sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Parlemen Uni Eropa deklarasikan darurat iklim

Deklarasi iklim tersebut disahkan pada Kamis (28/11) di Strasbourg, Prancis, dalam sesi debat Parlemen Eropa tentang KTT iklim PBB, COP25.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 29 Nov 2019 18:01 WIB
Parlemen Uni Eropa deklarasikan darurat iklim

Melalui pemungutan suara, Parlemen Eropa sepakat mendeklarasikan situasi darurat iklim. Itu merupakan langkah simbolis yang bertujuan meningkatkan tekanan agar Komisi Eropa mengambil sikap lebih tegas terkait perubahan iklim.

Deklarasi iklim tersebut disahkan pada Kamis (28/11) di Strasbourg, Prancis, dalam sesi debat Parlemen Eropa tentang KTT iklim PBB, COP25, yang akan digelar pada Senin (2/12) di Madrid, Spanyol.

Dalam sebuah pernyataan di Twitter usai pemungutan suara, anggota Parlemen Eropa mendesak Komisi Eropa untuk sepenuhnya memastikan semua proposal legislatif dan anggaran diselaraskan dengan batas target pemanasan global 1,5 derajat Celcius.

Parlemen Eropa juga menyerukan agar Uni Eropa mengurangi emisi sebesar 55% pada 2030. Resolusi darurat iklim itu diajukan oleh Ketua Komite Lingkungan Parlemen Eropa Pascal Canfin. 

"Mengingat situasi darurat iklim dan lingkungan, penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 55% pada 2030," kata Canfin.

Presiden Komisi Eropa terpilih, Ursula von der Leyen, telah mengusulkan "Kesepakatan Hijau Eropa" yang bertujuan untuk mencapai "climate neutrality" atau netralitas iklim, dengan tidak menyumbang gas rumah kaca ke atmosfer pada 2050.

Proposal itu mencakup peningkatan pajak karbon, investasi yang lebih besar dalam bisnis energi terbarukan, pengurangan polusi serta peningkatan perlindungan bagi hutan, taman nasional dan ruang hijau di Eropa.

Anggota Parlemen Eropa mengatakan, Uni Eropa perlu mengambil peran utama dalam perjuangan melawan perubahan iklim.

Sponsored

Eropa Tengah enggan berkomitmen

Saat ini, Uni Eropa menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 40% pada 2030. Sementara itu, proposal yang diusulkan von der Leyen ingin meningkatkan pengurangan emisi hingga setidaknya 50%.

Namun, negara-negara Uni Eropa yang masih menggunakan batu bara, seperti Polandia, Hongaria dan Ceko, enggan berkomitmen untuk mencapai kondisi netral karbon pada 2050.

Negara-negara, yang masih bergantung pada bahan bakar fosil, itu berpendapat bahwa transisi ke energi bersih akan terlalu membebani anggaran mereka. Maka itu, mereka meminta dana tambahan untuk melakukan transisi tersebut.

"Transisi yang adil adalah masalah paling mendasar ... Terkait Polandia dan negara-negara Eropa Tengah lainnya, seluruh dana Uni Eropa harus digunakan untuk penghijauan," kata Canfin. (Deutsche Welle)

Berita Lainnya