sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

PBB: Ganja bukan narkotika berbahaya

PBB melakukan pemungutan suara untuk menghapus ganja dari kategori obat berbahaya.

Firda Junita
Firda Junita Jumat, 04 Des 2020 16:02 WIB
PBB: Ganja bukan narkotika berbahaya
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.322.866
Dirawat 158.408
Meninggal 35.786
Sembuh 1.128.672

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan pemungutan suara untuk menghapus ganja dari kategori obat berbahaya untuk keperluan medis. Keputusan ini membuka jalan bagi perluasan penelitian ganja di seluruh dunia dan penggunaan ganja dalam obat-obatan.

Dilansir dari New York Times, pemungutan suara dilakukan oleh Komisi Obat dan Narkotika (CND) di Wina. Sebanyak 53 negara anggota berpartisipasi dalam voting. Hasilnya, 27 negara menyetujui penggunaan ganja dalam dunia medis, 25 negara menolak, dan 2 negara abstain.

CND sengaja melakukan pemungutan suara untuk menghapus ganja dari obat berbahaya untuk kepentingan medis, termasuk mempertimbangkan serangkaian rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang klafisifikasi ulang ganja dan turunannya.

Meski demikian, hal itu berpusat pada rekomendasi untuk menghilangkan ganja dari Jadwal IV Konvensi Tunggal 1961 tentang narkotika, yang mengakategorikan ganja masuk ke dalam opioid berbahaya dan adiktif seperti heroin.

Dikutip dari laman resmi PBB, CND telah membuka peluang untuk mengenal potensi pengobatan dan terapi dengan obat-obatan dari bahan ganja yang umum digunakan, tetapi sebagian besar masih ilegal.

Selain itu, keputusan itu juga dapat mendorong penelitian ilmiah tentang khasiat ganja dan bertindak sebagai katalisator bagi negara-negara yang ingin melegalkannya, demi kepentingan medis serta bagian dari pertimbangan undang-undang tentang penggunaan tanaman tersebut.

WHO mengklasifikasikan cannabidiol (CBD) sebagai senyawa tidak memabukkan yang memiliki peran penting dalam terapi kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Penggunaan ganja dan produk turunannya seperti cannabidiol (CBD) dan senyawa non-intoxicating untuk medis telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Saat ini, ada lebih dari 50 negara mengadopsi peraturan baru tersebut. Sementara itu, Kanada, Uruguay, dan 15 negara bagian Amerika Serikat sudah lebih dulu melegalkan penggunaan ganja. Untuk menyusul beberapa negara tersebut, Luksemburg dan Meksiko akan ikut melegalkan ganja.

Sponsored
Berita Lainnya