Dunia / Prancis

Miliarder Prancis beli alat penggal kepala Rp 134 juta

Pengusaha Prancis Christophe Février menggandakan harga lelang awal 3.535 poundsterling.

Miliarder Prancis beli alat penggal kepala Rp 134 juta Alat penggal di Prancis yang digunakan untuk eksekusi mati./Wikipedia

Alat penggal kepala atau guillotine yang pernah digunakan untuk eksekusi mati di Prancis dijual senilai 7.080 poundsterling atau Rp 134 juta. Itu terjadi pada sebuah lelang kontroversial di Paris, Prancis.

Guillotine yang berusia 150 tahun itu dulunya digunakan sebagai alat eksekusi mati. Itu terjual pada Rabu waktu setempat (11/7) dan dibeli oleh seorang miliarder Prancis. Anehnya, rumah lelang menyatakan kalau alat setinggi tiga meter itu belum pernah digunakan.

Faktanya, guillotine itu terakhir digunakan pada 1977. Adapun Prancis menghapus hukuman mati pada 1981.

Sebelumnya, alat penggal kepala itu pernah dipajang di museum penyiksaan di Paris. Tetapi, museum itu mengalami kebangkrutan sehingga banyak barang berharga dijual ke publik.

Penjualan guillotine itu ternyata memicu kontroversi. Kenapa? Banyak pihak yang tidak setuju karena alat penggal itu terlalu bahaya jika dijual ke publik.

"Mereka (rumah lelang) seharusnya tidak menjual guillotine," kata juru bicara regulator lelang Prancis kepada harian Parisien dilansir BBC pada Kamis (12/7).

"Benda seperti pakaian orang yang dideportasi ke kamp kematian Nazi dan instrumen penyiksaan adalah hal yang sensitif," ujarnya.

Lelang tersebut tidak bisa dihentikan karena hanya berlangsung selama dua menit. Pengusaha Prancis Christophe Février menggandakan harga lelang awal 3.535 poundsterling.

Lelang guillotine bukan pertama kalinya dilaksanakan. Sebelumnya lelang alat pemenggalan kepala itu juga dilakukan sebelumnya. Satu guillotine pernah terjual 220.000 euro (Rp 3,6 miliar) di Paris pada 2011.

Lelang lainnya pernah dilakukan di Nantes pada 2014 dengan harga awal 40.000 euro (Rp 671 juta), tetapi gagal dijual.

Guillotine pertama kali digunakan selama Revolusi Prancis. Sebanyak 16.000 orang pernah dipenggal pada 1794 hingga 1973. Alat eksekusi itu paling sering digunakan oleh Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette.