sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Lockdown, restoran di Inggris tawarkan alat makan DIY untuk bertahan

Bisnis ini diyakini akan bertahan setelah vaksinasi Covid-19 dilakukan pada 2021.

Cindy Victoria Dhirmanto
Cindy Victoria Dhirmanto Kamis, 26 Nov 2020 23:18 WIB
<i>Lockdown</i>, restoran di Inggris tawarkan alat makan DIY untuk bertahan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

Di Inggris, dari makanan cepat saji hingga santapan mewah mengandalkan peralatan rumah untuk membuat mereka tetap bertahan selama karantina wilayah (lockdown). Namun bagi seorang koki sekaligus restoran Kitchen Table di London, James Knappett, keputusan mengirimkan peralatan makan swakriya (do it yourself/DIY) tidaklah mudah, tetapi penting.

Restorannya telah ditutup sejak karantina wilayah pertama pada Maret mengingat tempat duduk pengunjung berada di sekitar meja dapur. Sehingga, tidak memungkinkan menerapkan jaga jarak.

“Rasanya sangat sulit untuk memberikan kendali ini kepada para tamu ... tapi kata yang kita gunakan setiap hari lebih dari apa pun ... adalah bertahan hidup dan jika kita tidak melakukannya, tidak akan ada restoran untuk kembali lagi,” katanya kepada REUTERS sambil mengemasi sekotak menu cicip rumahannya.

Restoran Knappet, yang mempekerjakan 20 orang, dulu penuh dipesan setiap hari dengan daftar tunggu (waiting list) hingga tiga bulan. Sekarang hanya ada empat staf yang menangani sekitar 80 pesanan pengiriman ke rumah per minggu–dirinya menargetkan peralatan makan berharga £150-£250 pound untuk dua orang dan dilengkapi dengan instruksi memasak.

Hal serupa dilakoni James dan Thom Elliot. Kedua bersaudara ini beranggapan, karantina wilayah menjadi jalan kehidupan yang tak terduga untuk bisnis Pizza Pilgrims-nya, "piza di pos".

“Kami mencoba meluncurkan ini kembali pada tahun 2014 dan itu adalah kegagalan yang spektakuler, orang-orang belum siap untuk itu. Tapi kemudian pandemi membuat semua orang di rumah dan tiba-tiba semua orang benar-benar merindukan piza dan kami meluncurkan kembali peralatan dan itu menjadi kegilaan sejak itu," kata James.

Untuk prakarsa, di mana klien menggelar adonan dan memilih dari berbagai pugas (topping). Atas usahanya, James dan Elliot berhasil merekrut kembali 30 dari 270 staf yang telah dirumahkan untuk menjalani "piza di pos".

Dagangan seharga £15 untuk dua piza tersebut sekarang mampu terjual lebih dari 1.000 kit setiap harinya dan dikirimkan melalui kurir. Elliot mengatakan, bisnis ini menguntungkan sejak hari pertama.

Sponsored

“Kami benar-benar berpikir ini akan menjadi sesuatu yang akan bertahan setelah vaksin pada tahun 2021,” kata James. (REUTERS)

Berita Lainnya