logo alinea.id logo alinea.id

Pemilu Bangladesh: Facebook dan Twitter hapus sejumlah akun palsu

Facebook merupakan jejaring sosial terpopuler di Bangladesh. Mereka memiliki sekitar 30 juta pengguna.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 21 Des 2018 19:46 WIB
Pemilu Bangladesh: Facebook dan Twitter hapus sejumlah akun palsu

Twitter dan Facebook pada Kamis (20/12) mengumumkan bahwa mereka telah menghapus akun dan halaman berita palsu terkait dengan pemerintah Bangladesh yang mengunggah konten antioposisi. Langkah ini diambil beberapa hari jelang pemilu di negara itu.

Facebook, jejaring sosial terpopuler di Bangladesh dengan sekitar 30 juta pengguna mengatakan, telah menghapus sembilan halaman berita palsu terkait dengan sejumlah individu terkait pemerintah Bangladesh yang meniru berita-berita dari media independen.

Selain itu, Facebook juga menghapus enam akun lainnya yang ditemukan terlibat dalam perilaku terkoordinasi tidak autentik. Salah satu akun memiliki 11.900 pengikut.

Menteri Dalam Negeri Bangladesh Assaduzzaman Khan mengatakan tindakan akan diambil terhadap orang-orang di balik akun palsu tersebut.

"Bahkan jika yang bersangkutan memiliki hubungan dengan partai yang berkuasa, dia tidak akan bisa menghindar," ungkap Khan. 

Kepala Kebijakan Keamanan Siber Facebook Nathaniel Gleicher menerangkan lewat sebuah pernyataan bahwa pihaknya tidak ingin sebuah akun dibuat untuk tujuan menyesatkan siapa pun.

"Perilaku semacam ini tidak diizinkan di Facebook berdasarkan kebijakan penyajian yang keliru karena kami tidak ingin orang atau organisasi membuat jaringan akun untuk menyesatkan orang lain tentang siapa mereka, atau apa yang mereka lakukan," papar Gleicher.

Sementara itu, Twitter menuturkan telah mengidentifikasi dan menghapus 15 akun yang berasal dari Bangladesh karena terlibat dalam manipulasi platform terkoordinasi.

Sponsored

"Berdasarkan analisis awal kami, sejumlah akun ini mungkin memiliki hubungan dengan aktor yang disponsori negara," tutur pihak Twitter. 

Sejumlah akun tersebut memiliki kurang dari 50 pengikut.

Facebook dan raksasa teknologi lainnya berada di bawah tekanan untuk meningkatkan upaya menghapus konten menyesatkan atau ilegal, dan memastikan berita palsu tidak diunggah dan disebarluaskan. Meski pun Facebook telah meningkatkan pengecekan fakta, namun mereka masih menghadapi kritik terlalu lamban menutup akun-akun palsu.

Mufti Mahmud Khan, juru bicara pasukan keamanan Rapid Action Battalion, yang telah diberi tugas memantau konten daring dalam pemilu pada 30 Desember, tidak memberi komentar terkait pernyataan Facebook. Walau demikian dia menjelaskan, timnya telah menangkap 30 orang dalam beberapa pekan terakhir, yang mengunggah propaganda antipemerintah dengan membuat klona situs berita populer. Sejumlah orang yang ditangkap terkait dengan oposisi.

Langkah Facebook ini diambil di tengah upaya Liga Awami pimpinan Perdana Menteri Sheikh Hasina untuk memenangkan kekuasaan ketiga kalinya. Pihak Hasina dituding melancarkan serangan terhadap kandidat oposisi.

Oposisi Front Persatuan Nasional pada Rabu (19/12) menyatakan bahwa 14 kandidatnya telah ditangkap dan 1.500 terluka dalam serangan bulan ini oleh para pekerja partai yang berkuasa.

Liga Awami membantah tuduhan tersebut dan menuding oposisi berusaha menganggu lingkungan pemilu yang damai. Hasina pada Rabu lalu menekankan bahwa pihaknya tidak akan menggunakan cara yang tidak adil untuk menang.

Di bawah rezim Hasina, sejumlah orang telah ditangkap karena memuat unggahan Facebook yang kritis terhadap pemerintah, termasuk seorang fotografer terkemuka yang dibebaskan bulan lalu setelah lebih dari 100 hari dibui.

Pemerintah Bangladesh dilaporkan telah mengambil sejumlah langkah untuk meningkatkan infrastruktur digital Bangladesh, termasuk membuat internet lebih terjangkau, namun mereka tetap memegang ketat kendali.

Sumber : Reuters