logo alinea.id logo alinea.id

Lagi, demonstran di Hong Kong bentrok dengan polisi

Bentrokan terjadi di sejumlah distrik di Hong Kong, termasuk di Distrik Admiralty. Demonstran melempar batu bata ke arah polisi.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 16 Sep 2019 10:34 WIB
Lagi, demonstran di Hong Kong bentrok dengan polisi

Polisi Hong Kong menembakkan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa yang melemparkan molotov ke gedung-gedung pemerintah dalam demonstrasi pada Minggu (15/9).

Para petugas keamanan berusaha membubarkan massa karena sebelumnya, atas alasan keamanan, polisi telah menolak permintaan demonstran untuk menggelar aksi protes pada Minggu.

Sejumlah demonstran melemparkan batu bata ke arah polisi di luar pangkalan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) di Distrik Admiralty. Mereka juga membakar spanduk merah yang bertuliskan hari peringatan berdirinya China pada 1 Oktober.

Sebuah truk meriam air terbakar setelah terkena molotov. Meriam air menembakkan air berwarna biru, digunakan untuk lebih mudah mengidentifikasi pengunjuk rasa.

"Pengunjuk rasa radikal saat ini menduduki Harcourt Road di Admiralty, berupaya merusak Kantor Pemerintah Pusat dengan melemparkan molotov ke arah bangunan," kata polisi dalam pernyataannya.

Ribuan pengunjuk rasa, yang mengenakan pakaian serba hitam, berlarian melalui jalan-jalan di Hong Kong dengan menggunakan taktik "kucing dan tikus" untuk menghindari polisi. Mereka menyalakan api di sejumlah titik, dan pihak berwenang bergerak cepat untuk memadamkannya.

Polisi juga menembakkan gas air mata dalam upaya membubarkan massa yang berkumpul di Distrik Causeway Bay yang merupakan pusat perbelanjaan.

Di Distrik Fortress Hill di sebelah timur Hong Kong, kekerasan meletus ketika sejumlah pria yang mengenakan kaus putih, beberapa di antaranya memegang tongkat kayu, bentrok dengan para demonstran antipemerintah.

Sponsored

Polisi mengerahkan banyak petugas untuk berjaga-jaga di dalam dan sekitar stasiun kereta bawah tanah (MTR). Selama serangkaian protes prodemokrasi yang telah berjalan sejak Juni, MTR menjadi target utama vandalisme pengunjuk rasa.

Toko-toko yang berada di daerah-daerah protes utama harus tutup lebih awal untuk menghindari kerusakan akibat kerusuhan.

Sebelum bentrokan antara demonstran dan polisi terjadi, pengunjuk rasa menjalankan aksi protes secara damai dengan membanjiri jalanan di pusat kota sambil meneriakkan, "Stand with Hong Kong".

Sejumlah orang mengibarkan bendera Amerika Serikat dengan spanduk yang bertuliskan, "President Trump, Please Liberate Hong Kong".

Jumlah pemrotes pada Minggu dilaporkan lebih sedikit daripada yang mengikuti demonstrasi-demonstrasi sebelumnya. 

Otoritas Bandara Internasional Hong Kong pada Minggu menyatakan bahwa pada Agustus, jumlah pelancong turun sebesar 12,4% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018. Pada Agustus, demonstran antipemerintah membanjiri terminal kedatangan bandara dalam upaya menarik perhatian dunia. Aksi itu mengganggu operasional bandara, menyebabkan penerbangan dibatalkan atau ditunda.

Aksi di depan Konsulat Inggris

Protes massa yang telah melanda Hong Kong selama lebih dari tiga bulan pada awalnya dipicu oleh RUU ekstradisi yang kini sudah dicabut secara resmi. Di bawah RUU itu, tersangka di Hong Kong dapat diekstradisi dan diadili di China daratan. Belakangan, aksi protes meluas menjadi seruan untuk reformasi demokrasi.

Pada Minggu pagi waktu setempat, demonstran prodemokrasi secara damai berkumpul di luar Konsulat Inggris di Hong Kong. Mereka meminta Inggris mendesak China untuk menghormati kebebasan dan otonomi kota tersebut.

Deklarasi Bersama China-Inggris yang ditandatangani pada 1984 menjabarkan masa depan Hong Kong setelah dikembalikan ke Beijing pada 1997. Salah satu kesepakatannya merupakan formula "Satu Negara, Dua Sistem" yang memastikan kebebasan yang tidak dapat dinikmati di China daratan.

Sejumlah pemrotes di depan Konsulat Inggris membawa papan yang bertuliskan, "SOS Hong Kong". Beberapa di antara mereka mengibarkan Union Jack, bendera Inggris.

"Satu Negara, Dua Sistem telah mati," teriak para pengunjuk rasa.

Sebelumnya, China menyatakan berkomitmen menjalani formula itu, menyangkal ikut campur dan menegaskan bahwa Hong Kong merupakan urusan internal mereka. Beijing menuduh pihak asing, khususnya AS dan Inggris, telah mengobarkan api kerusuhan di pusat keuangan Asia itu.

Inggris mengatakan memiliki tanggung jawab secara hukum untuk memastikan China mematuhi deklarasi 1984.

"Deklarasi Bersama merupakan perjanjian yang mengikat secara hukum antara Inggris dan China yang berlaku hingga hari ini. Sebagai salah satu pihak penandatangan, Inggris akan terus mempertahankan posisi kami," kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris pada Juni. (Reuters dan Al Jazeera)

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Senin, 14 Okt 2019 21:28 WIB
Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Sabtu, 12 Okt 2019 07:57 WIB