sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pejabat partai Aung San Suu Kyi meninggal dalam tahanan

Pejabat NLD bernama Khin Maung Latt diduga meninggal karena dianiaya selama ditahan oleh pihak berwenang junta militer Myanmar.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 08 Mar 2021 13:56 WIB
Pejabat partai Aung San Suu Kyi meninggal dalam tahanan

Seorang pejabat dari Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), partai yang dipimpin oleh pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi, dinyatakan tewas pada Minggu (7/3) dalam tahanan polisi. 

Pejabat NLD bernama Khin Maung Latt dilaporkan pernah bekerja sebagai manajer kampanye untuk salah satu dari dua anggota parlemen muslim yang terpilih pada 2020.

Ba Myo Thein, anggota majelis tinggi parlemen yang dibubarkan setelah kudeta militer, mengatakan bahwa laporan menyatakan Khin mengalami memar di kepala dan di tubuh.

Laporan tersebut, lanjutnya, menimbulkan kecurigaan bahwa dia telah dianiaya atau disiksa dalam tahanan.

"Sepertinya dia ditangkap pada malam hari dan disiksa dengan kejam," katanya kepada Reuters. "Ini benar-benar tidak bisa diterima."

Polisi di Pabedan, distrik di Yangon tempat Khin ditangkap, menolak untuk berkomentar.

Protes antikudeta terbesar dalam beberapa pekan terakhir terjadi pada Minggu. Polisi menembakkan granat kejut dan gas air mata untuk menghentikan aksi duduk puluhan ribu orang di Mandalay.

Sedikitnya 70 orang ditangkap dalam unjuk rasa tersebut.

Sponsored

Polisi juga menggunakan gas air mata dan granat kejut ke arah pengunjuk rasa di Yangon dan di Kota Lashio.

Seorang saksi mata mengatakan polisi melepaskan tembakan untuk membubarkan protes di kota kuil bersejarah, Bagan. Sejumlah pedemo mengatakan di postingan media sosial bahwa aparat keamanan menggunakan peluru tajam.

Video yang diunggah oleh Myanmar Now menunjukkan tentara memukuli orang-orang di Yangon, di mana setidaknya tiga protes diadakan meskipun ada penggerebekan semalam oleh pasukan keamanan terhadap para pemimpin kampanye dan aktivis oposisi.

Sithu Maung, anggota parlemen dari NLD yang bekerja dengan Khin, mengatakan bahwa tentara dan polisi menahan ayahnya pada Minggu malam.

"Mereka masuk ke rumah menggunakan senjata," katanya dalam sebuah unggahan di Facebook, menambahkan bahwa ayahnya juga dipukuli oleh polisi.

PBB melaporkan bahwa pasukan keamanan telah membunuh lebih dari 50 orang untuk memadamkan demonstrasi dan pemogokan harian sejak militer menggulingkan dan menahan Suu Kyi pada 1 Februari.

"Mereka membunuh orang seperti membunuh burung dan ayam," kata seorang pemimpin protes kepada kerumunan di Dawei, sebuah kota di wilayah selatan Myanmar. "Apa yang akan kita lakukan jika kita tidak memberontak melawan mereka? Kita harus memberontak."

Surat kabar Global New Light Of Myanmar yang dikelola negara mengutip pernyataan polisi yang mengatakan bahwa pasukan keamanan menangani protes sesuai dengan hukum yang berlaku. 

Pihak polisi menuturkan, pasukan menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan kerusuhan dan protes yang memblokir jalan umum.

Menurut kelompok advokasi Assistance Association for Political Prisoners  (AAPP), lebih dari 1.700 orang telah ditahan di bawah junta militer hingga Sabtu (6/3).

Pembunuhan para pedemo telah memicu kemarahan di Barat dan dikutuk oleh sebagian besar negara demokrasi di Asia. Amerika Serikat dan beberapa negara Barat lainnya telah memberlakukan sanksi terhadap junta.

Para pengunjuk rasa menuntut pembebasan Suu Kyi dan menghormati pemilu pada November 2020, yang secara telak dimenangkan oleh NLD tetapi ditolak oleh militer. 

Militer Myanmar sebelumnya mengatakan bahwa mereka akan mengadakan pemilu demokratis pada tanggal yang belum ditentukan.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya