logo alinea.id logo alinea.id

Pascabom Minggu Paskah, pariwisata Sri Lanka masih lesu

Pada 2018, sekitar 30% wisatawan melakukan pemesanan, namun pada 2019 jumlah itu menurun menjadi 10%.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 11 Jun 2019 09:59 WIB
Pascabom Minggu Paskah, pariwisata Sri Lanka masih lesu

Setelah bom Minggu Paskah yang mematikan pada 21 April, industri pariwisata Sri Lanka yang babak belur berusaha merayu wisatawan untuk datang kembali. Akibat teror bom itu, kini sejumlah hotel dan fasilitas wisata Sri Lanka mengadakan diskon besar-besaran dan mendorong promosi di pasar-pasar utama.

Bidang pariwisata, yang menyumbang sekitar 5% dari pemasukan domestik Sri Lanka, merosot tajam menyusul banyaknya turis membatalkan kunjungan mereka usai ledakan bom yang menewaskan 290 orang di Kolombo. Empat puluh orang korban tewas merupakan warga negara asing.

Inggris, India, dan Amerika Serikat adalah di antara negara-negara yang mengeluarkan peringatan perjalanan (travel advisory) ke Sri Lanka.

Padahal, Lonely Planet, penerbit buku panduan perjalanan, memilih Sri Lanka sebagai destinasi pariwisata utama pada 2019.

Untuk memikat wisatawan kembali, Sri Lanka menjadi tuan rumah acara olahraga internasional dan telah menghapus aturan terkait tarif minimum untuk menginap di hotel. 

Maskapai milik negara, SriLankan Airlines, menawarkan tarif khusus dan mendorong sejumlah promosi bersama dengan Kementerian Pariwisata. Selain itu, sejumlah perusahaan pariwisata bahkan menawarkan penjemputan gratis dari bandara ke hotel.

Diskon besar-besaran untuk menarik pengunjung diterapkan oleh resor pantai di Hikkaduwa, Lavanga Resort & Spa. Mereka menawarkan kamar seharga US$35, diskon besar dari harga normal US$75.

"Kami telah menawarkan harga terendah untuk wisatawan mancanegara. Sudah ada banyak turis yang melakukan pemesanan untuk akhir tahun nanti," kata Direktur Pengelola Lavanga Anusha Frydman.

Sponsored

Namun, reservasi wisatawan untuk beberapa bulan ke depan tetap sepi. Pada 2018, sekitar 30% wisatawan melakukan pemesanan, namun pada 2019 jumlah itu menurun menjadi 10%.

Meski begitu, beberapa turis memanfaatkan diskon besar-besaran itu untuk menikmati liburan murah.

"Saya menginap enam malam di sebuah hotel mewah dengan harga US$200," kata turis asal Swedia, Leif Ohlson.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan semakin banyak turis asing memiliki perilaku serupa. Kepala Biro Pariwisata Kemenpar Kishu Gomes mencatat kini per hari sekitar 1.400 hingga 1.500 wisatawan yang berada di Sri Lanka, naik dari 1.000 per hari pada masa-masa awal setelah pengeboman.

Jumlah itu tetap merupakan penurunan dari sekitar 4.500 turis per hari pada 2018. Tetapi dengan sejumlah negara seperti India dan China yang sudah tidak lagi memberlakukan peringatan perjalanan ke Sri Lanka, para pejabat pemerintah semakin optimistis ke depannya situasi akan membaik.

"Kami berharap pemulihan akan dimulai. Masih terlalu dini untuk mengatakan seberapa cepat dan seberapa besar pemulihan pariwisata itu nanti," kata Gomes.

Namun, kekeringan di bidang pariwisata itu telah menyebabkan sejumlah hotel kecil kehilangan sumber pendapatan dan memaksa mereka gulung tikar.

"Banyak hotel membatasi operasi dan akhirnya menutup beberapa cabang. Staf hotel mereka pun dipangkas dan banyak yang dipecat," tutur Presiden Asosiasi Hotel Sri Lanka Sanath Ukwatta.