sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Mantan PM Australia berharap IA-CEPA segera diratifikasi

Turnbull menekankan bahwa IA-CEPA akan menguntungkan Indonesia dan Australia.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 01 Okt 2019 14:01 WIB
Mantan PM Australia berharap IA-CEPA segera diratifikasi

Mantan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull berharap Indonesia dan Australia segera meratifikasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

"Saya berharap perjanjian itu akan segera diratifikasi oleh parlemen kedua negara," tutur Turnbull dalam kuliah umum "Advancing the Australia-Indonesia Economic Relationship" di Universitas Indonesia, Depok, pada Selasa (1/10).

Turnbull menyatakan, IA-CEPA akan menguntungkan Indonesia dan Australia. "Kesepakatan perdagangan itu sangat ambisius dan akan meningkatkan kemitraan antara kedua negara."

Dia menuturkan bahwa IA-CEPA akan mendorong hubungan perdagangan dan investasi antara Jakarta dan Canberra. Saat ini, tambahnya, Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ke-14 Australia. "Potensi perdagangan kedua negara belum tercapai secara maksimal."

Turnbull memaparkan bahwa pada 2018, nilai investasi Australia ke Indonesia hanya US$3,7 miliar dan sebaliknya, investasi Indonesia ke Negeri Kanguru hanya sekitar US$737 juta.

"Presiden Joko Widodo dan saya menyadari permasalahan ini, itulah sebabnya kami berkomitmen untuk membangun kemitraan ekonomi yang lebih kuat," jelas dia.

Atas dasar itu, pada 2018, hubungan kerja sama kedua negara ditingkatkan menjadi comprehensive strategic partnership.

Turnbull menyatakan, kerja sama ekonomi Australia-Indonesia bukan sekadar teori di atas kertas. Dia menekankan bahwa hubungan ini akan menghasilkan peluang ekonomi dan memperbanyak lapangan pekerjaan.

Sponsored

"Pada 2016, saya dan Jokowi sepakat untuk benar-benar menyelesaikan dan melanjutkan pembahasan IA-CEPA," ungkap Turnbull.

Selain merupakan instrumen hubungan ekonomi, Turnbull menyatakan bahwa IA-CEPA adalah bentuk nyata perdagangan bebas yang menentang praktik proteksionisme.

Proteksionisme, tegas Turnbull, bukanlah tangga yang dapat dipanjat untuk membantu negara keluar dari low growth trap. Hal itu justru membuat negara jatuh ke dalam perangkap tersebut.

Dia menekankan bahwa perdagangan bebas dan pasar terbuka akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat.

"IA-CEPA akan menghilangkan hambatan perdagangan. Nantinya, perjanjian ini menetapkan aturan yang menarik investasi yang berkualitas," kata mantan perdana menteri yang menjabat pada 2015-2018 itu.

Lebih lanjut, Turnbull menyatakan IA-CEPA akan membuka pintu yang lebih luas bagi ekspor Indonesia ke Australia. Dia menyarankan pemerintah Indonesia untuk mendorong lebih banyak investasi, baik investasi asing langsung maupun investasi domestik, untuk meningkatkan ekspor.

Selain IA-CEPA, Turnbull membahas Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) antara ASEAN dengan enam negara lainnya yakni Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, India, China dan Jepang.

Sayangnya, menurut Turnbull, ratifikasi perjanjian itu tertunda karena ada beberapa negara, salah satunya India, yang memiliki kecenderungan proteksionisme yang kuat.

"Negosiasi telah berlangsung sejak lama, masalah nyatanya adalah India enggan menyetujui beberapa ketentuan yang tercantum dalam kesepakatan," jelas dia.