logo alinea.id logo alinea.id

Longsor melanda kamp pengungsian Rohingya, satu orang tewas

Hujan deras turun sekitar 72 jam sebelum tanah longsor terjadi pada Sabtu (6/7), di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Cox's Bazar.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 08 Jul 2019 15:00 WIB
Longsor melanda kamp pengungsian Rohingya, satu orang tewas

Tanah longsor yang melanda kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh pada Minggu (7/7) telah menewaskan satu orang, menyebabkan lebih dari 4.500 lainnya kehilangan tempat tinggal.

Perwakilan PBB di Bangladesh menyatakan bahwa hujan deras turun sekitar 72 jam sebelum tanah longsor terjadi pada Sabtu (6/7), di kamp-kamp di Cox's Bazar, yang dihuni lebih dari 900.000 warga Rohingya.

Tanah longsor dilaporkan terjadi 26 kali di sejumlah kamp sementara yang dibangun di bukit dekat perbatasan Myanmar. Pohon-pohon di bukit itu telah ditebang untuk membangun gubuk-gubuk dan kayu bakar, akibatnya medan menjadi tidak stabil.

Pejabat UNHCR Areez Rahman mengatakan sekitar 30 gubuk terkena imbas dari hujan badai. Seorang wanita berusia 50-an meninggal akibat tertimpa dinding yang runtuh di tengah longsor.

Nur Mohammad, seorang Rohingya berusia 40 tahun yang menetap di kamp pengungsian Kutupalong, mengatakan 12 kerabatnya telah mengungsi ke tempatnya setelah gubuk mereka terdampak tanah longsor.

"Tempat saya sudah terlalu sesak. Saya khawatir tidak dapat memberi makan mereka semua," kata dia.

Para pejabat setempat menyatakan sekitar 5.000 Rohingya di area tidak bertuan antara Bangladesh dan Myanmar juga terkena dampak buruk dari hujan deras dan tanah longsor.

"Anak-anak menderita diare karena kami tidak memiliki air minum bersih yang cukup," kata pemimpin kamp, Dil Mohammad.

Sponsored

Dia mengatakan bahwa sebagian besar kamp terendam air setinggi lutut akibat luapan dari sungai terdekat.

Komisaris pengungsi Bangladesh Mohammad Abul Kalam menyampaikan bahwa pemerintah telah mempersiapkan langkah-langkah darurat.

Hujan badai di kamp pengungsian Rohingya menewaskan 170 orang pada 2017. Kemudian pada 2018, UNHCR memindahkan 30.000 Rohingya dari daerah yang dianggap rentan tanah longsor dan banjir.

Sekitar 740.000 warga Rohingya melarikan diri dari operasi militer pemerintah Myanmar di Rakhine State sejak Agustus 2017. Mereka bergabung dengan sekitar 200.000 orang yang sudah tinggal di sejumlah kamp pengungsian di perbatasan Bangladesh.

Bangladesh ingin merelokasi sekitar 100.000 pengungsi ke pulau terpencil di Teluk Benggala. Namun, keputusan itu ditentang para pengungsi dan juga sejumlah kelompok hak asasi manusia. (Channel News Asia)