sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menlu Retno jelaskan program RI saat menjabat Presidensi G20

Indonesia akan memberikan perhatian besar kepada negara berkembang di Asia, Arika, Amerika Latin.

Sita Aisha Ananda
Sita Aisha Ananda Selasa, 14 Sep 2021 21:45 WIB
Menlu Retno jelaskan program RI saat menjabat Presidensi G20

Indonesia akan memegang Presidensi G20 dengan tema “Recover Together, Recover Stronger” mulai 1 Desember 2021 sampai 30 November 2022. Ini merupakan pertama kalinya Indonesia mendapatkan kepercayaan memegang Presidensi G20 sejak G20 didirikan. Serah terima dilakukan pada saat KTT G20 di Roma pada 30-31 Oktober pada 2021. Presidensi G20 Indonesia akan mengambil tema “Recover Together, Recover Stronger”.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memperkirakan, dunia belum akan sepenuhnya keluar sepenuhnya dari pandemi Covid-19. Dari aspek kesehatan, WHO menyampaikan harapan bahwa di akhir 2021, negara dunia dapat melakukan vaksinasi 40% dari populasi, dan 70% pertengahan 2022.

Pada aspek ekonomi, data dari IMF tahun lalu 2020 turun hingga -3,2% tahun ini tren positif pertumbuhan 6% dan diharapkan akan berlanjut pada 2022. Meskipun begitu, masih ada kerentanan dan kekhawatiran bahwa pertumbuhan tersebut belum akan merata.

Dari sisi geopolitik, rivalitas masih akan berlanjut, melihat trust decifit yang masih menonjol.

"Dengan latar belakang situasi dunia tadi, maka selama masa Presidensi Indonesia spirit utama yang ingin dicapai adalah pulih bersama. Untuk mencapai itu dibutuhkan spirit solidaritas, kerja sama, kolaborasi, kemitraan, dan inklusivitas. Inklusivitas menjadi kata kunci dari G20," kata dia dalam keterangan secara daring, Selasa (14/9).

Pada masa Presidensi Indonesia, Marsudi mengatakan, pemerintah tidak hanya memperhatikan kepentingan anggota G20 saja, tetapi juga negara berkembang dan kelompok rentan. Hal ini merupakan DNA politik luar negeri Indonesia. 

Jika dilihat bebarapa tahun kebelakang saat Indonesia menjadi anggota dewan keamanan PBB, Indonesia menjadi bagian dari solusi, menjembatani perbedaan dan menyuarakan kepentingan negara berkembang. Hal tersebut akan dilanjutkan saat Indonesia memegang Presidensi G20.

“Indonesia akan memberikan perhatian besar kepada negara berkembang di Asia, Arika, Amerika Latin, dan negara kepulauan kecil di pasifik dan Karibian. Selain itu, pemerintah juga akan akan merangkul berbagai keterlibatan perempuan, pemuda, akademisi, dan dunia usaha dan parlemen,” ujar Retno Marsudi.

Sponsored

Selain kesehatan dan pandemi serta pembangunan berkelanjutan, perhatian besar juga akan diberikan ke UMKM dan ekonomi digital yang sukses menjadi penggerak ekonomi selama pandemi. 

Marsudi juga menjelaskan, pemerintah ingin mendorong pengakuan atas peran penting dan pemberdayaan tenaga kerja difabilitas dalam dunia kerja. Adapula forum bisnis dan kemitraan di sektor sustainable infratructure dan investasi kesehatan. Sektor-sektor tersebut perlu diperhatikan untuk mencapai pemulihan pertumbuhan ketahanan bersama.

“Mengenai sistem kerja di G20. Terdapat dua pilar, yaitu finance track dan sherpa track. Finance track akan lebih memperhatikan mengenai isu keuangan dan moneter. Sementara isu di luar keuangan akan dikelola di sherpa track yang akan digawangi oleh Menko Perekonomian dan Menteri Luar Negeri," jelas dia. 

Selama masa Presidensi Indonesia, akan dilakukan 12 pertemuan pada tingkat menetri. Pertemuan tersebut mencakup Menteri Luar Negeri, development, digital ekonomi, health, environment and climate, energy, employment, trade industry and investment, tourism, agriculture, education, dan special ministerial meeting on women empowerment.

Selain pertemuan pada tingkat G to G, yang akan mengerucut pada penyelenggaraan KTT yang akan diselenggarakan pada Oktober, akan ada pertemuan yang sifatnya diluar kepemerintahan. Pertemuan tersebut dinamakan engagement group. Akan terdapat 10 engagement group, yaitu bisnis, masyarakat sipil, serikat buruh, ilmuwan, lembaga think tank, perkotaan, wanita, pemuda, parlemen (aktifkan kembali), dan lembaga ordit tertinggi yang merupakan inisiatif baru Indonesia. Pertemuan akan dilakukan dengan mengikuti standart protocol kesehatan.

Berita Lainnya