sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Media China desak demonstran Hong Kong ditindak lebih keras

Surat kabar China Daily mengkritik apa yang mereka sebut sebagai serangan nakal oleh para demonstran yang naif.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 04 Nov 2019 10:52 WIB
Media China desak demonstran Hong Kong ditindak lebih keras

Media pemerintah China pada Senin (4/11), mendesak pihak berwenang untuk mengambil tindakan yang lebih keras terhadap para pengunjuk rasa di Hong Kong yang merusak kantor berita Xinhua dan sejumlah bangunan lainnya selama demonstrasi akhir pekan. Kekerasan, disebut telah merusak aturan hukum kota itu.

Lewat editorialnya, surat kabar China Daily mengkritik apa yang mereka sebut sebagai serangan nakal oleh para demonstran yang naif.

"Mereka ditakdirkan untuk gagal karena kekerasan mereka akan berhadapan dengan hukuman yang berat," tulis China Daily.

Tabloid Global Times turut mengutuk pada demonstran yang menargetkan Xinhua dan menyerukan aksi oleh lembaga-lembaga penegak hukum Hong Kong.

"Karena citra simbolis Xinhua, perusakan kantor cabang tidak hanya merupakan provokasi terhadap aturan hukum di Hong Kong, tetapi juga kepada pemerintah pusat dan China daratan, yang merupakan tujuan utama para perusuh," tulis Global Times.

Polisi menembakkan gas air mata ke para pengunjuk rasa berpakaian hitam pada Sabtu (2/11) di tengah kekerasan terburuk di pusat keuangan Asia itu dalam beberapa bulan terakhir. Stasiun metro dibakar dan aksi vandalisme menargetkan sejumlah gedung, termasuk sebuah kedai kopi Starbucks.

Pada Jumat (1/11), setelah pertemuan para pemimpin senior Partai Komunis, seorang pejabat menegaskan bahwa Beijing tidak akan menoleransi separatisme atau ancaman terhadap keamanan nasional di Hong Kong.

Protes di Hong Kong yang telah berlangsung lima bulan merupakan salah satu tantangan besar bagi pemerintahan Presiden Xi Jinping sejak dia mengambil alih kepemimpinan China pada akhir 2012.

Sponsored

Pada awalnya para pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan untuk menentang RUU ekstradisi yang memungkinkan para tersangka di kota itu menjalani sistem peradilan di China daratan. Kini, protes telah berkembang menjadi pemberontakan yang lebih luas terhadap cara Beijing mengelola Hong Kong.

Hong Kong dikembalikan oleh Inggris ke China pada 1997. Kota itu dikelola di bawah asas "Satu Negara, Dua Sistem".

Serangan pisau

Sementara itu, lima orang dilaporkan terluka dalam serangan pisau pada Minggu (3/11) di lokasi protes prodemokrasi di pusat perbelanjaan Cityplaza, Distrik Tai Koo. Otoritas rumah sakit setempat mengungkapkan bahwa empat pria dan satu wanita terluka. Dua di antaranya dalam kondisi kritis.

Salah seorang yang terluka adalah seorang anggota dewan lokal Andrew Chiu Ka-yin. Telinganya digigit oleh seorang penyerang, yang identitasnya belum diketahui.

Para saksi mata mengatakan, penyerang menghunus pisau setelah berdebat dengan sejumlah orang di mal.

Andrew dilaporkan berusaha mencegah penyerang meninggalkan mal sebelum akhirnya pria itu menggigit telinganya. Saksi mata menuturkan, penyerang kemudian digebuki habis-habisan oleh massa hingga polisi datang.

Salah satu korban, seorang wanita, menjelaskan kepada South China Morning Post bahwa tersangka mengeluarkan pisau setelah terlibat perdebatan dengan saudara perempuannya dan suaminya.

Menurut Hong Kong Free Press, penyerang adalah pendukung pro-Beijing.

Tanpa akhir yang terlihat, para pemimpin China pekan lalu dinilai mengisyaratkan bahwa mereka tengah bersiap untuk mengubah cara mengelola Hong Kong. (Reuters dan BBC)