sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Opsi perawan dihapus dari formulir pernikahan di Bangladesh

Keputusan pengadilan tertinggi Bangladesh ini disambut baik oleh kelompok-kelompok pemantau hak asasi perempuan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 27 Agst 2019 17:17 WIB
Opsi perawan dihapus dari formulir pernikahan di Bangladesh

Pengadilan tertinggi di Bangladesh pada Minggu (25/8) memutuskan bahwa perempuan di negara itu tidak lagi diwajibkan mencantumkan mereka perawan dalam formulir pendaftaran perkawinan. 

Kata "perawan" atau "kumari" dalam bahasa Bengali diperintahkan untuk diganti dengan "belum menikah" atau "obibahita". Adapun opsi lain, yaitu "janda" dan "bercerai" tidak mengalami perubahan. 

Kelompok-kelompok pemantau hak asasi perempuan, yang keberatan dengan kata "perawan" karena menilainya melanggar privasi, menyambut baik keputusan tersebut.

Secara terpisah, pengadilan menyatakan bahwa calon pengantin pria sekarang juga harus menyertakan status perkawinan mereka apakah belum menikah, bercerai atau duda ditinggal mati.

Perubahan diharapkan akan mulai berlaku dalam beberapa bulan ketika putusan penuh pengadilan secara resmi dirilis.

"Ini merupakan keputusan penting," kata Aynun Nahar Siddiqua, seorang pengacara yang terlibat dalam kasus ini.

Aynun berharap putusan ini akan membantu memajukan hak-hak perempuan di Bangladesh.

Sementara itu, seorang pendaftar pernikahan mengatakan bahwa dia dan rekan-rekannya sekarang menunggu pihak berwenang untuk secara resmi memberi tahu mereka tentang perubahan dalam formulir yang dimaksud.

Sponsored

UU perkawinan di Bangladesh, negara yang mayoritas penduduknya muslim, telah dikritik restriktif dan diskriminatif oleh kelompok pemantau hak asasi perempuan. Banyak anak perempuan dipaksa menikah pada usia yang sangat muda di sana.

"Saya terlibat dalam banyak pernikahan di Dhaka dan saya kerap ditanya mengapa pria memiliki kebebasan untuk tidak mengungkapkan status mereka tetapi wanita tidak. Saya selalu mengatakan kepada mereka bahwa keputusan itu tidak ada di tangan saya," kata Mohammad Ali Akbar Sarker kepada Reuters. "Sekarang saya tidak akan lagi mendapat pertanyaan seperti itu."

Sumber : BBC