logo alinea.id logo alinea.id

Modi diprediksi menang, kaum minoritas India dihantui rasa takut

Enam dari tujuh jajak pendapat yang dirilis pada Minggu memprediksi kemenangan Modi. Rekapitulasi suara akan berakhir pada Kamis malam.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 23 Mei 2019 12:49 WIB
Modi diprediksi menang, kaum minoritas India dihantui rasa takut

India memulai penghitungan lebih dari 600 juta surat suara dalam pemilu pada Kamis (23/5) pukul 08.00 waktu setempat. Pemilu di Negeri Hindustan yang berlangsung dalam tujuh fase berakhir pada Minggu (19/5).

Aliansi Demokratik Nasional (NDA) yang dipimpin oleh partai nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP) diperkirakan akan meraih lebih dari 272 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan. Demikian kesimpulan enam dari tujuh jajak pendapat yang keluar pada Minggu. 

Prediksi margin kemenangan mereka lebih besar dari survei yang dirilis jelang pemilu. Saat itu, sebagian besar jajak pendapat menunjukkan NDA akan unggul, namun gagal memenuhi syarat untuk membentuk pemerintahan.

Rekapitulasi suara akan jatuh tempo pada Kamis malam.

Kemenangan aliansi NDA yang mengusung petahana, Perdana Menteri Narendra Modi, memicu kekhawatiran bagi kaum minoritas.

Sahila Khan, tertunduk sedih mengenang sang ayah, Rakbar, seorang petani muslim yang digantung oleh sekelompok pria Hindu di negara bagian Rajasthan.

"Ini bahkan belum satu tahun. Tapi saya benar-benar merindukannya," tutur Sahila. 

Rakbar tewas pada Juli tahun lalu dan meninggalkan tujuh orang anak, termasuk Sahila yang masih berusia 14 tahun. 

Sponsored

Menurut pihak keluarga, Rakbar dan seorang temannya tengah berjalan bersama dua sapi yang baru dibeli di Alwar, menuju rumah mereka di seberang perbatasan di Haryana ketika mereka diserang oleh sekelompok pria Hindu.

Apa yang menimpa Rakbar bukan isu baru. Human Rights Watch (HRW) mengungkapkan, kelompok Hindu yang main hakim sendiri telah membunuh puluhan orang dalam beberapa tahun terakhir, banyak dari korban adalah muslim. Mereka dituduh menyembelih atau menyelundupkan sapi, binatang yang dianggap suci oleh umat Hindu.

Padahal dalam kasus Rakbar, polisi mengatakan bahwa saat kejadian, korban membawa sapi ternak untuk susu ke desa mereka.  

Di India, banyak petani kesulitan bertani menyusul krisis agraria yang dipicu oleh menipisnya permukaan air, kekeringan, meningkatnya utang serta turunnya upah. Bunuh diri di kalangan petani telah menjadi isu nasional.

Menurut data pemerintah yang dikumpulkan oleh LSM Down to Earth yang berbasis di Mumbai, sejak 1995 terdapat 200.000 kasus petani bunuh diri. Pada 2015 saja, angkanya mencapai 12.602 kasus.

Alternatif paling memungkinkan bagi mereka adalah menghasilkan uang dari beternak sapi perah, pekerjaan yang semakin mematikan dalam lima tahun terakhir.

Serangan seperti itu dikabarkan memicu ketakutan tentang penyebaran nasionalisme Hindu radikal sejak PM Modi dan BJP berkuasa pada 2014.

Para kritikus menilai, pemerintahan nasionalis Hindu telah mendorong vigilantisme oleh pendukung garis keras mereka terhadap perdagangan sapi, terutama menyangkut muslim, kaum minoritas di India. Tapi bahkan kelompok-kelompok minoritas di dalam komunitas Hindu sendiri, seperti kasta rendah yang hina disentuh, telah menghadapi kekerasan dari kaum nasionalis garis keras.

"Ada ketakutan. Ada satu insiden, jadi kami khawatir akan ada kejadian lain," kata Suraj Pal, seorang petani di Desa Khan di Kolgaon.

Angka-angka yang dimiliki HRW menunjukkan bahwa setidaknya 44 orang, di mana 36 di antaranya muslim, tewas di 12 negara bagian India pada rentang Mei 2015 dan Desember 2018.

"Serangan itu dipimpin oleh apa yang disebut kelompok perlindungan sapi, banyak yang mengklaim berafiliasi dengan kelompok militan Hindu yang diketahui memiliki hubungan dengan BJP," sebut laporan HRW yang dirilis pada Februari.

Pada Agustus tahun lalu, PM Modi mengutuk aksi main hakim sendiri dan telah meminta negara-negara bagian untuk mencegahnya. "Saya ingin memperjelas bahwa hukuman mati oleh massa tanpa pengadilan adalah kejahatan, apapun motifnya. Tidak ada orang yang bisa, dalam keadaan apapun, main hakim sendiri dan melakukan kekerasan." 

Dalam kesempatan berbeda, Modi menuturkan, "Saya ingin memberi tahu semua orang bahwa jika Anda memiliki persoalan, seranglah saya. Berhentilah menyerang saudara-saudara Dalit saya ... Diskriminasi antar manusia tidak dapat saya terima."

Studi HRW mendapati bahwa UU ternak, yang melarang atau membatasi penyembelihan sapi, dan kekerasan massa telah secara tidak proporsional memengaruhi umat Islam dan golongan Hindu berkasta lebih rendah.   

Penduduk setempat mengiyakan temuan HRW tersebut.

"Insiden-insiden ini, bukan hanya tentang satu tempat atau kasta, ini adalah upaya untuk menodai kemanusiaan. Ini merupakan tugas pemerintah untuk menghentikan kekejaman sosial. Keadilan harus setara bagi semua," ujar Dayal Singh Yadav, seorang pekerja sosial di Rajasthan.

Alwar telah menjadi terkenal dalam tiga tahun terakhir setelah dua petani muslim digantung saat mengangkut sapi. Warga setempat mengatakan bahwa para petani di desa-desa tetangga menolak melangkah ke kota untuk pekerjaan apapun karena khawatir akan diserang.

"Kami tidak bisa mendapatkan sapi setelah insiden-insiden tersebut dan bisnis menurun. Tapi kami tidak punya nyali untuk pergi ke kota dan mendapatkannya," kata Mohammed Arqan, seorang penduduk Desa Khan.

Mengabaikan klaim rasa takut di antara penduduk setempat dan keengganan mereka mengunjungi Alwar, Inderjeet Singh yang merupakan kepala administrasi di Alwar mengatakan, "Tidak ada yang telah menyampaikan kekhawatiran semacam itu secara langsung kepada saya." 

Kehilangan dukungan di utara

PM Modi terpilih dengan mandat besar pada 2014, untuk mengurangi korupsi, menciptakan lapangan kerja dan membangun industri manufaktur yang kuat. Namun, menurut para peneliti di Aziz Premji University, pengangguran dan kemiskinan telah meroket dalam lima tahun terakhir.

Tahun lalu, BJP kalah dalam pemilihan di tiga negara bagian di sabuk Hindu, termasuk Rajasthan.

Modi juga berjanji menjadi pemimpin bagi kasta yang lebih rendah, Dalit. Faktanya, di samping muslim yang merupakan minoritas, komunitas Dalit juga telah mengeluhkan diskriminasi, mengadakan banyak protes dalam beberapa tahun terakhir.

April tahun lalu, ribuan warga Dalit melancarkan protes di seluruh negeri terhadap putusan Mahkamah Agung yang mereka sebut membatasi UU khusus yang melindungi mereka dari diskriminasi.

Protes ini kemudian menjadi petaka bagi Pawan Kumar (25). Pria itu ambil bagian dalam apa yang dimulai sebagai demonstrasi damai di desanya, Khairthal, di Rajasthan. Tidak jelas apa yang terjadi hingga akhirnya Kumar ditembak dua kali di kepala dan kaki. Dia meninggal.

"Jika tidak ada upaya untuk mengubah UU, maka ini tidak akan terjadi," ungkap Deep Mala, saudara perempuan Kumar.

Polisi menangkap 121 orang dari Alwar dan desa-desa tetangganya karena ikut serta dalam protes tersebut. Mereka dijerat atas berbagai tuduhan seperti pembakaran, kerusuhan dan penjarahan. Menurut Ramjeevan Baudh, yang mewakili 37 terdakwa, persoalan semacam ini membuat sistem pengadilan India berjalan lamban.

Rakbar dan Kumar mungkin dibunuh untuk alasan yang berbeda, tetapi kedua keluarga mereka memiliki pandangan yang sama. Mereka tidak memercayai pemerintah Modi untuk mengatasi diskriminasi terhadap kaum minoritas, meski ada jaminan dari pejabat pemerintahan.

Ibu Kumar, Savitri Devi, menilai bahwa India membutuhkan perubahan pemerintahan untuk memperbaiki kerusakan selama lima tahun terakhir. Karenanya, dalam pemilu kali ini dia memilih Partai Kongres pimpinan Rahul Gandhi.

"Kami kehilangan putra kami, kenapa kami harus memilih mereka (BJP)? Kami dukung mereka dalam pemilu 2014 dengan beranggapan bahwa mereka akan bekerja baik. Tapi mereka tidak melakukan apa-apa," imbuhnya.

Kekecewaan Devi adalah keprihatinan yang dianut oleh banyak kaum liberal dan minoritas. (Reuters dan CNN)