sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kritik pemerintah, mahasiswa Bangladesh tewas dipukuli

Sejumlah anggota Liga Chhatra Bangladesh (BCL), sayap pemuda dari Partai Liga Awami yang berkuasa, ditahan sehubungan dengan kematian Fahad.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 10 Okt 2019 14:07 WIB
Kritik pemerintah, mahasiswa Bangladesh tewas dipukuli

Seorang mahasiswa Bangladesh tewas di asramanya pada Minggu (6/10), setelah mengkritik pemerintah lewat dunia maya. Sejumlah saksi menuturkan kepada BBC bahwa pria malang itu dipukul selama beberapa jam sebelum akhirnya tewas.

Korban yang bernama, Abrar Fahad (21), menurut rekan-rekannya diangkut dari kamarnya sekitar pukul 20.00 dan dipukuli setidaknya selama empat jam. 

Dokter yang melakukan autopsi pada Fahad mengonfirmasi bahwa tubuh pria itu dalam kondisi sangat memar.

Fahad tengah menempuh pendidikan di Bangladesh University of Engineering (Buet) di Dhaka. Ini merupakan tahun keduanya di Buet, di mana dia belajar teknik listrik dan elektronik.

Sejumlah anggota Liga Chhatra Bangladesh (BCL), sayap pemuda dari Partai Liga Awami yang berkuasa, ditahan sehubungan dengan kematian Fahad. BCL telah banyak dituduh melakukan penyiksaan dan pemerasan terhadap siswa.

Polisi menahan sembilan pria dari asrama yang sama dengan Fahad, termasuk setidaknya lima aktivis BCL.

Pada Selasa (8/10), polisi mengatakan bahwa jumlah yang ditangkap meningkat jadi 13 orang dan seluruhnya mahasiswa Buet. Sementara itu, enam tersangka lainnya masih diburu.

Wakil Komisaris Polisi Dhaka Munstasirul Islam membenarkan bahwa Fahad dipukuli hingga tewas.

Sponsored

Sohel Mahmud, kepala departemen forensik di Dhaka Medical College Hospital, menjelaskan, "Ada banyak trauma benda tumpul di tubuhnya. Analisis kami dia meninggal akibat serangan benda tumpul."

Sejumlah anggota BCL yang dikutip oleh media lokal menyebutkan bahwa Fahad telah diinterogasi dan dipukuli karena diduga memiliki relasi dengan partai Islam. Pembunuhan terjadi setelah Fahad mengunggah kritik terhadap pemerintah atas kesepakatan dengan India, termasuk tentang berbagi air dan ekspor gas bumi, yang menurut sejumlah pihak tidak sesuai dengan kepentingan negara itu.

BCL mengatakan bahwa setelah melakukan investigasi, mereka telah mengeluarkan 11 anggota divisi di Buet.

Kabar kematian Fahad telah memicu protes pada Senin (7/10) di Dhaka dan sejumlah kota lain. Protes juga berlangsung pada Selasa, dengan siswa di Buet menuntut hukuman mati bagi mereka yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan tersebut.

Pembunuhan Fahad telah mengejutkan Bangladesh dan menyoroti budaya kekerasan di universitas negeri.

"Benar-benar tidak dapat diterima bahwa seorang siswa tewas karena penyiksaan di aula universitas. Kematian Abrar Fahad telah membuktikan kegagalan total pihak berwenang untuk memastikan keamanan para siswa," ungkap AKM Masud, presiden Asosiasi Pengajar Buet, seperti dikutip bdnews24.com.

Keadilan bagi Fahad

Ayah Fahad, Barkat Ullah, menginginkan keadilan bagi putranya. Ullah mengatakan bahwa anaknya berharap dapat menyelesaikan PhD dan ingin mengabdi pada negara.

"Administrasi universitas harus mengambil tindakan tegas untuk menghentikan insiden seperti ini. Mereka harus tahu apa yang terjadi di asrama. Mereka harus bertanggungjawab," kata Ullah.

"Fahad adalah orang yang sangat sederhana. Dia memiliki pikiran yang naif. Anakku, dia ingin pergi ke luar negeri untuk belajar lebih tinggi."

Human Rights Watch, pihak berwenang tidak mengambil tindakan terhadap mereka yang melakukan kekerasan, tetapi malah menahan siswa yang memprotes pembunuhan Fahad.

Amnesty International menggambarkan pembunuhan Fahad sebagai kejahatan mengerikan yang harus segera diselidiki.

"Fahad hanya menggunakan hak damai atas kebebasan berekspresi lewat unggahan Facebook yang mengkritik pemerintahan," sebut Amnesty International dalam pernyataannya.

PM Sheikh Hasina Wajed telah menjanjikan keadilan kepada keluarga Fahad. (BBC dan The Guardian)

Berita Lainnya