logo alinea.id logo alinea.id

Pasca-ancaman Trump, Iran tingkatkan produksi uranium

Dalam kesepakatan nuklir 2015, cadangan uranium tingkat rendah dibatasi 300 kg.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 21 Mei 2019 10:47 WIB
Pasca-ancaman Trump, Iran tingkatkan produksi uranium

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk tidak mengancam negaranya. Peringatan Zarif tersebut muncul usai twit Trump pada Minggu yang menyatakan, jika Iran ingin bertarung maka itu akan menjadi akhir bagi Iran.

Zarif meminta Trump melihat sejarah. "Rakyat Iran telah berdiri tegak selama ribuan tahun, sementara agresor bertumbangan." 

Dalam twitnya, Zarif mengatakan bahwa Trump sedang terpancang oleh apa yang disebutnya "Tim B", merujuk pada Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman.

"Dipimpin oleh #B_Team, @realdonaldTrump berharap untuk mencapai apa yang gagal dilakukan oleh Alexander, Jenghis & agresor lainnya. Rakyat Iran telah berdiri tegak selama ribuan tahun, sementara agresor bertumbangan. #TerorismeEkonomi dan celaan genosida tidak akan mengakhiri Iran," twit Zarif.

Twit Trump menandai perubahan nada sang presiden setelah sebelumnya dia mengecilkan kemungkinan konflik militer dengan Iran. Ketika ditanya oleh wartawan pada Kamis lalu apakah AS akan berperang, dia mengatakan, "Saya berharap tidak."

Media pemerintah Iran pada Senin (20/5) melaporkan bahwa negara itu telah meningkatkan produksi uranium tingkat rendah empat kali lipat. Dalam kesepakatan nuklir 2015, cadangan uranium tingkat rendah dibatasi 300 kg.

Sponsored

Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Behrouz Kamalvandi mengatakan, Iran akan melampaui batas 300 kg dalam waktu yang tidak terlalu lama. "Jika mereka ingin mempertahankan batas ini, akan lebih baik bagi negara-negara Eropa untuk mengambil tindakan sesegera mungkin," kata Kamalvandi.

Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015 tahun lalu, tetapi negara-negara lain yang terlibat dalam perjanjian itu tetap pada komitmennya.

Peringatan Trump untuk Iran pada Minggu muncul beberapa jam setelah sebuah roket ditembakkan ke Zona Hijau yang dijaga ketat di Baghdad, Irak. Roket menghantam sebuah bangunan yang berjarak sekitar 0,5 km dari Kedutaan Besar AS.

Baru-baru ini AS mengevakuasi staf non-darurat mereka dari misi diplomatik di Baghdad dengan alasan adanya ancaman serius yang datang dari kelompok militan yang didukung Iran di Irak.

Iran telah meminta PBB untuk membantu lahirnya dialog di tengah ketegangan demi meredakan situasi keamanan yang mengkhawatirkan di Teluk.

Duta Besar Iran untuk PBB Majid Takht Ravanchi disebutkan telah mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Dewan Keamanan pada Senin.

Pemicu eskalasi

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat pada awal bulan ini, ketika Washington mengakhiri pembebasan sanksi terhadap sejumlah negara yang masih membeli minyak dari Iran. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk mematikan ekspor minyak Iran, memutus sumber pendapatan utama pemerintah.

Trump menerapkan kembali sanksi atas Iran tahun lalu setelah dia menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015. Trump ingin menegosiasikan ulang perjanjian yang diklaimnya cacat tersebut.

Beberapa hari setelah AS mengakhiri pembebasan sanksi terhadap sejumlah negara, giliran Presiden Iran Hassan Rouhani yang mengumumkan bahwa pihaknya menangguhkan sejumlah komitmen di bawah kesepakatan nuklir 2015. Rouhani pun mengancam akan meningkatkan pengayaan uranium jika negara-negara Eropa tidak bertindak untuk melindungi industri minyak dan perbankan Iran dari dampak sanksi AS dalam waktu dua bulan.

Gedung Putih kemudian mengumumkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln, gugus pengebom B-52, dan sistem rudal Patriot ke Teluk menyusul indikasi yang mengganggu dan meningkat terkait Iran. 

Pekan lalu, empat tanker minyak di Teluk Oman dirusak. Uni Emirat Arab menyebutnya sabotase. Selain itu, terjadi pula serangan pesawat tanpa awak di dua stasiun pompa minyak di Arab Saudi. 

Pemberontak Houthi di Yaman, yang didukung Iran, mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang memaksa penutupan sementara stasiun pompa tersebut.

Iran telah membantah bahwa pihaknya mendalangi dua insiden tersebut. 

Merespons ketegangan, Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt pada Senin (20/5) mengatakan kepada wartawan di Jenewa, "Saya ingin sampaikan kepada Iran, jangan remehkan tekad AS. Mereka tidak ingin perang dengan Iran, tetapi jika kepentingan AS diserang, maka mereka akan membalas."

"Kami ingin situasi mereda karena ini adalah dunia di mana segala sesuatunya dapat dipicu secara tidak sengaja," imbuhnya.

Dari Arab Saudi, Menteri Luar Negeri Adel al-Jubeir mengatakan pihaknya tidak menginginkan perang, tidak mengincarnya dan akan melakukan segalanya untuk mencegahnya.

"Tetapi pada saat yang sama, jika pihak lain memilih perang, kerajaan akan merespons dengan kekuatan dan tekad untuk mempertahankan diri dan kepentingannya," tambahnya.

Menteri Luar Negeri Oman, yang telah menjadi perantara pembicaraan rahasia antara AS dan Iran di masa lalu, dilaporkan mengunjungi Teheran untuk membahas masalah regional dengan Zarif pada Senin. Belum jelas apa yang dibahas. (BBC dan Al Jazeera)