sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Parlemen tolak rencana alternatif, Brexit kembali buntu

PM Inggris Theresa May menyatakan akan melepas jabatannya jika dan saat draf Brexit miliknya diloloskan parlemen.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 28 Mar 2019 12:29 WIB
Parlemen tolak rencana alternatif, Brexit kembali buntu

Tidak ada tanda-tanda terobosan bagi kebuntuan Brexit pada Rabu (27/3) ketika anggota parlemen gagal menyetujui rencana alternatif bagi draf milik Perdana Menteri Theresa May.

Menghadapi tekanan kuat dari partainya yang terpecah, PM May mengatakan akan melepas jabatannya jika dan saat draf Brexit miliknya diloloskan parlemen.

Selang beberapa jam kemudian, anggota parlemen menggelar pemungutan suara pada serangkaian rencana yang dirancang untuk memecah kebuntuan atas Brexit.

Namun, tidak ada satu pun rencana alternatif yang mereka sepakati.

Downing Street berharap bahwa tawaran May untuk mengundurkan diri dapat membujuk anggota parlemen untuk mengubah pikiran mereka dan meloloskan draf Brexit-nya yang sudah ditolak dua kali.

Segera setelah pengumuman PM May, sejumlah anggota parlemen menunjukkan perubahan sikap.

Boris Johnson, mantan menteri luar negeri, mengatakan dia akan dengan enggan mendukung draf Brexit PM May. Mantan ketua Partai Konservatif, Iain Duncan Smith, juga mengikuti jejak Johnson.

Pemerintah berencana untuk kembali menggelar pemungutan suara untuk draf Brexit PM May di parlemen sebelum akhir pekan ini.

Sponsored

Namun, prospek untuk lolos mendapat pukulan telak ketika Partai Persatuan Demokrat (DUP), kelompok pro-Irlandia Utara yang menopang pemerintahan minoritas May, mengumumkan akan menolak drafnya.

DUP menentang klausul dalam draf Brexit PM May yang disebut sebagai backstop Irlandia. Backstop akan menjaga Irlandia Utara dalam serikat pabean dengan Uni Eropa jika Inggris dan blok itu gagal menyetujui hubungan masa depan.

Menurut pernyataan DUP, perubahan yang diperlukan terkait backstop masih belum diamankan dan risiko terjebak di Uni Eropa tanpa kepastian masih tinggi.

Tanpa dukungan DUP, akan sulit bagi May untuk meloloskan draf Brexit-nya.

Pendekatan baru

PM May mengumumkan tawaran pengunduran dirinya dalam pertemuan dengan Komite 1922, kelompok yang berisikan anggota parlemen dari Partai Konservatif.

May menilai keputusannya untuk mundur akan memungkinkan anggota parlemen untuk menyelesaikan tugas mereka dan memenuhi keinginan rakyat Inggris dan meninggalkan Uni Eropa secara mulus dan teratur.

"Saya siap untuk meninggalkan pekerjaan ini lebih awal dari yang saya inginkan untuk melakukan apa yang benar bagi negara dan partai kita," kata May. "Saya tahu ada keinginan pendekatan dan kepemimpinan baru dalam fase kedua negosiasi Brexit, dan saya tidak akan menghalangi itu."

Anggota parlemen dari Partai Konservatif, Simon Hart, menyatakan bahwa suasana di ruangan pertemuan saat itu penuh hormat dan May terlihat bersemangat tetapi tidak emosional.

Tetapi masih belum jelas apakah pengunduran dirinya akan cukup, mengingat tawarannya untuk berhenti bergantung pada persetujuan parlemen atas drafnya.

May menghadapi situasi yang tidak biasa yaitu sangat tidak disukai oleh partainya, namun juga tidak mampu mengumpulkan cukup suara untuk mengamankan pengunduran dirinya.

Bahkan jika May bisa menggalang dukungan yang cukup untuk meloloskan draf Brexit miliknya, draf itu terhalang rintangan prosedural sebelum dapat kembali dibawa ke parlemen.

Pasalnya, Ketua Parlemen John Bercow telah memutuskan bahwa untuk memenuhi syarat pemungutan suara, secara substansial, draf milik May kali ini harus berbeda dari dua draf yang sudah ditolak sebelumnya untuk. Bercow mengulang pernyataannya pada Rabu.

Menteri Brexit Steven Barclay sebelumnya menyiratkan bahwa anggota parlemen akan kembali menggelar pemungutan suara bagi draf Brexit PM May pada Jumat (29/3).

Anggota parlemen dari Partai Konservatif, Oliver Letwin, yang mengajukan amendemen yang memungkinkan parlemen mengambil kendali Brexit pada Rabu, menyampaikan kekecewaannya karena tidak ada rencana alternatif yang berhasil disepakati.

Namun, dia bersikeras bahwa rencana untuk mengadakan sesi debat kedua untuk membahas persoalan Brexit akan dilanjutkan pada Senin (1/4).

Satu-satunya rencana alternatif yang nyaris disepakati adalah proposal bahwa Inggris akan tetap berada dalam serikat pabean permanen dengan Uni Eropa setelah Brexit. Proposal itu ditolak dengan 272 berbanding 264 suara.

Sumber : CNN