logo alinea.id logo alinea.id

Operasional metro Hong Kong kembali normal, demo terus berlanjut

Sejumlah stasiun metro Hong Kong sempat ditutup menyusul vandalisme oleh pengunjuk rasa anti-pemerintah.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 11 Okt 2019 10:34 WIB
Operasional metro Hong Kong kembali normal, demo terus berlanjut

Operator metro Hong Kong membuka seluruh stasiun pada Jumat (11/10) untuk pertama kalinya dalam sepekan. Sementara itu, unjuk rasa anti-pemerintah akan kembali digelar sepanjang akhir pekan.

MTR Corp, yang jaringannya mengangkut sekitar lima juta penumpang per hari, menuturkan bahwa operasional akan tutup pada pukul 22.00 atau dua jam lebih awal dari biasanya. Itu demi memungkinkan dilakukannya lebih banyak perbaikan setelah vandalisme para pengunjuk rasa yang menargetkan stasiun-stasiun kereta di seluruh kota.

Pengunjuk rasa menargetkan MTR karena menyalahkan perusahaan itu atas penutupan sejumlah stasiun sehingga menyulitkan pergerakan mereka. Sejumlah stasiun metro ditutup sejak Jumat lalu.

Toko dan bisnis pun mau tidak mau harus tutup lebih awal mengikuti jam operasi kereta, fenomena lebih lanjut yang mendorong ekonomi Hong Kong kian dekat dengan resesi pertama dalam satu dekade terakhir. 

Badan legislatif Hong Kong dilaporkan memulai sidang pertamanya sejak pengunjuk rasa menyerbu gedung itu pada Juli.

Para anggota parlemen yang pro-kemapanan dan demokrat saling berteriak sebelum sidang dimulai, meningkatkan ketegangan setelah protes disertai kekerasan yang sudah berlangsung lebih dari empat bulan di kota itu.

Sejumlah anggota parlemen mengenakan topeng hitam, sementara beberapa lainnya membawa plakat bertuliskan, "Kebrutalan polisi masih ada, bagaimana kita bisa menggelar pertemuan?".

Pemakaian penutup wajah dilarang di bawah UU darurat era kolonial yang diterapkan pemimpin Hong Kong Carrie Lam sepekan lalu. Di lain sisi, larangan memakai masker juga melahirkan kerusuhan baru.

Sponsored

Pemerintah Hong Kong pada Kamis telah menekankan mereka tidak akan mengambil tindakan lebih lanjut untuk melarang protes. Mereka juga menolak desas-desus yang menyebutkan bahwa pasukan keamanan China daratan terlibat dalam menangani unjuk rasa.

"Kami tidak memiliki niat lanjut, terutama dalam konteks kebijakan, menyusun langkah-langkah baru untuk melarang protes ... Kami tidak pernah melarangnya, kami hanya melarang kekerasan. Protes itu legal jika sesuatu aturan dan berlangsung damai," kata Kepala Sekretaris Administrasi Hong Kong Matthew Cheung.

Protes telah menjerumuskan Hong Kong, pusat keuangan Asia, ke dalam krisis terburuknya sejak pengembaliannya dari Inggris ke China pada 1997. Itu juga merupakan salah satu tantangan terbesar bagi Presiden Xi Jinping sejak dia berkuasa pada 2012.

Demonstrasi dipicu oleh penentangan terhadap RUU ekstradisi yang akan membuat para tersangka dapat diadili di China daratan, di mana independensi dan kredibilitas pengadilan menjadi sorotan. Belakangan, ketika RUU resmi ditarik, protes tidak berhenti karena terlanjur berkembang dengan tuntutan yang lebih luas: reformasi demokrasi.

Terdapat kekhawatiran yang meluas bahwa China mengikis kebebasan Hong Kong yang dijamin di bawah formula "Satu Negara, Dua Sistem". Beijing menyangkal hal itu dan menyalahkan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, yang mereka sebut mengipasi kerusuhan. 

Sumber : Reuters