sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Malaysia pertimbangkan campur dua vaksin untuk tingkatkan efikasi

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Sains Malaysia Khairy Jamaluddin pada Rabu (16/6). 

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 18 Jun 2021 15:15 WIB
Malaysia pertimbangkan campur dua vaksin untuk tingkatkan efikasi

Pemerintah Malaysia sedang mempertimbangkan untuk mencampur dua vaksin yang berbeda demi meningkatkan efikasi terhadap varian baru Covid-19.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Sains Malaysia Khairy Jamaluddin pada Rabu (16/6). 

Khairy mengatakan, dia semakin tidak yakin Malaysia dapat mencapai kekebalan kawanan (herd immunity) karena dia memperkirakan Covid-19 akan menjadi endemik di negara itu.

"Saya sudah berhenti menggunakan istilah itu," katanya dalam sebuah webinar. "Saya sudah menyarankan kepada perdana menteri untuk berhati-hati dalam menggunakan istilah 'kekebalan kelompok', karena pandangan saya sebagai menteri koordinator, berkaca dari data dan sains, ini sangat mungkin menjadi endemik."

Program Imunisasi Nasional Malaysia (NIP) telah menetapkan target vaksinasi 80% dari populasi untuk mencapai kekebalan kawanan terhadap Covid-19.

Khairy, yang juga menjabat sebagai koordinator NIP, mengatakan bahwa pihak berwenang Malaysia tengah meneliti data dari Jerman tentang metode vaksinasi yang menggunakan vaksin dari AstraZeneca untuk dosis pertama, kemudian Pfizer-BioNTech untuk dosis kedua.

Vaksinasi sejenis itu atau heterologous vaccinations adalah metode menggunakan dua vaksin berbeda untuk meningkatkan kemanjuran terhadap varian virus yang berbeda.

Dia menambahkan, data sejauh ini menunjukkan bahwa metode tersebut telah meningkatkan antibodi dan efektivitas yang lebih baik terhadap varian yang berbeda dari Covid-19.

Sponsored

"Kami mengawasi perkembangan ini dengan sangat cermat. Kami tidak ingin membuat keputusan yang terburu-buru sebelum mendapatkan data yang cukup," sambung Khairy. 

Dia mencatat, ada kemungkinan bahwa pemerintah Malaysia kemungkinan akan melakukan metode vaksinasi tersebut karena banyak negara juga menggunakannya untuk meningkatkan antibodi dan meningkatkan efikasi.

Khairy juga mengatakan, pihak berwenang berencana untuk memperpendek interval pemberian suntikan AstraZeneca, tetapi mengakui mereka terkendala oleh masalah dengan pasokan vaksin AstraZeneca.

"Sebagian pasokan AstraZeneca dari Covax tertunda dan beberapa pasokan dari Thailand juga sedikit tertunda. Jadi kami sedang menghitung ulang jadwal pengiriman kami sekarang untuk melihat apakah kami dapat mempersingkat periode interval untuk AstraZeneca," ujarnya.

Interval pemberian suntikan AstraZeneca saat ini adalah 12 minggu.

Sumber : The Straits Times

Berita Lainnya