sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Parlemen Inggris gelar voting kesepakatan Brexit

Parlemen telah tiga kali menolak kesepakatan Brexit yang ditawarkan pendahulu PM Johnson, Theresa May. Akankah kali ini berhasil?

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 20 Des 2019 11:17 WIB
Parlemen Inggris gelar voting kesepakatan Brexit

Parlemen Inggris akan menggelar pemungutan suara atas kesepakatan Brexit milik Perdana Menteri Boris Johnson pada Jumat (20/12). Johnson sebelumnya berjanji bahwa hasil voting akan menjadi kado Natal.

PM Johnson saat ini menikmati kursi mayoritas di parlemen sehingga peluang meloloskan RUU pengimplementasian perubahan kebijakan luar negeri dan perdagangan terbesar Inggris dalam lebih dari 40 tahun terakhir dinilai terbuka lebar.

Lebih dari tiga tahun sejak Inggris memutuskan untuk hengkang dari Uni Eropa dalam Referendum 2016, ketidakpastian mendalam mewarnai proses Brexit. Belakangan, tenggatnya ditetapkan pada 31 Januari.

"Hari ini kami akan memenuhi janji yang kami buat kepada rakyat dan memenangi pemungutan suara sebagai kado Natal," kata PM Johnson jelang voting. 

Tahap akhir ratifikasi akan dilakukan setelah Natal, tetapi Johnson ingin mengadakan pemungutan suara sebelum itu.

Setelah hengkang, Inggris perlu mengamankan pengaturan perdagangan baru dengan Uni Eropa. RUU perjanjian penarikan yang diajukan Johnson akan memastikan bahwa tidak ada peluang hukum untuk memperpanjang periode transisi melampaui 2020.

Perjanjian penarikan sebelumnya, yang dicapai antara mantan PM Theresa May dan Uni Eropa, ditolak tiga kali oleh Parlemen Inggris.

Hanya sepekan setelah menang telak dalam pemilu, kemenangan konservatif terbesar sejak Margaret Thatcher pada 1987, PM Johnson menetapkan program ambisius, yaitu mengamankan Brexit untuk membayar kembali kepercayaan para pemilih.

Sponsored

Berharap untuk memenuhi tuntutan pemilih di Inggris utara dan tengah yang melanggar tradisi mereka mendukung Partai Buruh, Johnson juga menjanjikan lebih banyak dana bagi layanan kesehatan, pendidikan dan kepolisian.

"Setelah bertahun-tahun ... kami akan memberikan kepastian dan mereka yang bekerja keras serta warga di seluruh negeri akan memiliki pijakan yang kuat untuk merencanakan masa depan. Tahun depan akan menjadi tahun yang hebat bagi negara kita," ujar BoJo, sapaan yang disingkat dari namanya. (Reuters dan BBC)

Berita Lainnya