Dunia / Palestina

PBB: Bencana besar terjadi di Jalur Gaza

PBB mengatakan bencana besar menimpa Jalur Gaza, menyusul blokade ekonomi oleh Israel yang terus berlanjut.

PBB: Bencana besar terjadi di Jalur Gaza Ilustrasi / Pixabay

Pada Rabu (12/9), PBB mengatakan bahwa bencana besar terjadi di Jalur Gaza setelah lebih dari 10 tahun wilayah itu mengalami pengepungan ekonomi. 

"Situasi di Gaza menjadi tidak layak huni," ujar Isabelle Durant, wakil kepala badan pembangunan PBB (UNCTAD), di Jenewa, Swiss. "Ini bencana besar."

Dalam laporan terbaru, badan PBB itu menerangkan bahwa perekonomian Palestina, yang telah lama tercekik oleh pendudukan Israel, tengah dihantam keras oleh penurunan tajam dukungan internasional.

Tahun lalu, bantuan pembangunan internasional untuk Palestina menyusut lebih dari 10% dibanding tahun sebelumnya.

PBB memperingatkan pula bahwa keputusan Amerika Serikat untuk menghentikan bantuan bagi para pengungsi Palestina akan menciptakan lebih banyak penderitaan. Itu merujuk pada keputusan Washington yang mengumumkan penghentian segala bentuk pendanaan untuk badan PBB untuk para pengungsi Palestina (UNRWA) pada awal September lalu. Sebelumnya, UNRWA menerima US$350 juta per tahun. 

Selain itu, pemerintah Trump juga telah menghapus pendanaan sekitar US$200 juta oleh USAID ke Palestina, dan pada akhir pekan lalu disebutkan bahwa AS akan memangkas bantuan langsung senilai US$25 juta ke enam rumah sakit yang terutama melayani warga Palestina di Yerusalem.

Menurut UNCTAD, dukungan internasional yang menurun, ditambah pula dengan pembekuan pembangunan di Gaza serta konsumsi publik dan swasta yang dibiayai kredit tidak berkelanjutan, mengilustrasikan gambaran suram masa depan wilayah itu. 

Pembatasan yang meluas pada pergerakan orang dan barang, penyitaan tanah dan sumber daya alam, dan perluasan percepatan permukiman Israel juga merusak, sebut UNCTAD dalam laporannya.

UNCTAD turut mengecam pengepungan ekonomi di wilayah Palestina, yang berjuang dengan tingkat pengangguran tertinggi di dunia, lebih dari 27% secara keseluruhan dan sekitar 44% saja di Gaza.

Dalam laporan tahun lalu, badan PBB itu mengatakan bahwa ekonomi Palestina bisa dengan mudah dilipatgandakan dan angka pengangguran dan kemiskinan akan menurun jika pendudukan Israel dicabut.

Dan dalam laporan terbarunya, UNCTAD menyarankan dengan menghapus sejumlah pembatasan yang diberlakukan Israel pada sektor perdagangan dan investasi Palestina, dapat memungkinkan GNP wilayah itu tumbuh hingga 10 persen.

Mahmoud Elkhafif, yang mengoordinasi Bantuan UNCTAD untuk Unit Rakyat Palestina, mengatakan kepada wartawan bahwa badan itu belum menganalisis dampak penghentian dukungan AS terhadap ekonomi Palestina. Namun, dia menekankan bahwa pasti akan menghasilkan lebih banyak kesengsaraan, di Gaza khususnya.

Pada tahun 2012, UNCTAD memperingatkan bahwa daerah itu berisiko menjadi "tidak bisa dihuni" pada tahun 2020 kecuali tren berbalik, tetapi pada hari Rabu lembaga itu mengatakan kondisi saat ini "lebih buruk" dibanding saat mereka membuat prediksi tersebut.

Dalam dekade terakhir, Gaza telah mengalami tiga operasi militer besar dan blokade udara, laut dan darat yang terus menerus serta melumpuhkan, yang telah "menghancurkan" kapasitas produktifnya, tegas Elkhafif.

 

Sumber: Channel News Asia