sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

NATO dan militer Afghanistan tewaskan 717 warga sipil pada 2019

Dalam enam bulan pertama 2019, 403 warga sipil tewas oleh pasukan Afghanistan dan 314 tewas oleh pasukan NATO.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 30 Jul 2019 18:00 WIB
NATO dan militer Afghanistan tewaskan 717 warga sipil pada 2019
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2491
Dirawat 2090
Meninggal 209
Sembuh 192

Laporan terbaru PBB menyatakan bahwa pada paruh pertama 2019, lebih banyak warga sipil Afghanistan yang terbunuh oleh militer nasional dan pasukan koalisi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dibandingkan oleh Taliban atau gerilyawan lainnya.

Sebagian besar korban sipil tewas akibat operasi pasukan Afghanistan dan NATO yang bertujuan untuk memberantas gerilyawan. Operasi tersebut termasuk serangan udara dan penyergapan tempat persembunyian para militan. Di Afghanistan, militan kerap bersembunyi di antara warga sipil.

Laporan misi PBB di Afghanistan mengatakan, dalam enam bulan pertama 2019, 403 warga sipil tewas oleh pasukan Afghanistan dan 314 tewas oleh pasukan NATO. Pada periode yang sama, 531 tewas akibat serangan Taliban.

Sejak lebih dari satu dekade lalu, ini adalah pertama kalinya pasukan pro-pemerintah menjadi penyebab utama sebagian besar kematian warga sipil di Afghanistan.

Taliban telah menolak seruan gencatan senjata. Hingga kini, mereka mengadakan pembicaraan dengan AS dengan tujuan mencari solusi dan mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama 18 tahun tersebut. Sementara itu, afiliasi ISIS telah meluncurkan serangan yang menargetkan pasukan keamanan dan juga minoritas penganut syiah di Afghanistan.

Pemerintah Kabul, militer Afghanistan maupun pasukan koalisi NATO belum menanggapi laporan PBB tersebut.

AS secara resmi mengakhiri misi tempurnya di Afghanistan pada 2014, tetapi hingga kini Washington masih memberikan bentuk dukungan lain kepada militer negara itu.

"Para pihak yang terlibat konflik di Afghanistan dapat memberikan penjelasan yang berbeda untuk menanggapi temuan terbaru PBB ini. Masing-masing penjelasan mereka dirancang untuk menjustifikasi taktik militer mereka masing-masing," kata Richard Bennett, kepala urusan hak asasi manusia dari misi PBB di Afghanistan.

Sponsored

Dia mengatakan, untuk memperbaiki situasi bagi rakyat Afghanistan, para pihak yang terlibat konflik tidak hanya perlu mematuhi hukum humaniter internasional, tetapi juga harus mengurangi intensitas pertempuran.

Laporan PBB itu mengatakan jumlah kematian warga sipil turun hingga seperempat dari Januari hingga Juni 2019 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018. Kematian warga sipil akibat serangan militan turun sebesar 43%.

PBB menjelaskan, sebagian korban tewas akibat pertempuran di darat dan sisanya tewas karena terkena bom yang ditanam di pinggir jalan.

Sementara itu, belum ada klaim tanggung jawab atas serangan pada Minggu (28/7) malam waktu setempat yang menargetkan kantor tim sukses calon presiden Afghanistan.

Setidaknya 20 orang tewas dan 50 lainnya terluka akibat bom bunuh diri dan baku tembak di kantor yang terletak di Ibu Kota Afghanistan, Kabul, itu.

Amrullah Saleh, calon wakil presiden yang akan mendampingi Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, mengalami luka ringan akibat insiden tersebut. Saleh dikenal karena pendiriannya yang anti-Taliban.

Sumber : The Guardian

Opsi lockdown yang diabaikan Jokowi...

Opsi lockdown yang diabaikan Jokowi...

Senin, 06 Apr 2020 06:02 WIB
Menagih janji keringanan cicilan utang

Menagih janji keringanan cicilan utang

Senin, 06 Apr 2020 05:43 WIB
Berita Lainnya