Sabtu (9/5).

KCNA melaporkan bahwa peluncuran pada Sabtu merupakan bagian dari latihan untuk memeriksa kapabilitas peluncur roket jarak jauh berkaliber besar dan sejumlah senjata taktis lainnya.

Michael Elleman, ahli pertahanan rudal di International Institute for Strategic Studies (IISS), menyatakan bahwa rudal balistik yang diuji coba pada Sabtu memiliki kemiripan dengan rudal sejenis milik Rusia yang disebut Iskander.

Terlepas dari jenis proyektil yang ditembakkan, para analis khawatir bahwa peningkatan uji coba senjata Korea Utara dapat berdampak buruk pada negosiasi denuklirisasi dengan AS dan Korea Selatan. Pembahasan denuklirisasi antara ketiga negara telah tertahan sejak kegagalan KTT kedua Korea Utara-AS.

Hubungan ketiga negara pun memanas ketika Korea Utara dengan keras menentang latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan pada Maret dan April.

Sebelumnya, pada KTT Korea Selatan-Korea Utara pada 2018, Moon Jae-in dan Kim Jong-un sepakat untuk melakukan upaya bersama demi meredakan ketegangan di Semenanjung Korea.

Penangguhan uji coba senjata Korea Utara dinilai sebagai salah satu faktor terpenting yang memungkinkan berjalannya negosiasi antara Seoul, Pyongyang, dan Washington.

Namun, peluncuran rudal terbaru ini dapat memaksa AS untuk mengubah haluan. Trump telah mengisyaratkan bahwa hal itu dapat mengganggu kemajuan diskusi antara kedua belah pihak.

Peluncuran senjata kemarin dilakukan saat Perwakilan Khusus AS untuk Korea Utara Stephen Biegun berada di Seoul untuk bertemu dengan pejabat pemerintah Korea Selatan. (CNN dan Asian Correspondent)