logo alinea.id logo alinea.id

Korut tolak lanjutkan perundingan damai dengan Korsel

Korea Utara terusik dengan pidato Presiden Korea Selatan Moon Jae-in yang disampaikan pada Hari Pembebasan dari pendudukan Jepang.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 16 Agst 2019 10:19 WIB
Korut tolak lanjutkan perundingan damai dengan Korsel

Korea Utara menegaskan bahwa mereka telah menutup pintu dan tidak akan pernah melakukan melanjutkan pembicaraan perdamaian dengan Korea Selatan.

Pernyataan itu dikeluarkan oleh Komite Reunifikasi Korea Utara sebagai tanggapan atas pidato Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada Kamis (15/8).

Sementara itu, militer Korea Selatan mengatakan bahwa pada Jumat (16/8) pagi, Korea Utara kembali menembakkan dua rudal ke laut di lepas pantai timurnya. Ini merupakan uji coba keenam dalam waktu kurang dari sebulan.

Enam hari yang lalu, Korea Utara menembakkan dua rudal balistik jarak pendek dan mendarat di Laut Jepang.

Serangkaian uji coba tersebut datang setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sepakat untuk memulai perundingan denuklirisasi dalam pertemuan mereka di DMZ pada Juni.

Korea Utara telah menghadapi sanksi internasional karena program pengembangan senjata nuklirnya.

Pidato Moon Jae-in

Dalam pidatonya pada peringatan Hari Pembebasan Korea dari penjajahan Jepang pada Kamis (15/8), Moon Jae-in berjanji akan menyatukan Semenanjung Korea pada 2045. Korea terbagi menjadi dua negara pada akhir Perang Dunia II.

Sponsored

Moon Jae-in mengatakan tujuan mencapai denuklirisasi di Semenanjung Korea berada pada titik paling kritis, seiring perundingan antara Korea Utara dan Korea Selatan menemui jalan buntu.

"Semenanjung Korea yang baru, yang akan membawa perdamaian dan kemakmuran bagi dirinya sendiri, Asia Timur dan dunia, menanti kita," ujarnya dalam pidato yang disiarkan di televisi.

Menanggapi Moon Jae-in, Korea Utara mempertanyakan apa artinya dialog ketika pada saat ini, latihan militer bersama Korea Selatan-AS tetap berjalan.

Dalam pernyataan yang dirilis oleh kantor berita, KCNA, pihak Korea Utara secara spesifik mengkritik Presiden Moon Jae-in.

"Kami mempertanyakan apakah pikirannya jernih ketika dia menyinggung perundingan perdamaian antara Korea Selatan dan Korea Utara selagi dia menyusun strategi perang yang akan menghancurkan pasukan kami," bunyi pernyataan itu. "Dia benar-benar orang yang tidak tahu malu."

Juru bicara Komite Reunifikasi Korea Utara menegaskan bahwa kebuntuan dalam perundingan denuklirisasi sepenuhnya merupakan kesalahan Korea Selatan karena memutuskan untuk mengadakan latihan militer gabungan.

"Sudah tidak ada lagi yang dapat kami bicarakan dengan para pejabat Korea Selatan," kata juru bicara tersebut.

Korea Utara telah menyatakan keberatannya atas latihan militer gabungan AS-Korea Selatan, menyatakan bahwa kegiatan tersebut melanggar kesepakatan yang dicapai dengan Presiden Trump dan Presiden Moon Jae-in.

Latihan militer bersama AS-Korea Selatan telah dimulai pada 5 Agustus dan akan berlangsung hingga Selasa (20/8).  Sebelumnya, Korea Utara menyebut kegiatan tersebut sebagai latihan untuk perang.

Dalam suratnya baru-baru ini kepada Trump, pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un dilaporkan telah mengeluh tentang latihan militer yang dia gambarkan sebagai kegiatan yang konyol dan mahal.

Sumber : BBC