sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pemimpin Tertinggi Iran dukung kenaikan harga BBM

Ayatullah Ali Khamenei pada Minggu (17/11) menyatakan dukungannya terhadap kenaikan harga BBM yang telah memicu aksi protes nasional.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 18 Nov 2019 12:24 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran dukung kenaikan harga BBM

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei pada Minggu (17/11) menyatakan dukungannya terhadap kenaikan harga BBM, yang telah memicu aksi protes nasional.

"Tidak diragukan bahwa sejumlah orang khawatir akan keputusan ini ... Tetapi sabotase dan pembakaran dilakukan oleh para perusuh, bukan warga Iran," tutur Khamenei dalam pidato yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah.

Dia mengatakan tidak tahu tentang rincian di balik kenaikan harga BBM tetapi menyebut keputusan itu harus didukung karena telah disetujui oleh pemerintah Iran dan para ahli.

Demonstrasi berlangsung di puluhan kota di Iran menyusul keputusan Presiden Hassan Rouhani pada Jumat (15/11) tengah malam. Dia mengumumkan, pemerintah akan memangkas subsidi BBM utuk mendanai dukungan bagi rakyat miskin.

Walaupun Teheran menaikan harga BBM reguler menjadi US$0,36 per liter dari US$0,24 dan juga melakukan penjatahan, harga bahan bakar negara itu masih termasuk yang termurah di dunia.

"Pihak-pihak yang kontrarevolusi dan musuh-musuh Iran selalu mendukung sabotase dan pelanggaran keamanan," ujar Khamenei. "Akibatnya, sangat disayangkan bahwa beberapa masalah terjadi, sejumlah orang kehilangan nyawa dan beberapa tempat dihancurkan."

Khamenei meminta pejabat pemerintah untuk mencegah adanya kenaikan harga barang lainnya. Banyak pihak yang menilai Khamenei ingin mencegah terulangnya kerusuhan di akhir 2017, ketika 22 orang dilaporkan tewas dalam aksi protes di 80 kota besar. Aksi unjuk rasa saat itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap standar hidup yang buruk.

Sejumlah anggota parlemen, yang awalnya berencana memaksa pemerintah merevisi keputusan kenaikan harga BBM, menarik mosi mereka setelah mendengar pidato Khamenei.

Sponsored

Meski sebagian besar demonstrasi berjalan dengan damai, beberapa aksi unjuk rasa berubah menjadi penuh kekerasan di beberapa tempat. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan petugas polisi menembakkan gas air mata ke arah massa yang melakukan pembakaran.

Pemerintah Iran menyatakan bahwa kenaikan harga BBM merupakan cara yang diperhitungkan untuk membuat ekonomi lebih efisien dan mengalirkan sumber daya ke kaum miskin.

Kenaikan harga BBM diperkirakan akan mengumpulkan sekitar US$2,55 miliar per tahun untuk subsidi tambahan bagi sekitar 18 juta keluarga atau setidaknya 60 juta warga Iran yang memiliki pendapatan lebih rendah. Proposal tersebut telah direkomendasikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai cara untuk mengakhiri subsidi BBM tidak efisien dan menyeimbangkan kembali pengeluaran pemerintah. 

Meski begitu, rakyat Iran merasa skeptis bahwa dana tambahan yang dihasilkan dari kenaikan harga BBM akan dimanfaatkan bagi masyarakat, terutama kaum miskin.

Kepala Badan Perencanaan dan Organisasi Anggaran Iran Mohammad Bagher Nobakht bersikeras bahwa sekitar 60 juta dari total 82 juta penduduk akan mendapatkan bonus tambahan setiap bulan untuk mengimbangi kenaikan harga BBM.

Dalam pernyataannya, Kementerian Intelijen Iran menuturkan bahwa pihak berwenang berhasil mengidentifikasi para pemimpin aksi protes dan akan mengambil tindakan yang sesuai.

"Orang-orang memiliki hak untuk protes, tapi itu berbeda dari melakukan kerusuhan. Kami tidak dapat membiarkan rasa tidak aman menyebar akibat kekerasan yang terjadi," kata Presiden Iran Hassan Rouhani.

Satu orang tewas di Kota Sirjan dalam aksi protes pada Jumat. Protes yang menentang kenaikan harga BBM berubah menjadi berbau politik dengan sejumlah demonstran yang membawa slogan-slogan yang menyerukan agar pejabat tinggi pemerintah mundur.

Kantor berita negara IRNA melaporkan bahwa dalam unjuk rasa di Sirjan, para pedemo mencoba membakar depot minyak, tetapi berhasil dihentikan oleh polisi.

Seorang perwira polisi dilaporkan tewas dalam unjuk rasa pada Sabtu (16/11). Kantor berita Fars melaporkan bahwa lebih dari 1.000 demonstran ditangkap dan 100 bank rusak akibat dibakar.

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungan untuk apa yang mereka sebut sebagai protes damai menentang rezim Iran.

"Kami mengutuk penggunaan kekuatan mematikan dan pembatasan akses komunikasi yang dilakukan untuk melawan para demonstran," tutur pernyataan Gedung Putih.

Lebih lanjut, Gedung Putih menyebut bahwa Teheran secara fanatik telah mengembangkan senjata nuklir dan program rudal serta mendukung terorisme.

Pemblokiran akses internet

Sejumlah media massa Iran mengatakan ketenangan telah dipulihkan di negara itu. Namun, video-video yang beredar di media sosial menunjukkan aksi protes berlanjut di Teheran dan sejumlah kota lainnya.

Setelah bentrokan keras antara pasukan keamanan dan pengunjuk rasa pada Sabtu, Kedutaan Besar Prancis di Iran pada Minggu meminta warganya di Iran untuk menghindari tempat-tempat umum dan menahan diri dari mengambil gambar kejadian tersebut.

Iran kerap menuduh lawannya seperti AS, Israel dan Arab Saudi, berupaya menggoyahkan negaranya melalui kampanye propaganda online.

Selama sepekan sejak protes pecah, akses internet Iran diblokir atas perintah dewan keamanan negara. Sebuah langkah yang bertujuan untuk mencegah pengunjuk rasa berkomunikasi dan berbagi video di media sosial.

Perusahaan pemerhati internet, NetBlocks, pada Minggu mengatakan bahwa konektivitas di Iran telah turun menjadi hanya 5% dari tingkat biasa.

"Kami mengutuk upaya memadamkan akses internet. Biarkan mereka bersuara," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Morgan Ortagus pada Minggu.

Sebagian besar toko di pasar Teheran ditutup pada Minggu. Belum dipastikan kapan mereka akan kembali beroperasi.

Sumber : Reuters