sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mayoritas pemilih Rusia dukung reformasi konstitusi

Komisi Pemilihan Umum Rusia (KPU) mengatakan, total 77% pemilih mendukung reformasi konstitusi tersebut.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 02 Jul 2020 13:00 WIB
Mayoritas pemilih Rusia dukung reformasi konstitusi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 365.240
Dirawat 64.032
Meninggal 12.617
Sembuh 289.243

Pemungutan suara Rusia terkait perubahan konstitusi berakhir pada Rabu (1/6), hasil awal menunjukkan pemilih sangat mendukung amendemen tersebut, yang akan memungkinkan Presiden Vladimir Putin memperpanjang kekuasaannya hingga 2036.

Komisi Pemilihan Umum Rusia (KPU) mengatakan, total 77% pemilih mendukung reformasi konstitusi tersebut.

Pemungutan suara awalnya direncanakan berlangsung pada 22 April, tetapi harus ditunda akibat merebaknya coronavirus jenis baru di dalam negeri. Setelah menilai bahwa tingkat infeksi mulai stabil, Putin meminta pemungutan suara digelar pada Juni.

Untuk pertama kalinya, warga Rusia diberikan waktu tujuh hari untuk memberikan suara mereka. Kerangka waktu seminggu itu diterapkan untuk meningkatkan jumlah pemilih.

Referendum konstitusi tersebut bertanya kepada para pemilih apakah mereka setuju atau tidak dengan perubahan konstitusi negara yang mencakup mekanisme kritis yang memungkinkan Putin, yang masa jabatannya berakhir pada 2024, kembali mencalonkan diri sebagai presiden.

Amendemen konstitusi juga mencakup jaminan minimum pensiun, larangan pernikahan sesama jenis, dimasukkannya "kepercayaan pada Tuhan" sebagai nilai inti, dan memprioritaskan hukum Rusia di atas norma-norma internasional.

Walaupun Parlemen Rusia telah menyetujui reformasi tersebut, Putin tetap melakukan pemungutan suara dengan harapan mendapat dukungan publik untuk melakukan perubahan.

Oposisi berupaya melancarkan kampanye melawan referendum Putin. Politikus oposisi, Alexei Navalny, menilai Putin berusaha menjadikan dirinya "presiden seumur hidup".

Sponsored

Navalny dan sejumlah kritikus Kremlin lainnya mengatakan pemilihan tersebut tidak adil. Mereka yakin reformasi konstitusi hanya bertujuan agar Putin dapat memperluas cengkeramannya pada kekuasaan.

Ketika hasil awal pemilihan diumumkan pada Rabu malam, Navalny mengkritiknya. Dia menyebut, hasil tersebut tidak mencerminkan kenyataan di Rusia.

"Hasil yang baru saja diumumkan itu palsu dan bohong besar. Mereka tidak mencerminkan pendapat warga Rusia," kata Navalny. (Deustche Welle).

Berita Lainnya