sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kualitas udara Singapura diprediksi akan membaik

Kabut asap di Singapura diprediksi membaik meski diperkirakan masih akan diselimuti kabut tipis.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 16 Sep 2019 16:04 WIB
Kualitas udara Singapura diprediksi akan membaik

Setelah menghindari aktivitas di luar ruangan pada akhir pekan, warga Singapura disebut bisa sedikit bernapas lega. Pasalnya, Badan Lingkungan Nasional (NEA) pada Minggu (15/9) malam mengatakan bahwa kualitas udara di negara itu diperkirakan akan membaik selama 24 jam ke depan.

Dalam pernyataannya, NEA menjelaskan bahwa kabut asap berangsur membaik meskipun kabut tipis diperkirakan masih akan menyelimuti Singapura. Hal itu, lanjut mereka, disebabkan oleh arah angin yang bergeser ke tenggara.

Pada Minggu pukul 21.00 waktu setempat, Indeks Standar Pencemar (PSI) berada di tingkat 91 dan 100, sebuah peningkatan dari tingkat "tidak sehat" pada Minggu pagi.

Menurut PSI, angka 50 ke bawah menunjukkan kualitas udara "baik", 51-100 "sedang", dan 101-200 dikategorikan sebagai "tidak sehat". PSI mencapai tingkat "tidak sehat" dengan angka 116 untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada Sabtu (14/9) sore waktu setempat.

"Mengingat perkiraan kualitas udara untuk 24 jam ke depan, semua orang dapat melanjutkan kegiatan secara normal," ungkap NEA.

Level polusi PM2.5, jelas NEA, juga diharapkan akan berkisar menjadi normal untuk 24 jam ke depan.

NEA menyebut bahwa untuk beberapa hari ke depan, cuaca diprediksi akan kering diselingi hujan singkat beberapa kali.

"Cuaca kering juga diperkirakan terjadi di wilayah tengah dan selatan Sumatra, Indonesia. Situasi kabut asap di sana diprediksi akan bertahan," jelas badan itu.

Sponsored

Sebanyak 439 titik api terdeteksi di Sumatra pada Minggu, sebagian besar berlokasi di Riau, Jambi, Sumatra Selatan dan Lampung.

"Kabut asap sedang hingga pekat terus memancar dari titik-titik api yang berada di provinsi-provinsi tersebut. Selain itu, kabut asap dari Riau dan Jambi telah diterbangkan oleh angin yang kencang dan memengaruhi Singapura serta sejumlah wilayah di Malaysia," jelas NEA.

Operasi penyemaian awan

Pada Senin (16/9), banyak warga yang merayakan Hari Malaysia dengan diselimuti kabut asap yang pekat. Menurut data AirVisual pada Senin pagi, udara di lima wilayah di Malaysia masuk ke tingkat "sangat tidak sehat" dan "tidak sehat".

Malaysia memfokuskan operasi penyemaian awan di Selangor dan Johor yang paling parah terdampak kabut asap. Kementerian Energi, Sains, Teknologi, Lingkungan dan Perubahan Iklim (MESTECC) menyatakan bahwa operasi dimulai pukul 11.00 pada Senin di bandara di Subang.

Pada Minggu pukul 15.00, data API di Tangkak, Johor, menyentuh 258 dan 118 di Banting, Selangor. Angka API dari 0-50 menunjukkan kualitas udara yang "baik", 51-100 dikategorikan sebagai "sedang", 101-200 merupakan "tidak sehat", 201-300 "sangat tidak sehat" dan 300 ke atas disebut "berbahaya".

Berbeda dengan Malaysia, Singapura dan Indonesia menggunakan PSI untuk mengukur kualitas udara.

Wakil Menteri MESTECC Isnaraissah Munirah mengatakan bahwa penyemaian awan yang dilakukan di Sarawak pada Kamis (12/9) telah berhasil menurunkan tingkat API di negara bagian itu.

Pekan lalu, tingkat polusi udara di Sarawak melonjak akibat memburuknya kondisi kebakaran hutan di Indonesia.

"Penyemaian awan dapat dilakukan jika kondisi atmosfer dan awan memungkinkan. Kami berharap kondisi pada Senin akan lebih baik sehingga proses penyemaian awan dapat dilakukan secara efektif," kata Isnaraissah pada Minggu.

Dia menambahkan, kabut di Semenanjung Malaysia disebabkan oleh kebakaran di Sumatra dan Kalimantan.

Isnaraissah menjelaskan bahwa Malaysia, melalui Menteri MESTECC Yeo Bee Yin, telah menawarkan untuk membantu Indonesia mengatasi situasi kabut asap tetapi hingga kini belum menerima tanggapan.

"Sangat penting bagi kami untuk mengatasi masalah dari sumber nyata kabut asap ... Karena bahkan jika Malaysia melakukan penyemaian awan di sini, itu hanya akan mengurangi kabut asap untuk sementara saja," jelas dia. (CNA dan Business Insider)