logo alinea.id logo alinea.id

Uni Eropa: Pelanggaran Iran atas kesepakatan nuklir tidak signifikan

Menurut Uni Eropa, ketidakpatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir 2015 masih bisa diperbaiki.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 16 Jul 2019 10:43 WIB
Uni Eropa: Pelanggaran Iran atas kesepakatan nuklir tidak signifikan

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan bahwa langkah-langkah ketidakpatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) tidak signifikan dan masih dapat diperbaiki.

"Kami mendukung Iran untuk menghentikan langkah-langkah itu dan kembali mematuhi JCPOA," tegas Mogherini usai pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa pada Senin (15/7).

Pada Mei, Iran meningkatkan produksi uranium yang diperkaya, yang dapat digunakan untuk membuat bahan bakar pembangkit listrik tetapi juga bisa dipakai untuk bom nuklir.

Langkah itu ditempuh Iran untuk merespons sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat, yang secara sepihak menarik diri dari JCPOA. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk mengekang aktivitas nuklir Teheran dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi terhadap negara itu.

"Secara teknis, semua langkah pelanggaran yang telah Iran lakukan dapat diperbaiki," kata Mogherini.

Dia mengatakan, pihak-pihak yang terlibat dalam JCPOA tidak menganggap Iran melakukan pelanggaran yang signifikan dan tidak berniat untuk memicu mekanisme perselisihan pakta, mereka menghindari pemberlakuan kembali sanksi terhadap Teheran.

"Artinya untuk saat ini, dengan data yang kami miliki dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mereka menganggap ketidakpatuhan Iran tidak signifikan," jelasnya.

Menurut Mogherini, negara-negara yang menyepakati JCPOA lebih memilih untuk fokus pada upaya diplomatik untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir.

Sponsored

"Meski tidak dalam kondisi yang baik, kesepakatan itu masih hidup. Kami berharap dan mengimbau Iran untuk menghentikan langkah-langkah ketidakpatuhan mereka dan kembali berkomitmen menjalani JCPOA," tuturnya.

Pertemuan yang diselenggarakan di Brussels, Belgia, itu digelar untuk mendiskusikan upaya meyakinkan Iran dan AS untuk mengurangi ketegangan dan memulai dialog di tengah kekhawatiran bahwa JCPOA akan runtuh.

Sebelumnya, pada Senin, Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt menuturkan masih ada kesempatan untuk menyelamatkan JCPOA.

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan sebelum pertemuan itu, tiga negara kunci Eropa (E3), Jerman, Inggris dan Prancis menegaskan kembali dukungan mereka terhadap JCPOA.

Upaya Prancis cegah eskalasi lebih lanjut

Pada Senin, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa pekan ini dia akan berbicara dengan Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Donald Trump sebagai bagian dari inisiatif Prancis untuk mencegah peningkatan ketegangan di Timur Tengah.

"Menurut saya, momentum yang kami bangun selama beberapa pekan terakhir berhasil mencegah terjadinya hal buruk dan reaksi berlebihan di pihak Iran," jelas Macron.

Dia menambahkan, dalam kondisi sulit yang sedang sekarang dihadapi, Prancis tetap berupaya melakukan mediasi dan negosiasi.

Pelanggaran Iran atas JCPOA itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS. Selain itu, hubungan Iran dengan Inggris, salah satu negara penandatangan JCPOA lainnya, juga sedang memanas. Hal itu disebabkan penyitaan tanker minyak Iran oleh Inggris pada awal Juni.

Tanker minyak bernama Grace 1 itu diduga melanggar sanksi Uni Eropa dengan membawa minyak ke Suriah. Iran telah membantah klaim tersebut.

Pada 2018, secara sepihak Trump menarik AS dari JCPOA yang ditandatangani di bawah pemerintahan Barack Obama. Negara-negara lain yang terlibat JCPOA mengkritik keputusan Trump dan menegaskan akan tetap berkomitmen penuh pada kesepakatan itu.

Lewat kebocoran kawat diplomatik yang dirilis oleh surat kabar The Mail on Sunday terungkap bahwa dalam salah satu pesannya, mantan Dubes Inggris untuk AS Sir Kim Darroch menyatakan, Trump menarik diri dari JCPOA untuk secara sengaja membuat Obama jengkel.

Awal Juli, IAEA mengonfirmasi Iran telah melanggar batas penimbunan uranium kadar rendah yang diperkaya. Ditambah lagi pekan lalu inspektur IAEA mengonfirmasi Iran telah memperkaya uranium hingga kemurnian 4,5%, melampaui batas 3,67% yang ditentukan dalam JCPOA.

Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) mengatakan pemerintah akan mematuhi JCPOA jika negara-negara Eropa memenuhi kewajiban mereka.

"Jika negara-negara Eropa dan AS tidak memenuhi komitmen mereka, kami secara berkala akan mengurangi komitmen terhadap JCPOA dan mengembalikan situasi ke empat tahun lalu, sebelum perjanjian ini disepakati," jelas juru bicara AEOI Behrouz Kamalvandi.  (BBC dan Reuters)