sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Murid di Eropa kembali bersekolah di tengah pandemi

Kendati banyak guru dan orang tua khawatir pembukaan kembali sekolah akan mempercepat penyebaran Covid-19.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Rabu, 02 Sep 2020 08:07 WIB
Murid di Eropa kembali bersekolah di tengah pandemi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 377.541
Dirawat 63.576
Meninggal 12.959
Sembuh 301.006

Sejumlah negara di Eropa memutuskan untuk kembali memberlakukan sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid.

Di Prancis siswa kembali ke sekolah pada Selasa (1/9), bersamaan dengan dibukanya kembali sekolah di Eropa, setelah hampir enam bulan tutup karena coronavirus. Sekolah tetap dibuka meskipun tingkat infeksi meningkat di seluruh benua.

Kendati banyak guru dan orang tua khawatir pembukaan kembali sekolah akan mempercepat penyebaran Covid-19, tetapi pemerintah bersikeras membuka sekolah. Guru dan murid berusia antara 11 dan 18 tahun akan diwajibkan memakai masker, baik di dalam maupun di luar ruangan.

Murid-murid di Belgia juga akan kembali ke sekolah pada hari Selasa (1/9), sedangkan murid-murid di Jerman telah kembali masuk sekolah pada bulan lalu.

Masker juga akan menjadi wajib di Yunani, di mana anak-anak diharapkan kembali ke sekolah Senin depan dengan maksimal 25 anak per kelas.

Murid-murid di Inggris dan Wales telah kembali ke sekolah pada pekan ini. Awalnya pemerintah mengatakan masker di sekolah tidak diperlukan, tetapi membatalkan kebijakannya Rabu lalu.

Panduan baru menyarankan siswa sekolah menengah berusia 11 hingga 18 tahun dan staf sekolah untuk mengenakan penutup wajah di koridor dan area komunal.

Sementara pemerintah Spanyol telah mendesak semua anak di atas usia enam tahun memakai masker setiap saat dan mencuci tangan setidaknya lima kali sehari. Anak-anak harus menjaga jarak 1,5 meter dari satu sama lain, dan pemerintah daerah telah mempekerjakan guru tambahan untuk mengurangi ukuran kelas.

Sponsored

Namun, banyak guru dan orang tua di Spanyol merasa langkah-langkah tersebut tidak cukup. Orang tua khawatir anak-anak tidak dapat menerapkannya dengan benar.

Mercedes Sardina, perwakilan guru di Fuenlabrada di pinggiran selatan Madrid, meragukan pemerintah daerah akan dapat mempekerjakan semua guru yang telah dijanjikan. Dia menyamakannya dengan mencoba menggelar pernikahan dalam tiga hari. "Ketika anda belum melakukan apa-apa. Anda bahkan belum membeli gaun," kata dia.

Di Prancis, guru Sophie Venetitay dari persatuan kepala sekolah SMA berkata, telah melewatkan aturan yang jelas tentang segala sesuatu yang terjadi di luar ruang kelas. "Misalnya, di perpustakaan, dapatkah kita membiarkan murid meminjam buku yang baru saja dikembalikan?" lanjutnya.

Di saat bersamaan orang tua yang cemas mengatakan ingin menghindari lockdown lagi. "Masa kurungan itu mengerikan, kami tidak akan menjalaninya lagi, itu tidak mungkin," kata Florence, seorang ibu berusia 42 tahun dari tiga anak berusia antara 5 dan 13 tahun yang tinggal di kota Nice, Prancis Selatan.

Sumber : The Straits Times

Berita Lainnya