sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Korea Utara: Peluncuran rudal adalah peringatan untuk Korea Selatan

Kim Jong-un menuduh Korea Selatan melakukan transaksi ganda.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 26 Jul 2019 10:24 WIB
Korea Utara: Peluncuran rudal adalah peringatan untuk Korea Selatan

Korea Utara mengatakan, peluncuran terbaru dua rudal jarak pendek dalam pekan ini yang jatuh di Laut Jepang atau Laut Timur dimaksudkan untuk mengirim peringatan ke Korea Selatan.

Menurut kantor berita Korea Utara, KCNA, peluncuran senjata berpemandu taktis tipe baru pada Kamis (25/7) diawasi langsung oleh Kim Jong-un sebagai bagian dari demonstrasi kekuatan untuk mengirim peringatan serius kepada militer Korea Selatan. 

Laporan KCNA menyebut Korea Selatan mengadakan latihan militer yang bertentangan dengan peringatan berulang dari Korea Utara. Diyakini itu merujuk ke pengumuman pada 20 Juli bahwa Amerika Serikat dan Korea Selatan akan melakukan latihan militer bersama bulan depan.

"Kita tidak bisa tidak nonstop mengembangkan sistem senjata super kuat untuk menghilangkan potensi dan ancaman langsung terhadap keamanan negara kita yang datang dari Selatan," ungkap Kim Jong-un seperti dilansir KCNA.

Ada hampir 30.000 pasukan AS yang ditempatkan di Korea Selatan dan manuver tahunan mereka dengan tentara Korea Selatan telah lama membuat marah Korea Utara.

Uji coba pada Kamis juga ditujukan sebagai peringatan agar Seoul berhenti mengimpor senjata teknologi tinggi.

Kim Jong-un menuduh Korea Selatan melakukan transaksi ganda karena mendukung perdamaian tetapi secara bersamaan mengimpor senjata baru dan menggelar latihan militer.

"Pemimpin Korea Selatan harus menghentikan 'tindakan bunuh diri' semacam itu dan jangan membuat kesalahan dengan mengabaikan peringatan ini," ujar Kim Jong-un.

Sponsored

Kim Jong-un mengatakan bahwa dia puas dengan uji coba rudal jarak pendek pada Kamis.

Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan kemarin membuat kesimpulan awal bahwa rudal yang diluncurkan adalah tipe baru dari rudal balistik. Namun, kesimpulan akhir masih menunggu analisis bersama dengan AS.

Kepala Staf Gabungan Seoul (JCS) mengatakan, dua rudal diluncurkan tepat setelah fajar dari Kota Wonsan. Ini merupakan uji coba pertama setelah Donald Trump dan Kim Jong-un setuju untuk menghidupkan kembali perundingan denuklirisasi yang mandek bulan lalu.

Uji coba rudal balistik akan menjadi pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang Korea Utara menggunakan teknologi tersebut. Korea Utara menolak pembatasan tersebut sebagai pelanggaran atas haknya untuk membela diri.

Adapun Korea Selatan pada Kamis telah mendesak negara tetangganya iut untuk menghentikan tindakan yang tidak membantu meredakan ketegangan. Seoul menyatakan bahwa uji coba telah menimbulkan ancaman militer.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri AS juga mendesak Korea Utara untuk menahan diri dari provokasi lebih lanjut dan mengatakan pihaknya masih berharap akan dimulainya kembali pembicaraan tingkat kerja soal denuklirisasi.

"Kami mendesak jangan ada lagi provokasi, dan bahwa semua pihak harus mematuhi kewajiban mereka di bawah resolusi DK PBB," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Morgan Ortagus.

Ketika ditanya pesan apa yang diambil pemerintahan Trump dari peluncuran rudal jarak pendek Korea Utara, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menuturkan, "Ketika presiden dan Ketua Kim bersama-sama di DMZ, Ketua Kim membuat dua komitmen."

"Pertama, dia mengatakan akan berkomitmen untuk tidak melakukan uji coba nuklir dan bahwa dia akan terus menghindari peluncuran rudal balistik jarak menengah dan jarak jauh. Dia juga mengatakan bahwa dia akan menempatkan tim negosiasinya kembali dalam perundingan, bahwa kami akan memiliki putaran negosiasi lain, dan kita sedang berusaha mencapai itu," tutur Pompeo.

Sebelumnya, Korea Utara juga melakukan peluncuran rudal jarak pendek pada Mei. Dan saat itu Trump mengabaikannya sebagai peristiwa serius dan mengatakan peristiwa tersebut tidak akan berdampak pada hubungannya dengan Kim Jong-un.

Peluncuran rudal kemarin datang satu hari setelah penasihat keamanan nasional AS John Bolton berkunjung ke Seoul, di mana dia bicara mengenai keamanan regional dan aliansi yang lebih kuat. (CNN dan Al Jazeera)