logo alinea.id logo alinea.id

PBB: Arab Saudi merusak investigasi Turki atas pembunuhan Khashoggi

Penyelidik PBB mengungkapkan bahwa Arab Saudi tidak memberi waktu dan akses yang memadai untuk memeriksa TKP pembunuhan Khashoggi.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 08 Feb 2019 13:25 WIB
PBB: Arab Saudi merusak investigasi Turki atas pembunuhan Khashoggi

Penyelidik HAM PBB yang memimpin investigasi internasional atas pembunuhan Jamal Khashoggi mengatakan, bukti menunjukkan bahwa jurnalis itu adalah korban pembunuhan brutal dan terencana oleh pejabat Arab Saudi.

Pelapor Khusus PBB Agnes Callamard pada Kamis (7/2) menerangkan, timnya yang terdiri dari tiga anggota telah mengakses materi audio terkait pembunuhan Khashoggi yang dimiliki oleh badan-badan intelijen Turki.

Pernyataannya menyebutkan pula, Arab Saudi secara serius merusak upaya Turki untuk menyelidiki pembunuhan Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul.

"Para penyelidik Turki sangat tidak diberi waktu dan akses memadai untuk melakukan pemeriksaan TKP secara profesional, efektif, dan sesuai standar internasional," papar Callamard.

Callamard turut mengkritik proses persidangan terhadap 11 orang yang dituduh terlibat pembunuhan Khashoggi di Arab Saudi, terutama terkait transparansi dan keadilan, yang disebutnya sangat memprihatinkan. Dia menyatakan telah meminta akses kunjungan resmi ke Arab Saudi sehingga otoritas berwenang dapat menunjukkan kepadanya bukti-bukti yang relevan. Namun, permintaannya belum direspons.

Tahun lalu, jaksa penuntut umum Arab Saudi mengatakan terdapat 21 warga Arab Saudi yang ditahan terkait kasus pembunuhan Khashoggi dan 11 di antaranya telah diadili. Lima terdakwa dituntut hukuman mati.

Laporan akhir Callamard rencananya akan diserahkan kepada Dewan HAM PBB pada Juni 2019.

Adapun Turki ingin agar Arab Saudi mengekstradisi para tersangka untuk diadili di pengadilan mereka.

Sponsored

Turki, sebelumnya, telah mengidentifikasi 15 orang yang diyakini sebagai agen intelijen Arab Saudi yang tiba dan berangkat dari bandara internasional Istanbul menjelang dan sesudah pembunuhan Khashoggi.

Tidak diketahui apakah dari mereka termasuk yang diadili di Riyadh.

Menurut Sigurd Neubauer dari think tank Gulf International Forum, masih harus dilihat bagaimana penyelidikan PBB disikapi secara internasional, terutama oleh Amerika Serikat selaku sekutu utama Arab Saudi.

"Yang tengah terjadi adalah permainan diplomatik kompleks luar biasa," tutur Neubauer.

Khashoggi, kolumnis Washington Post yang kerap menulis kritik terhadap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman atau MBS, terakhir kali terlihat saat memasuki Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018. Hingga kini, jasadnya belum ditemukan.

Badan intelijen AS meyakini bahwa MBS mendalangi pembunuhan Khashoggi.

Sejak awal, Riyadh membantah keterlibatan MBS. Mereka menyebut ada unsur-unsur jahat di Arab Saudi yang bertindak atas kemauan mereka sendiri.

AS telah menjatuhkan sanksi pada 17 orang pejabat Arab Saudi, salah satunya Saud al-Qahtani, mantan penasihat MBS yang dituding terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi yang memicu pembunuhan Jamal Khashoggi.

Sumber : Al Jazeera