sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pasukan keamanan Irak tembak mati 14 demonstran

Penembakan dilaporkan terjadi di Kota Nassiriya pada Kamis (28/11).

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 28 Nov 2019 18:23 WIB
Pasukan keamanan Irak tembak mati 14 demonstran
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Pasukan keamanan Irak dilaporkan menembak mati 14 pemrotes di Kota Nassiriya pada Kamis (28/11). Di Kota Najaf, pihak berwenang memberlakukan jam malam setelah demonstran menyerbu dan membakar konsulat Iran.

"Pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa yang berkumpul di sebuah jembatan di Nassiriya sebelum fajar. Empat belas orang terbunuh dan belasan lainnya terluka," kata sejumlah sumber medis.

Pembakaran konsulat Iran di Najaf pada Rabu (27/11) malam menandai peningkatan kekerasan di Irak setelah demonstrasi berminggu-minggu yang disebut bertujuan menjatuhkan pemerintah yang mereka anggap korup.

"Pembakaran konsulat tadi malam adalah tindakan berani dan reaksi nyata dari rakyat Irak. Kami tidak menginginkan orang-orang Iran," ujar Ali, seorang pengunjuk rasa di Najaf.

Ali menambahkan, "Saya yakin Iran akan membalas. Mereka masih di sini dan pasukan keamanan akan terus menembak kami."

Komandan militer Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), payung kelompok paramiliter yang merupakan faksi paling kuat yang dekat dengan Teheran mengatakan, mereka akan menggunakan kekuatan penuh terhadap siapa pun yang mencoba menyerang ulama syiah paling terkemuka di Irak yang berkedudukan di Najaf.

"Kami akan memotong tangan siapa pun yang mencoba mendekati Ayatullah Ali al-Sistani," kata Abu Mahdi al-Muhandis.

Ketidakmampuan pemerintah Irak dan elite politik untuk menangani kerusuhan dan menjawab tuntutan demonstran telah berperan dalam memicu kemarahan publik.

Sponsored

Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi telah menjanjikan reformasi pemilu dan antikorupsi, tetapi proses tersebut ternoda oleh langkah pasukan keamanan menembak mati para demonstran yang dilaporkan berunjuk rasa secara damai di jalan-jalan di Baghdad dan sejumlah kota di bagian selatan Irak.

Protes di Irak yang dimulai pada 1 Oktober merupakan tantangan paling kompleks yang dihadapi kelas penguasa yang didominasi kalangan syiah. Kelompok itu telah mengendalikan lembaga-lembaga negara dan jaringan patronase sejak invasi pimpinan AS pada 2003 yang menggulingkan Saddam Hussein.

Demonstran muda, yang sebagian besar berlatar belakang syiah, mengatakan bahwa politikus korup terikat pada kekuatan asing, terutama Iran. Mereka dinilai gagal memulihkan negara itu dari konflik bertahun-tahun. Padahal, situasi Irak sejak kekalahan ISIS pada 2017 dipandang relatif tenang.

Sementara pasukan keamanan menggunakan amunisi tajam, gas air mata dan granat kejut dalam menghadapi demonstran, para pengunjuk rasa melempar bom bensin, batu bata dan menembakkan ketapel ke arah polisi.

Menurut polisi dan petugas medis, kekerasan di Irak telah merenggut 350 nyawa.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya