logo alinea.id logo alinea.id

PBB: Dunia harus bersama-sama atasi perubahan iklim

Indonesia saat ini masih menjadi salah satu dari 10 negara dengan emisi gas rumah kaca terbesar.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 21 Jun 2019 09:25 WIB
PBB: Dunia harus bersama-sama atasi perubahan iklim

Kepala Perwakilan PBB di Indonesia Anita Nirody menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan persoalan yang akan berdampak kepada seluruh dunia dan perlu diatasi bersama.

"Perubahan iklim terjadi sekarang dan terjadi pada kita semua. Tidak hanya kepada segelintir orang, dampak perubahan iklim akan dirasakan seluruh umat manusia," tutur Nirody dalam pertemuan dengan awak media di Seribu Rasa, Menteng, Jakarta, Kamis (20/6).

Terkait dengan isu perubahan iklim, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berpose di genangan air untuk sampul majalah Time edisi Juni.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

United Nations Secretary-General @antonioguterres off the coast of Tuvalu, one of the world's most vulnerable countries, in May. Facing a rise in global sea levels, a collection of these states—from Fiji to the Marshall Islands, the Maldives to the Bahamas—has launched an international campaign to save themselves and raise awareness of the perils of #climatechange. Against all odds, writes Justin Worland, it has been a remarkable success. Last month, leaders from across the Pacific gathered in Fiji to plot their next big step: coordinating a push to make developed countries commit to aggressive new targets for reducing their emissions at a #climate summit to be convened by the @unitednations in New York this fall. Guterres, who was photographed during a tour of the region, is working to position the tiny island nations not just as the political center of the debate, but as its moral center, too. Their success offers a broader lesson: no one nation can solve a problem as complex as this alone, but together bands of nations can make a difference. Read more at the link in bio. Photograph by @cgregoryphoto for TIME

A post shared by TIME (@time) on

Menurut Nirody, melalui sampul majalah itu, Guterres berupaya untuk meningkatkan kesadaran dunia atas perubahan iklim.

"Sekjen meminta agar dunia, khususnya negara-negara anggota PBB, bertindak lebih jauh untuk mengatasi persoalan perubahan iklim. Mereka harus dapat memenuhi target yang mereka tetapkan untuk mencari solusi atas permasalahan ini," jelasnya.

Nirody menyayangkan fakta bahwa Indonesia menjadi salah satu dari 10 negara dengan emisi gas rumah kaca terbesar. Dia menyerukan agar Indonesia berjuang bersama PBB untuk mengatasi masalah ini.

Sponsored

"Indonesia adalah pemain yang sangat penting. Jika serius mengatasi perubahan iklim, dampaknya tidak hanya akan terasa di dalam negeri, tetapi juga di seluruh dunia," sambungnya.

Dia mengumumkan, PBB akan menggelar Climate Summit pada 23 September 2019. Pertemuan tersebut akan dihadiri oleh Sekjen Guterres dan seluruh negara anggota PBB, termasuk Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Nirody menyatakan bahwa Guterres akan meminta semua pemimpin dunia untuk menyusun rencana konkret untuk menanggulangi perubahan iklim.

"Jadi, nanti bukan hanya konferensi yang dipenuhi pidato dan diskusi, harus ada cara-cara konkret yang dilahirkan sehingga masalah serius ini dapat dituntaskan," kata Nirody.

Guterres, lanjutnya, menyerukan lebih banyak aksi konkret, ambisi, dan kemauan politik untuk mengatasi persoalan perubahan iklim.

"Sekjen selalu berkata bahwa kita perlu memiliki rencana A karena tidak ada planet B. Bumi adalah satu-satunya planet yang kita miliki," ujarnya.

Aksi untuk mengatasi perubahan iklim juga tercantum dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030. Nirody menyampaikan, perlu lebih banyak investasi untuk mencapai kemajuan realisasi SDGs di Indonesia.

"Kemajuan tidak dapat terjadi hanya dengan usaha satu institusi atau bahkan pemerintah. PBB membutuhkan kemitraan dengan sektor swasta, media, pemuda, serta organisasi masyarakat sipil," tuturnya. "Ini adalah agenda besar dan butuh tindakan terpadu untuk melaksanakannya."