logo alinea.id logo alinea.id

Minta suaka, wanita Arab Saudi diizinkan masuk ke Thailand

Rahaf Mohammed al-Qunun (18) menolak dipulangkan ke keluarganya karena khawatir dirinya akan dibunuh.

Khairisa Ferida | Valerie Dante Selasa, 08 Jan 2019 15:41 WIB
Minta suaka, wanita Arab Saudi diizinkan masuk ke Thailand

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) pada Selasa (8/1) mengatakan, pihaknya tengah menyelidiki kasus seorang wanita Arab Saudi bernama Rahaf Mohammed al-Qunun (18) yang melarikan diri dari keluarganya ke Thailand. 

"Mungkin perlu beberapa hari untuk memproses kasus ini dan menentukan langkah selanjutnya," tutur perwakilan UNHCR Thailand Giuseppe de Vincentiis. "Kami sangat berterima kasih bahwa pihak berwenang Thailand tidak mengirim dia kembali di luar kehendaknya dan memperluas perlindungan terhadapnya."

Yang bersangkutan menolak dideportasi karena khawatir keluarganya akan membunuhnya setelah dia memutuskan berpindah keyakinan.

Rahaf sempat membarikade dirinya di sebuah kamar hotel yang terletak di area transit Bandara Internasional Suvarnabhumi demi mencegah dipulangkan. 

Pada Senin (7/1) malam, Rahaf diizinkan oleh Thailand untuk memasuki negara itu setelah 48 jam terdampar di bandara.

Kepala polisi imigrasi Thailand Surachet Hakpal awalnya mengabarkan bahwa Rahaf dijadwalkan untuk dideportasi pada Senin. Beberapa jam kemudian, Surachet mengubah pernyatannya dengan menyebutkan Rahaf akan keluar dari bandara dan dilindungi UNHCR.

"Dia sekarang berada di bawah kedaulatan Thailand. Tidak satu orang atau kedutaan mana pun dapat memaksanya pergi. Kami akan melindunginya sebaik mungkin," terang Hakpal. "Kami akan bicara dengannya dan mengikuti permintaannya. Dia kabur dari kesulitan untuk mencari bantuan kami ... Kami adalah 'Land of Smiles', kami tidak akan mengirimkan siapa pun ke kematian mereka. Kami akan mematuhi prinsip-prinsip HAM di bawah supremasi hukum."

Sponsored

Thailand bukanlah tujuan akhir Rahaf, melainkan Australia yang diharapkannya akan memberikannya suaka.

Legislator dan aktivis di Australia dan Inggris mendesak pemerintah mereka untuk memberikan suaka kepada Rahaf.

Kasus Rahaf telah menarik perhatian global atas aturan Arab Saudi yang ketat, termasuk sistem perwalian. 

Arab Saudi memiliki sistem perwalian yang mengatur banyak aspek kehidupan perempuan. Kaum wanita tidak dapat menikah, bercerai, mendapatkan pekerjaan, menjalani operasi tertentu, atau bepergian tanpa izin wali pria mereka. 

Menurut kelompok advokasi HAM, sistem perwalian ini dapat menjebak perempuan dan anak-anak perempuan sebagai 'tahanan' keluarga.

Kabar Rahaf mengemuka pada saat Riyadh tengah menghadapi sorotan luar biasa dari sekutu Barat-nya atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018 dan konsekuensi kemanusiaan dari keterlibatan mereka dalam Perang Yaman.

Di Australia, Senator Sarah Hanson-Young meminta pemerintahnya untuk mengeluarkan dokumen perjalanan darurat bagi Rahaf sehingga memungkinkan bagi perempuan itu untuk terbang ke Australia mencari suaka.

Sementara itu, pemerintah Australia melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan menekankan bahwa pihaknya tengah memantau kasus ini dengan menyoroti bahwa klaim yang diungkapkan Rahaf bahwa dia mungkin dirugikan jika dideportasi sangat memprihatinkan.

Di Inggris, seorang wanita meluncurkan petisi online yang menyerukan Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt untuk memberikan suaka kepada Rahaf dan mengeluarkan sebuah dokumen perjalanan darurat untuknya. Dalam beberapa jam, ribuan orang telah menandatangani petisi ini.

Respons Arab Saudi

Dalam pernyataan tertulis yang dikeluarkan pada Senin kemarin, Kedutaan Besar Arab Saudi di Bangkok menjelaskan sejumlah poin. Mereka membantah telah menyita paspor Rahaf.

Menurut Kedubes Arab Saudi, otoritas Thailand menghentikan Rahaf dan memesan sebuah kamar hotel di bandara hingga jadwal keberangkatan pesawat terdekat untuk memulangkannya.

Ada pun Kedubes Arab Saudi berkomunikasi dengan ayah dari gadis itu untuk menjelaskan situasinya dan mengabarkan tanggal kepulangannya.

Kedubes Arab Saudi menyatakan tidak pernah bertemu atau berkomunikasi dengan Rahaf, mereka hanya melakukannya dengan otoritas Thailand.

"Perempuan itu telah melanggar aturan imigrasi dan izin tinggal karena dia tidak memiliki tiket pulang atau hotel yang sudah dipesan," ungkap Kedubes Arab Saudi.

Selain itu, Kedubes Arab Saudi pun menerangkan bahwa mereka tidak punya wewenang untuk menahan paspor Rahaf atau menolaknya memasuki Thailand. (Channel News Asia dan CNN)