sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ledakan guncang Nepal, 4 orang tewas dan 7 luka

Pihak berwenang mencurigai kelompok Maois mendalangi ledakan.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 27 Mei 2019 09:39 WIB
Ledakan guncang Nepal, 4 orang tewas dan 7 luka
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 60695
Dirawat 30091
Meninggal 3036
Sembuh 27568

Setidaknya empat orang tewas dan tujuh lainnya terluka dalam tiga ledakan di Kathmandu, Nepal, pada Minggu (26/5) siang waktu setempat. Satu ledakan terjadi di pusat kota dan dua di daerah pinggiran.

Polisi meyakini alat peledak improvisasi (IED) atau minyak mentah telah digunakan untuk memicu ledakan.

Pihak berwenang setempat mencurigai pemberontak dari Partai Komunis Nepal atau yang disebut kelompok Maois sebagai pihak yang bertanggung jawab atas ledakan itu.

Seorang pejabat kepolisian menyatakan pemberontak dari kelompok Maois dicurigai setelah petugas keamanan menemukan selebaran terkait organisasi itu di tempat ledakan kedua. Namun, hingga kini, belum ada yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.

Kelompok yang sama diduga menjadi dalang dari ledakan pada Februari yang menewaskan satu orang di Kathmandu.

Pejabat kepolisian, Shyam Lal Gyawali, mengatakan tiga dari korban tewas langsung meninggal di lokasi kejadian, sementara korban keempat meninggal dalam perawatan di rumah sakit.

"Saya mendengar ledakan besar dan bergegas ke tempat itu. Saya melihat dinding-dinding rumah retak karena ledakan tersebut," tutur Govinda Bhandari, seorang pelajar yang berada di dekat lokasi kejadian.

Hanya satu orang yang tewas dalam ledakan pertama, tiga lainnya tewas dalam insiden kedua di daerah Sukedhara. Selang beberapa jam setelahnya, ledakan ketiga terjadi.

Sponsored

Lokasi kejadian telah ditutup dan penyelidikan tengah berlangsung. Di ibu kota, pasukan keamanan bersiaga tinggi dan melakukan patroli.

Hingga 2006, Nepal terlibat perang saudara dengan kelompok Maois. Namun, kini kondisi dinilai relatif damai. Kelompok utama mantan pemberontak bahkan telah bergabung dengan pemerintah yang berkuasa.

Beberapa anggota yang memisahkan diri mengatakan bahwa para pemimpin mereka telah mengkhianati cita-cita revolusioner kelompok. (BBC dan Deutsche Welle)

Berita Lainnya