logo alinea.id logo alinea.id

Mahasiswa Australia bantah jadi mata-mata di Korea Utara

Alek Sigley sempat dilaporkan hilang sebelum akhirnya diketahui bahwa dia ditahan oleh rezim Korea Utara.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 10 Jul 2019 09:41 WIB
Mahasiswa Australia bantah jadi mata-mata di Korea Utara

Pada Selasa (9/7), mahasiswa Australia yang dibebaskan dari tahanan Korea Utara pekan lalu membantah tuduhan Pyongyang yang menyebutnya sebagai mata-mata.

Alek Sigley (29), yang sedang menempuh pendidikan di Pyongyang, sempat menghilang sejak 25 Juni dan dibebaskan pada 4 Juli melalui upaya diplomat Swedia. Kini, Sigley telah sampai di Tokyo dan bersatu kembali dengan istrinya.

Korea Utara menuduh Sigley menyebarkan propaganda anti-pemerintah dan terlibat tindakan spionase dengan memberikan foto serta materi lainnya ke sejumlah media.

Kantor berita Pyongyang, KCNA, mengatakan Korea Utara mendeportasi Sigley pada 4 Juli setelah dia memohon pengampunan atas kegiatan spionasenya yang melanggar kedaulatan negara tersebut.

"Dia dengan jujur mengakui tindakan spionase yang mengumpulkan dan memberikan data secara sistematis tentang situasi domestik Korea Utara. Sigley berulang kali meminta pengampunan dan meminta maaf karena melanggar batas kedaulatan Korea Utara," jelas laporan KCNA.

Dalam serangkaian twit pada Selasa, Sigley membantah tuduhan Pyongyang.

"Tuduhan bahwa saya adalah mata-mata jelas salah. Bahan yang saya berikan kepada NK News adalah bahan yang dipublikasikan untuk umum di blog biro perjalanan Tongil Tours, dan hal yang sama berlaku untuk media lainnya," tulisnya.

NK News sendiri merupakan situs yang memiliki spesialisasi pada urusan Korea Utara.

Sponsored

Sigley mengatakan insiden tersebut membuatnya sangat sedih karena dia tidak dapat menyelesaikan gelar masternya di Kim Il-sung University.

"Saya masih sangat tertarik dengan Korea Utara dan ingin melanjutkan penelitian akademis terkait negara itu," katanya. "Tapi saat ini saya tidak memiliki rencana untuk mengunjungi negara itu lagi, setidaknya dalam beberapa waktu ke depan."

Selama berada di Korea Utara, Sigley kerap berbagi cerita tentang kehidupannya di Pyongyang melalui media sosial dan situs biro perjalanan yang dia dirikan, Tongil Tours.

Dia juga menulis artikel opini dan esai yang diterbitkan sejumlah media Barat termasuk Guardian Australia dan NK News. Tulisan-tulisannya tidak ada yang mengkritisi pemerintah dan sistem politik Korea Utara.

Dalam twitnya pada Selasa, Sigley menambahkan Tongil Tours akan membatalkan semua tur ke Korea Utara hingga pemberitahuan lebih lanjut.

"Saya mungkin tidak akan pernah lagi berjalan di jalanan Pyongyang, sebuah kota yang yang sangat istimewa di hati saya," tulisnya. "Saya mungkin tidak akan pernah lagi melihat para dosen dan mitra saya di industri turisme, yang saya anggap teman dekat." (Reuters dan The Guardian)