Dunia / Malaysia - Singapura

Malaysia-Singapura saling klaim cendol, sejarawan: Tidak perlu ribut

Ribut-ribut soal cendol ini bermula saat CNN merilis daftar 50 makanan pencuci mulut terbaik di dunia pada Sabtu (1/12).

Malaysia-Singapura saling klaim cendol, sejarawan: Tidak perlu ribut
Ilustrasi / Pixabay

Sengketa antara dua negara tetangga, Malaysia dan Singapura, tidak hanya dalam ranah udara dan laut saja. Namun, juga kuliner.

Ribut-ribut dalam hal kuliner ini bermula saat CNN merilis daftar 50 makanan pencuci mulut terbaik di dunia pada Sabtu (1/12). Media Amerika Serikat itu memasukkan cendol yang ditulisnya berasal dari Singapura dalam daftar tersebut.

"Jenis pencuci mulut yang dingin ini dapat ditemukan di seluruh Asia Tenggara, tetapi dengan tambahan satu sendok kacang merah manis, Singapura menjadikan camilan klasik ini sangat menggoda," tulis CNN.

Warganet asal Malaysia pun bereaksi atas laporan tersebut. Tidak sedikit yang bersikeras mengatakan bahwa cendol berasal dari Negeri Jiran, di samping ada pula yang mengatakan bahwa hal ini tidak perlu diributkan.

Seorang warganet mengungkapkan bahwa baik orang Indonesia, Malaysia, atau Singapura tidak perlu berseteru dan boleh menyantap kuliner ini.

Bahkan ada yang bergurau mengatakan bahwa perseteruan mengenai batas wilayah laut dan udara Singapura-Malaysia lahir dari perebutan cendol.

Salah satu pengguna Twitter asal Malaysia menyalahkan Kementerian Pariwisata, Seni, dan Budaya Malaysia yang dinilainya gagal melindungi produk lokal.

Lucunya, seorang pengguna Twitter asal Malaysia malah memuji cendol dari kedai es cendol Elizabeth asal Bandung.

Cendol sebagai identitas bersama

Sejarawan kuliner Indonesia Fadly Rahman berpendapat bahwa perdebatan tentang cendol sejatinya tidak perlu dilakukan karena cendol sudah menjadi identitas bersama di kawasan Asia Tenggara.

"Artinya di mana pun di Asia Tenggara itu ada dan namanya juga identik. Di Singapura disebut cendol, di Malaysia dan Indonesia juga sama," jelas Fadly pada Alinea.id, Jumat (7/12).

Menurut Fadly, perdebatan yang memperebutkan dan mengklaim cendol ini muncul karena tingginya kesadaran kebangsaan dari dua pihak.

"Pada masa lalu ketika konsep kebangsaan belum seperti sekarang, tidak ada rasa untuk saling klaim. Menurut saya tidak perlu," imbuhnya.

Meski tidak ada bukti jelas terkait permulaan cendol sebagai budaya kuliner di Asia Tenggara, namun Fadly justru memaparkan bahwa catatan tertulis tertua yang menyinggung cendol ditemukan di Jawa.

Karya sastra Jawa kuno atau Kakawin Kresnayana karya Empu Triguna yang ditulis pada awal Abad ke-12 menyebut minuman yang mirip dengan cendol yaitu dawet.

"Karena hubungan antara dawet dengan cendol itu tidak jauh beda ya. Bedanya cendol itu butiran dari tepung beras atau tepung kue diayak jadi bentuk-bentuk kecil, tapi kalau dawet itu tidak melalui proses pengayakan. Jadi, minuman yang memang menggunakan bahan dasar santan, gula merah, dan juga tepung beras itu disinyalir sudah dikonsumsi di Jawa sesuai dengan bukti tertulis Kakawin Kresnayana," jelas Fadly.


Berita Terkait

Kolom

Infografis