logo alinea.id logo alinea.id

Pakistan akan bebaskan pilot India, sinyal perdamaian?

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mengumumkan bahwa pilot India akan dirilis Jumat (1/3).

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 01 Mar 2019 12:05 WIB
Pakistan akan bebaskan pilot India, sinyal perdamaian?

India tengah menunggu pembebasan seorang pilot yang ditahan Pakistan setelah jet yang ditumpangi pilot itu ditembak jatuh di Kashmir pada Rabu (27/2). Kabar ini dinilai menunjukkan niat baik yang dapat meredakan krisis di wilayah perbatasan yang disengketakan selama bertahun-tahun.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mengumumkan bahwa pilot India akan dirilis Jumat (1/3).

Pilot jet tempur India Abhinandan Varthaman berada di tahanan Pakistan. Islamabad membuat marah New Delhi dengan merilis video Abhinandan yang kemudian diedarkan di media sosial.

Meskipun kabar pembebasan pilot ini telah digaungkan, namun ketegangan di wilayah itu tetap berlanjut pada Kamis (28/2). Mayor Jenderal Angkatan Darat India Surinder Singh Bahal mengatakan dalam konferensi pers gabungan bersama Angkatan Laut dan Angkatan Udara bahwa pihaknya tetap dalam kondisi siaga tinggi.

Adapun Pakistan menuturkan bahwa empat warga sipil tewas oleh tembakan yang dilepas pasukan India di Garis Kontrol (LoC), yang memisahkan Kashmir yang dikuasai India dan Kashmir yang dikuasai Pakistan.

Militer India menuduh Pakistan memulai kontak senjata pada Kamis.

Pengumuman Khan datang setelah Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan, "Seluruh negara ... mendukung militer kami."

Modi pun menyerukan agar rakyat India siaga melawan teroris yang mencoba untuk mengacaukan negara mereka.

Sponsored

Gesekan militer antara kedua kekuatan nuklir dunia ini telah terjadi selama beberapa hari terakhir.

Pakistan mengatakan bahwa angkatan udaranya menembak dua jet tempur India di Kashmir pada Rabu. India kemudian mengonfirmasi hilangnya satu pesawat mereka dan mengumumkan bahwa mereka menembak jatuh sebuah jet Pakistan sebagai respons insiden itu.

Peristiwa tersebut terjadi sehari setelah India melancarkan serangan udara di wilayah Pakistan. New Delhi mengklaim mereka menargetkan kamp-kamp teroris. Dan ini merupakan serangan perdana oleh pasukan udara India sejak perang India-Pakistan 1971.

Krisis yang meningkat telah memicu penutupan wilayah udara Pakistan, menganggu jadwal penerbangan di seluruh dunia selama dua hari berturut-turut. 

Pemicu langsung atas konfrontasi terbaru India-Pakistan adalah serangan bom mobil bunuh diri pada 14 Februari di Kashmir yang dikuasai India. Peristiwa itu menewaskan lebih dari 40 polisi paramiliter India. 

India menyalahkan kelompok teroris Jaish-e-Mohammed atas serangan tersebut. Kelompok yang bermarkas di Pakistan itu sendiri telah menyatakan bertanggung jawab.

Berbicara dalam pidato nasional pada Rabu, PM Khan mengatakan bahwa eskalasi lebih lanjut antara kedua negara akan berada di luar kendali pemimpin. Dia memperingatkan bahwa karena India dan Pakistan memiliki senjata nuklir, taruhannya terlalu tinggi bila terjadi kesalahan perhitungan dalam konflik.

"Sejarah dunia memberi tahu kita bahwa ada kesalahan perhitungan dalam perang. Tetapi, pertanyaan saya kepada pemerintah India adalah, mengingat senjata yang kami dan Anda milik, dapatkah kita melakukan kesalahan perhitungan?," kata Khan. "Itu tidak akan berada dalam kendali saya, pun kendali Narendra Modi."

India dan Pakistan sama-sama menguasai sebagian Kashmir, tetapi masing-masing mengklaim wilayah itu sepenuhnya.

China di antara India dan Pakistan

China tidak hanya berbagi perbatasan dengan wilayah Kashmir yang diperebutkan, namun juga memiliki hubungan penting dengan Pakistan dan India yang perlu diseimbangkan.

Tiongkok memiliki hubungan ekonomi, diplomatik, dan militer yang erat dengan Pakistan, menjadikannya salah satu sekutu terdekat bangsa di wilayah tersebut.

Sementara itu, perang dagang China yang berlangsung lama dengan Amerika Serikat telah memaksa Beijing untuk mencari mitra dagang alternatif. Akibatnya, China telah mulai membangun kembali hubungan dengan kekuatan saingannya, India, dan PM Modi.

Tahun lalu PM Modi melakukan dua kunjungan ke Cina.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Luar Negeri China menyerukan Pakistan dan India untuk menahan diri dan fokus pada perdamaian serta stabilitas regional.

Dalam seruan pada Rabu malam, Menteri Luar Negeri Shah Mehmood Qureshi meminta Menteri Luar Negeri China Wang Yi untuk memainkan peran konstruktif dalam meredakan ketegangan saat ini.

Menlu Wang Yi juga menekankan bahwa kedaulatan dan integritas teritorial semua negara harus dihormati dan China tidak ingin melihat tindakan yang melanggar norma-norma hubungan internasional.

Steve Tsang, direktur China Institute di SOAS University of London, mengatakan tidak ada manfaat bagi China ketika ketegangan antara India dan Pakistan meningkat.

"China tidak dapat melihat Pakistan terpuruk, tetapi pada saat yang sama saya rasa China tidak ingin bertengkar dengan India soal isu ini," kata Tsang.

Eskalasi minggu ini, menurut Tsang, telah menempatkan Beijing pada posisi yang canggung.

"Mereka harus melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa mereka membantu menjaga segalanya di bawah kendali, sementara tidak terlihat tidak dapat diandalkan sebagai sekutu Pakistan," tutur Tsang.

Di lain sisi, Beijing tidak ingin menyampingkan dukungannya terhadap Pakistan dan mendorong India ke dalam pelukan Amerika Serikat.

Yang semakin bikin pusing China adalah klaim India bahwa serangan udara mereka ke wilayah Pakistan menargetkan kamp-kamp teroris.

Penahanan massal  muslim Uighur di Provinsi Xinjiang oleh pemerintah Cina adalah salah satu kebijakan internasional paling kontroversial dan dibenarkan oleh pemerintah Tiongkok dengan alasan bahwa itu adalah langkah penting dalam memerangi terorisme.

"Mereka tidak ingin terlalu keras terhadap India, karena New Delhi bertindak sebagai respons terhadap terorisme," terang Tsang.

Para pakar Cina mengatakan pilihan terbaik negara itu adalah bergabung dengan AS dalam upaya meredakan ketegangan antara Pakistan dan India.

Han Hua, profesor dan pakar studi Asia Selatan di Peking University, mengatakan mengingat China memiliki pengaruh yang lebih besar di Pakistan, sementara AS lebih berpengaruh di India maka masuk akal bagi keduanya untuk bekerja sama.

"Pesan China jelas bagi kedua belah pihak: menahan diri," katanya. "Kepentingan Cina terletak pada stabilitas Asia Selatan."

Sumber : CNN