logo alinea.id logo alinea.id

KTT G-20 diharapkan temukan jawaban bagi sejumlah isu global

KTT G-20 tahun ini berlangsung di Buenos Aires, Argentina, pada Jumat (30/11) dan Sabtu (1/12).

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 30 Nov 2018 11:13 WIB
KTT G-20 diharapkan temukan jawaban bagi sejumlah isu global

KTT G-20 yang berlangsung di Buenos Aires, Argentina, pada Jumat (30/11) dan Sabtu (1/12) diharapkan akan menghasilkan solusi konkret dari sejumlah permasalahan global. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Muda pada Kementerian Eropa dan Luar Negeri Perancis Jean-Baptiste Lemoyne.

G-20, menurutnya, memiliki peran penting dalam upaya penyelesaian perang dagang antar dua negara besar yakni AS dan China.

"Kini ada risiko tirai besi muncul karena ketegangan yang berlanjut antara dua kekuatan global itu," tutur Lemoyne dalam diskusi publik 'Anticipating G20 Summit, The Case for Advancing Effective and Inclusive Multilateralism'  di Mayapada Tower, Jakarta, Kamis (29/11).

Lemoyne menyatakan perlunya upaya untuk menekan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk mengambil peran dan memperkuat kapasitasnya dalam memberlakukan aturan serta mempromosikan situasi di mana setiap pihak memiliki kesempatan yang adil dan setara untuk berhasil.

"Jika tidak dilakukan dan WTO tidak ingin ada modernisasi, AS dapat pergi juga," lanjutnya.

Terlebih lagi, sebagai bagian dari Uni Eropa (UE), Menteri Lemoyne menyampaikan bahwa UE turut menyarankan agar WTO memikirkan kembali Special & Differential Treatment (S&D) milik mereka. Regulasi ini membedakan perlakuan antara negara maju dan berkembang.

"Mungkin juga harus ada modernisasi terhadap regulasi ini. Kami (UE) ingin agar KTT G-20 menjadi momentum bagi para pemimpin untuk menyadari kondisi berbahaya yang sedang berlangsung," imbuhnya.

Persoalan kedua yang diharapkan dapat ditemukan solusinya dari KTTG-20 adalah perubahan iklim.

Sponsored

Sebelumnya pada G-20 di Hamburg telah ada peneguhan Perjanjian Paris mengenai perubahan iklim. Menurut Lemoyne, hal ini penting dilakukan demi mengafirmasi kesediaan negara untuk tetap mengikuti perjanjian ini.

Berdasarkan keterangannya, negara anggota G-20 menyumbang 80% polusi di dunia. Maka dari itu, G-20 memiliki tanggung jawab besar dalam persoalan global ini. 

"KTT G-20 kali ini harus menekankan kembali hal ini. Meski AS sudah memutuskan untuk keluar, saya kira kita tetap berhasil menjadi satu dan tidak terpecah," jelas Lemoyne.

Tidak hanya itu, G-20 juga harus melawan ketimpangan yang ada di sejumlah negara. Kini, menurutnya, setiap negara harus menghadapi masalah ketidakadilan yang tumbuh karena adanya ketimpangan ekonomi dan sosial. 

"Menurut saya kesetaraan adalah kata kunci dari masalah ini. Segala pihak dapat saling setuju jika adanya kesetaraan," katanya.

Lemoyne menyatakan bahwa G-20 harus menghasilkan solusi yang mengatasi akar ketimpangan salah satunya dalam bidang pendidikan. 

"Ketimpangan dapat diatasi dengan kebijakan publik di wilayah seperti pendidikan yang mana seringkali tidak adanya kesempatan yang sama bagi semua orang," paparnya. 

Konsistensi negara anggota untuk menemukan titik terang dari sejumlah permasalahan global diharapkan dapat terjadi pada KTT G20 ke-13 ini. Lemoyne menggarisbawahi bahwa pertemuan berskala internasional seperti G-20 tidak akan berguna jika para pemimpin negara justru sibuk berseteru. 

"Jika G-20 berhasil, maka memang pertemuan ini dapat dijadikan kesempatan untuk berunding dan menemukan jalan keluar sebuah masalah. Kita akan lihat bagaimana hasilnya," ungkap Lemoyne