sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pembatasan akibat Covid-19 cekik ekonomi Brasil

Total kasus positif dan fatalitas di Brasil merupakan yang tertinggi kedua di dunia.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 20 Jul 2020 10:01 WIB
Pembatasan akibat Covid-19 cekik ekonomi Brasil
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 127083
Dirawat 39082
Meninggal 5765
Sembuh 82236

Presiden Brasil Jair Bolsonaro pada Sabtu (18/7) mengatakan, tindakan karantina wilayah atau lockdown dan pembatasan sosial yang diterapkan untuk mengekang penyebaran Covid-19 telah mencekik ekonomi nasional.

"Tanpa gaji dan pekerjaan, orang-orang bisa mati," kata dia, mengacu pada pembatasan sosial yang diberlakukan oleh otoritas sejumlah negara bagian dan kota.

Bolsonaro menegaskan penentangannya dengan mengatakan bahwa lockdown membunuh. Dia menyebut, sejumlah politikus telah mencekik ekonomi nasional dengan pembatasan sosial yang dipaksakan.

Pernyataan Presiden Bolsonaro datang ketika ekonomi Brasil diperkirakan berkontraksi 6,4% pada 2020 karena dihantam coronavirus jenis baru.

Bolsonaro, yang mengumumkan dia terjangkit Covid-19 pada 7 Juli, bertemu para pendukungnya di tempat tinggalnya, Istana Alvorada, Brasilia. Dia mengenakan masker dan menjaga jarak beberapa meter dari para pendukungnya.

Bolsonaro menyatakan merasa sehat meskipun positif Covid-19. Dia menuturkan, kondisinya baik akibat menggunakan hydroxychloroquine untuk melawan virus.

Sejauh ini, para ilmuwan dari seluruh dunia belum merekomendasikan penggunaan hydroxychloroquine untuk mengobati Covid-19 karena kurangnya bukti terkait efektivitasnya.

"Saya adalah bukti hidup bahwa obat itu bekerja," kata dia kepada para pendukungnya.

Sponsored

Menurut data pihak berwenang Brasil pada Minggu (19/7), negara tersebut mencatat total 2.099.896 kasus positif Covid-19, termasuk 79.533 kematian dan 1.371.229 pasien yang dinyatakan sembuh.

Total kasus positif dan fatalitas di Brasil merupakan yang tertinggi kedua di dunia, berada di belakang Amerika Serikat. (South China Morning Post)
 

Berita Lainnya