logo alinea.id logo alinea.id

Pemilu paruh waktu Filipina, upaya Duterte langgengkan kekuasaan

Pemungutan suara akan ditutup pada Senin pukul 18.00 waktu setempat dan hasilnya dijadwalkan diumumkan pada Jumat (17/5).

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 13 Mei 2019 14:03 WIB
Pemilu paruh waktu Filipina, upaya Duterte langgengkan kekuasaan

Warga Filipina melakukan pemungutan suara dalam pemilu paruh waktu hari ini. Pemungutan suara itu diperkirakan dapat memperkuat cengkeraman kekuasaan Presiden Rodrigo Duterte.

Masyarakat akan memberikan suara untuk menentukan siapa yang duduk di kursi majelis tinggi dan majelis rendah yakni senat dan DPR, Senin (13/5). Selama ini, senat banyak berfungsi sebagai benteng dalam melawan sejumlah kebijakan kontroversial Duterte.

Secara internasional, Duterte dikenal sebagai pemimpin kejam dengan omongan kasar. Namun, dia masih sangat populer di kalangan warga Filipina yang muak dengan kebobrokan negara itu dan para pemimpin sebelumnya yang gagal memperbaikinya.

Duterte ingin mengembalikan hukuman mati bagi kejahatan terkait narkoba sebagai bagian dari upayanya menindak keras penggunaan narkotika. Sejauh ini ribuan penjual dan pengguna narkoba tewas lewat eksekusi ekstra yudisial. Visi Duterte untuk menindak keras kejahatan merupakan kunci kemenangannya dalam Pemilu 2016.

Para pemilih memadati sejumlah tempat pemungutan suara di Manila yang dibuka pada pukul 06.00 waktu setempat. Sekitar 61.000 warga terdaftar untuk memberikan suara dalam pemilu paruh waktu kali ini.

"Saya memilih semua kandidat yang didukung oleh Presiden Duterte," kata seorang warga, Evelyn Balili (55).

Dia menilai bahwa pemerintahan Duterte berhasil memenuhi janji untuk memperbaiki negara.

Secara historis, 24 senator yang melayani enam tahun masa jabatan, memiliki reputasi lebih mandiri dibanding pejabat di majelis rendah.

Sponsored

Memenangkan mayoritas di senat akan memberikan Duterte dukungan legislatif bagi program-program anti-kriminalnya dan rencananya untuk menulis ulang konstitusi.

Sejumlah lembaga survei nasional yang independen menilai kandidat-kandidat usungan Duterte memiliki kemungkinan besar untuk meraih mayoritas di senat.

Jika hal itu terjadi dan senat jatuh dalam genggamannya, oposisi memperingatkan bahwa Duterte bisa saja menghapus kebijakan terkait masa jabatan presiden yang seharusnya hanya satu periode. Jika Duterte memperpanjang masa jabatannya sendiri, hal itu akan memungkinkannya untuk kembali ikut serta dalam pilpres selanjutnya.

Dukungan dari senat juga berarti Duterte dapat memperluas perang anti-narkoba dengan mengembalikan hukuman mati bagi penjual maupun pengguna narkotika.

Filipina menghapus hukuman mati pada 1987, kembali memberlakukannya pada 1993, dan kemudian dihapus lagi pada 2006.

Politik dinasti

Duterte berupaya keras menggalang dukungan dari masyarakat dalam pemilu paruh waktu ini. Pria 73 tahun itu bahkan tur keliling negeri untuk memberikan pidato dan berkampanye hingga larut malam.

Pemungutan suara akan ditutup pada Senin pukul 18.00 waktu setempat dan hasilnya dijadwalkan untuk diumumkan pada Jumat (17/5).

Meskipun misalnya Duterte tidak berhasil mengubah kebijakan yang dapat memperpanjang masa jabatannya, keluarganya terlihat sudah siap untuk melanjutkan misinya.

Anak perempuan Duterte, Sara, telah menjabat sebagai Wali Kota Davao sejak 2010. Banyak yang menilai bahwa Sara berpotensi menjadi calon pengganti Duterte dalam Pilpres 2022.

Adik laki-laki Sara, Sebastian, disebut mengincar kursi wakil Wali Kota Davao. Sementara putra tertua Duterte, Paolo, menjadi salah satu kandidat calon anggota DPR.

Polisi bersiaga penuh melindungi pemungutan suara di saat tren kekerasan pemilu berlanjut pada tahun ini. Sejak Januari, sebanyak 14 orang tewas dan 14 lainnya terluka dalam insiden kekerasan terkait pemilu. (CNA)