logo alinea.id logo alinea.id

Opsi militer AS atas Iran libatkan 120 ribu pasukan

Jumlah pasukan yang disebut dalam rencana militer terhadap Iran, yakni 120.000 tentara, mendekati ukuran pasukan AS saat menginvasi Irak.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 14 Mei 2019 13:36 WIB
Opsi militer AS atas Iran libatkan 120 ribu pasukan

Dalam pertemuan pejabat tinggi keamanan nasional Amerika Serikat Kamis lalu, penjabat Menteri Pertahanan Patrick Shanahan menyampaikan rencana militer terbaru yang membayangkan pengiriman 120.000 tentara ke Timur Tengah seandainya Iran menyerang pasukan AS atau mempercepat progres pada senjata nuklirnya. Demikian laporan The New York Times mengutip pejabat pemerintah yang tidak disebutkan namanya.

Jumlah pasukan yang disebut dalam rencana militer terhadap Iran, yakni 120.000 tentara, mendekati ukuran pasukan AS saat menginvasi Irak pada 2003.

Di antara mereka yang menghadiri pertemuan pada Kamis lalu adalah Shanahan, penasihat keamanan nasional John Bolton, Panglima Angkata Bersenjata AS Joseph Dunford, Direktur CIA Gina Haspel, dan Direktur Intelijen Nasional Dan Coats.

Namun, oleh kelompok garis keras yang dipimpin oleh Bolton rencana tersebut diminta untuk direvisi. Mereka tidak setuju melakukan invasi darat ke Iran, yang akan membutuhkan lebih banyak pasukan.

Gedung Putih dan Pentagon belum berkomentar atas laporan tersebut.

Perkembangan itu dinilai mencerminkan pengaruh Bolton, yang desakannya untuk berkonfrontasi dengan Iran diabaikan lebih dari satu dekade lalu oleh Presiden George W. Bush.

Sangat tidak pasti apakah Trump, yang telah berusaha membebaskan AS dari kekusutan konflik Afghanistan dan Suriah, akhirnya akan kembali mengirim begitu banyak pasukan AS ke Timur Tengah.

Juga tidak jelas apakah Trump telah diberitahu tentang jumlah pasukan atau rincian lainnya terkait rencana tersebut.

Sponsored

Yang pasti, ketika pada Senin (13/5) ditanya apakah dirinya mengincar perubahan rezim di Iran, Trump mengatakan, "Kita akan lihat apa yang terjadi dengan Iran. Jika mereka melakukan sesuatu, itu akan menjadi kesalahan yang sangat buruk."

Disebutkan, ada perpecahan tajam di dalam pemerintahan AS soal bagaimana menangani Iran.

Beberapa pejabat senior AS menuturkan bahwa rencana militer tersebut, bahkan pada tahap yang sangat awal, menunjukkan betapa berbahayanya ancaman dari Iran.

Sebagian lainnya, yang mendesak resolusi diplomatik sebagai solusi meredakan ketegangan, mengatakan bahwa rencana tersebut sama dengan taktik menakut-nakuti untuk memperingatkan Iran soal agresi baru.

Sejumlah menlu Eropa yang bertemu dengan Menlu AS Mike Pompeo pada Senin mengungkapkan, mereka khawatir bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran akan meningkat mungkin secara tidak sengaja.

"Kami sangat khawatir tentang risiko konflik yang terjadi secara tidak sengaja, dengan eskalasi yang benar-benar tidak diinginkan di kedua sisi," kata Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt.

Di tengah ketegangan antara AS dan Iran, muncul laporan soal dugaan sabotase beberapa tanker minyak di lepas pantai Uni Emirat Arab selama akhir pekan. Kabar ini memicu kekhawatiran bahwa jalur pelayaran di Teluk Persia dapat menjadi titik nyala. 

"Akan menjadi masalah buruk bagi Iran jika terjadi sesuatu," ujar Trump pada Senin ketika ditanya kabar tersebut.

Pejabat Uni Emirat Arab tengah menyelidiki dugaan sabotase, dan pejabat AS dilaporkan mencurigai bahwa Iran terlibat. Namun, belum ada bukti definitif yang menghubungkan Iran atau proksinya dengan dugaan sabotase tersebut.

Adapun juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengomentari kabar tersebut dengan mengatakan, "Insiden yang disesalkan terjadi."

Penarikan parsial dari kesepakatan nuklir 2015

Pekan lalu, Presiden Hassan Rouhani mengumumkan bahwa Iran akan menarik diri secara parsial dari kesepakatan nuklir 2015. Trump sendiri telah lebih dulu membawa AS keluar dari pakta itu.

Meski demikian, negara-negara Eropa mendesak Iran tetap pada komitmennya di bawah kesepakatan itu dan mengabaikan provokasi Trump.

Sebelum Iran menyatakan penarikan parsialnya dari kesepakatan nuklir 2015, AS menyatakan telah mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln dan sebuah gugus pengebom B-52 ke Timur Tengah. 

"AS mengerahkan USS Abraham Lincoln dan gugus tugas pengebom ke wilayah Komando Pusat AS untuk mengirim pesan yang jelas dan nyata kepada rezim Iran bahwa setiap serangan terhadap kepentingan AS atau sekutu kami akan berhadapan dengan kekuatan kekuatan yang tiada henti," ungkap Bolton.

Langkah tersebut dikabarkan didasarkan pada laporan intelijen yang menyebutkan bahwa Iran memobilisasi kelompok-kelompok proksi di Irak dan Suriah untuk menyerang pasukan AS.

Analisis intelijen AS pada akhir April menunjukkan bahwa Iran tidak memiliki keinginan jangka pendek untuk memprovokasi konflik. Namun, laporan intelijen baru, termasuk penyadapan, citra dan informasi lainnya, mengindikasikan bahwa Iran sedang membangun kesiapan pasukan proksi untuk berperang dan sedang mempersiapkan mereka untuk menyerang pasukan AS di wilayah tersebut.

Laporan intelijen terbaru muncul pada Jumat (3/5) sore. Demikian disampaikan Shanahan kepada Kongres pekan lalu. Baru pada Minggu (5/5), Bolton mengumumkan penyebaran kapal induk ke Teluk Persia.

Bagi pejabat intelijen AS, tidak jelas apa yang mengubah postur Iran. Namun, pejabat intelijen dan Kementerian Pertahanan mengatakan sanksi AS telah bekerja lebih baik dari yang diperkirakan, membuktikan bahwa itu jauh lebih melumpuhkan bagi ekonomi Iran, terutama setelah larangan pada seluruh ekspor minyak diumumkan bulan lalu.

Juga pada April, Kementerian Luar Negeri AS menetapkan Pasukan Pengawal Revolusi Iran sebagai organisasi teroris asing.

Sebenarnya, dalam beberapa tahun terakhir AS telah mengurangi kehadiran pasukannya di Timur Tengah. Itu didorong oleh fokus baru pada China, Rusia, dan apa yang disebut kompetisi Kekuatan Besar.

Strategi Pertahanan Nasional terbaru, yang dirilis sebelum Bolton bergabung dengan pemerintahan Trump, menyimpulkan bahwa sementara Timur Tengah tetap penting, dan Iran adalah ancaman bagi sekutu AS, Washington harus berbuat lebih banyak untuk memastikan agar China yang sedang bangkit tidak mengacaukan tatanan dunia.

AS sebut Iran sebagai pemicu konflik

Sementara banyak dari informasi intelijen baru berfokus pada Iran yang menyiapkan pasukan proksi, para pejabat mengatakan mereka percaya kemungkinan penyebab konflik adalah tindakan provokatif, atau serangan langsung oleh angkatan laut Pengawal Revolusi Iran. Armada mereka memiliki sejarah mendekati kapal-kapal Angkatan Laut AS dengan kecepatan tinggi. 

Bagian dari perencanaan yang diperbarui diduga berfokus pada tindakan militer apa yang mungkin diambil Negeri Paman Sam jika Iran melanjutkan produksi bahan bakar nuklirnya, yang telah dibekukan berdasarkan perjanjian nuklir 2015. 

Akan sulit bagi pemerintahan Trump untuk membuat alasan bahwa AS berada di bawah bahaya nuklir mengingat di bawah perjanjian nuklir 2015 Iran diharuskan mengirim 97% bahan bakarnya ke luar negeri, dan saat ini mereka tidak memiliki cukup untuk membuat bom.

Situasinya bisa berubah jika Iran melanjutkan pengayaan uranium. Namun, akan memakan waktu satu tahun atau lebih untuk membangun jumlah material yang signifikan, dan lebih lama lagi untuk membuatnya menjadi senjata. Waktu yang panjang tersebut akan memungkinkan, setidaknya secara teori, bagi AS untuk mengembangkan respons termasuk lewat operasi rahasia atau serangan militer.

Sejak Bolton menjadi penasihat keamanan nasional pada April 2018, dia telah mengintensifkan kebijakan pemerintahan Trump untuk mengisolasi dan menekan Iran. Permusuhan terhadap para pemimpin Iran berawal setidaknya pada hari-harinya sebagai pejabat di pemerintahan George W. Bush. 

Belakangan, sebagai warga negara, Bolton menyerukan serangan militer terhadap Iran, serta perubahan rezim.

Ketika kembali berada di pemerintahan, Bolton pun melanjutkan ambisinya untuk menyerang Iran.

Tahun ini, Kementerian Pertahanan dan pejabat senior AS mengatakan Bolton meminta panduan dari Pentagon tahun lalu, setelah gerilyawan yang didukung Iran menembakkan tiga mortir atau roket ke tanah kosong di halaman Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad pada September.

Menanggapi permintaan Bolton, yang mengejutkan Jim Mattis, yang saat itu menjabat sebagai menteri pertahanan, Pentagon menawarkan beberapa opsi umum, termasuk serangan udara lintas batas terhadap fasilitas militer Iran yang sebagian besar simbolis.

Tetapi Mattis dan para pemimpin militer lainnya dengan tegas menentang pembalasan atas serangan terhadap Kedubes AS di Baghdad, mengatakan bahwa itu tidak signifikan. (The New York Times)

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB