sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mantan PM jadi Presiden Aljazair, ribuan warga protes

Ribuan pengunjuk rasa kembali berdemonstrasi pada Jumat (13/12), bersumpah tidak akan menghentikan pemberontakan.

Valerie Dante
Valerie Dante Minggu, 15 Des 2019 02:35 WIB
Mantan PM jadi Presiden Aljazair, ribuan warga protes
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 113134
Dirawat 37598
Meninggal 5302
Sembuh 70237

Mantan Perdana Menteri Abdelmadjid Tebboune terpilih sebagai presiden baru Aljazair dalam pemungutan suara. Pihak berwenang berharap hal itu dapat mengakhiri kekacauan selama berbulan-bulan. 

Namun, ribuan pengunjuk rasa kembali berdemonstrasi pada Jumat (13/12), bersumpah tidak akan menghentikan pemberontakan.

Tebboune menggambarkan dirinya sebagai teknokrat yang telah membuktikan integritasnya dengan dipecat karena berselisih dengan taipan bisnis setelah hanya tiga bulan menjabat di bawah kepemimpinan mantan Presiden Abdelaziz Bouteflika pada 2017.

Pada Jumat, Tebboune menyerukan dialog dengan gerakan oposisi pemerintah. Dalam sebuah konferensi pers, dia mengatakan akan memulai konsultasi untuk membentuk konstitusi baru dalam upaya berdamai dengan pengunjuk rasa.

Namun, pedemo di Ibu Kota Aljir melihat Tebboune sebagai sosok yang terikat pada elite dan didukung militer. Mereka segera menolak kemenangannya di pemilu.

Banyak yang menilai Tebboune akan kesulitan memadamkan pemberontakan yang berhasil menggulingkan pemerintahan dua dekade Bouteflika pada April.

"Negara ini milik kami dan kami akan melakukan apa yang kami inginkan. Kami tidak akan berhenti," teriak para demonstran.

Menurut hasil penghitungan suara resmi, Tebboune memenangkan pilpres dengan meraih lebih dari 50% suara. Hal itu secara efektif menghindari perlunya pemungutan suara putaran kedua.

Sponsored

Militer menilai, satu-satunya cara memajukan Aljazair setelah demonstran menggulingkan Bouteflika adalah untuk memilih seorang penerus. Tetapi pemrotes melihat pilpres tersebut sebagai sebuah penipuan untuk memastikan elite dari rezim penguasa lama tetap berada di tampuk kekuasaan.

"Kami telah menggulingkan Bouteflika dan kami tidak akan berhenti sampai sini," tutur seorang demonstran, Riad Mekersi, yang telah berpartisipasi dalam protes mingguan selama 10 bulan terakhir.

Pengunjuk rasa lainnya, Salim Rahmoun, mengatakan tidak dapat menerima hasil pilpres dari sistem yang korup.

Di sisi lain, pendukung Tebboune memadati pusat konferensi di mana kemenangannya diumumkan, mereka meneriakkan, "Selamat bagi Aljazair".

"Warga Aljazair harus optimis. Para pengunjuk rasa seharusnya tidak menggelar aksi demonstrasi," tutur seorang pendukung Tebboune, Abdelzaziz.

Ribuan pengunjuk rasa berdemonstrasi di sejumlah kota di Aljazair ketika pemungutan suara berlangsung pada Kamis (12/12). Terjadi bentrokan antara pedemo dengan polisi di beberapa tempat, di mana petugas keamanan berupaya membubarkan mereka dengan memukul pengunjuk rasa menggunakan pentung.

Badan Pemilu Aljazair mengatakan sekitar sembilan juta warga mengambil bagian dalam pemungutan suara pada Kamis. Namun, pengunjuk rasa meyakini angka itu keliru, terutama karena tidak ada badan pengamat asing yang memantau proses pilpres.

Kapada Badan Pemilu Aljazair Mohamed Charfi mengatakan, pemungutan suara itu membuka halaman baru untuk mencapai demokrasi yang dituntut masyarakat.
 

Sumber : Reuters

Berita Lainnya