sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Massa propemerintah Iran gelar aksi tandingan

Ini merupakan aksi tandingan terhadap protes antipemerintah yang pecah setelah pengumuman kenaikan harga BBM.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 26 Nov 2019 14:48 WIB
Massa propemerintah Iran gelar aksi tandingan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 271339
Dirawat 61628
Meninggal 10308
Sembuh 199403

Ribuan demonstran propemerintah Iran menggelar aksi di Teheran pada Senin (25/11). Mereka menuduh Amerika Serikat dan Israel menghasut protes yang telah menjadi kerusuhan antipemerintah terburuk di negara sejak 2009.

Amnesty International pada Senin menyatakan setidaknya 143 pengunjuk rasa tewas dalam demonstrasi antipemerintah. Unjuk rasa itu pecah pada 15 November setelah pengumuman kenaikan harga BBM.

Pemerintah menyalahkan AS, Israel dan Arab Saudi sebagai pihak-pihak yang mengobarkan kerusuhan di Iran.

Komandan Tertinggi Pengawal Revolusi Iran (IRGC) Hossein Salami memperingatkan Washington dan sekutu-sekutu regionalnya untuk tidak memaksa Teheran melakukan pembalasan.

"Kami telah menunjukkan pengekangan ... Tapi kami akan menghancurkan musuh-musuh kami, AS, Israel dan Arab Saudi, jika mereka melewati batas," tutur Salami.

Stasiun televisi Iran memperlihatkan tayangan dari massa propemerintah yang meneriakkan, "Death to America" dan "Death to Israel". Ribuan orang dan para pejabat Iran mempromosikan pawai yang disponsori negara sejak Minggu (24/11), sebagai upaya memperlihatkan solidaritas masyarakat dengan pemerintah.

"Saya meminta negara-negara asing untuk melihat pawai hari ini, untuk melihat siapa sebenarnya masyarakat Iran dan apa yang ingin mereka sampaikan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi.

Kerusuhan di Iran terjadi ketika sanksi baru AS yang diberlakukan tahun ini telah memotong hampir seluruh ekspor minyak Iran.

Sponsored

Amnesty International mengatakan penggunaan kekuatan mematikan terhadap pengunjuk rasa di Iran harus dikecam oleh dunia. Mereka menyebut, rekaman video yang diverifikasi menunjukkan pasukan keamanan sengaja menembak demonstran yang tidak bersenjata dari jarak dekat.

"Dalam beberapa kasus, pengunjuk rasa ditembak ketika mereka melarikan diri dan secara jelas tidak menimbulkan ancaman bagi pasukan keamanan. Video lainnya menunjukkan pasukan keamanan melepas tembakan ke arah pengunjuk rasa dari atap kantor-kantor pemerintah," kata kelompok itu dalam pernyataannya.

Demonstrasi yang awalnya menentang kenaikan harga BBM dengan cepat berubah menjadi gerakan politik. Pengunjuk rasa menyerukan agar para pejabat tinggi mundur sambil meneriakkan, "Death to the dictator".

Unjuk rasa masih berlanjut?

Otoritas negara memperingatkan perusuh akan dijatuhkan hukuman berat jika kekerasan di Iran berlanjut. Akhir pekan lalu, mereka mengklaim bahwa kerusuhan telah padam.

Berbeda dengan klaim pemerintah, sejumlah rekaman video, yang beredar di media sosial setelah pembatasan akses internet dicabut, memperlihatkan bahwa protes sporadis terus terjadi di sejumlah wilayah.

Washington berpihak pada pengunjuk rasa antipemerintah. Di sisi lain, Prancis dan Jerman menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan banyaknya orang yang tewas selama protes.

Iran membantah angka kematian yang dirilis oleh Amnesty International. Pemerintah mengatakan, sejumlah anggota pasukan keamanan telah terbunuh dan lebih dari 1.000 orang ditangkap. Centre for Human Rights menyebut jumlah demonstran yang ditahan mencapai 4.000 orang.

"Sepupu saya ditangkap. Kami tidak tahu di mana dia berada dan apakah dia masih hidup atau tidak," kata seorang pemrotes di Teheran.

Berita Lainnya
×
img