sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Penangkapan guru asing meningkat di China

Empat firma hukum mengatakan bahwa dalam enam bulan terakhir, permintaan untuk mengadvokasi guru asing di China meningkat.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 13 Agst 2019 18:26 WIB
Penangkapan guru asing meningkat di China

Jumlah penangkapan dan deportasi guru asing di China melonjak pada tahun ini. Isu ini dianggap sebagai upaya Beijing untuk membuat sistem pendidikan mereka lebih bersih dan patriotik.

Empat firma hukum mengatakan kepada Reuters bahwa dalam enam bulan terakhir, permintaan untuk mengadvokasi guru asing di China meningkat sebanyak 10 kali lipat.

Sejumlah guru dan sekolah di China menyatakan bahwa penangkapan dan penahanan sementara terhadap guru asing telah menjadi hal yang biasa.

Lembaga pendidikan yang berbasis di Swiss, Education First (EF), mengelola 300 tempat kursus di 50 kota di China. Mereka menyatakan telah mengalami peningkatan penahanan secara signifikan terhadap para guru. 

Sebagian besar guru asing ditahan karena diduga melakukan sejumlah pelanggaran termasuk penggunaan narkoba, perkelahian dan pelanggaran keamanan siber.

EF menyatakan bahwa beberapa stafnya pernah dijemput oleh polisi di rumah, sekolah, bar hingga kelab. Mereka kemudian diinterogasi dan harus menjalani tes urine.

Lembaga pendidikan itu menyatakan bahwa tempat kursus di mana guru-guru asing itu bekerja telah menerima peringatan dari Kedutaan Besar Swiss mengenai peningkatan penangkapan oleh otoritas China.

"Kami menghargai kolaborasi erat dengan otoritas China," tutur seorang juru bicara EF.

Sponsored

Sebuah sekolah internasional di Beijing dan sebuah agensi pengajar di Shanghai secara terpisah mengonfirmasi bahwa penangkapan terhadap guru asing meningkat tajam di negara itu.

"Ada tekanan luar biasa bagi para guru asing untuk menjaga agar segala sesuatunya tetap bersih. Itu semua adalah bagian dari gagasan Presiden Xi Jinping untuk memastikan bahwa Tiongkok dapat menunjukkan wajah yang baik kepada seluruh dunia," kata Peter Pang, kepala pengacara di Kantor Hukum IPO Pang Xingpu di Shanghai.

Biro Keamanan Publik dan Departemen Pendidikan China tidak memberikan komentar terkait persoalan ini.

Penahanan terhadap guru asing ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara China dan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Australia.

China memiliki sekitar 400.000 warga asing yang bekerja di industri pendidikannya pada 2017. Industri pendidikan China sejak lama telah dinodai pelanggaran dari kedua belah sisi. Banyak guru asing di China yang bekerja secara ilegal tanpa visa dan beberapa sekolah mengeksploitasi kerentanan kondisi itu.

Upaya uji narkoba

Sejumlah pengacara menyatakan bahwa banyak kasus hukum yang melibatkan penangkapan guru asing dikaitkan dengan upaya baru pengujian narkoba, termasuk metode yang dapat melacak penggunaan narkoba dalam periode yang lama.

Tiga mantan guru dari dua sekolah di Beijing dan Shanghai yang sempat ditahan mengatakan bahwa para guru yang ditangkap harus melalui uji narkoba beberapa kali dan melewati interogasi yang lama.

Salah satu dari tiga mantan guru itu adalah pria asal Florida yang dideportasi pada Mei setelah mendekam selama 10 hari di penjara Beijing.

Dia mengungkapkan bahwa setibanya di China, dia segera menjalani tes urine yang menyatakan bahwa dirinya bersih. Namun, dua minggu kemudian dia ditahan setelah tes urine dadakan di tempat kerjanya menyatakan bahwa ada jejak mariyuana di rambutnya.

"Saya sama sekali tidak menyentuh narkotika di China," kata pria yang menolak menyebutkan namanya itu.

Tes rambut dapat mendeteksi jejak mariyuana hingga 90 hari ke belakang. Artinya, para guru yang datang dari negara-negara di mana narkotika itu legal sangat rentan.

"Masalahnya, tes rambut dapat mendeteksi jejak mariyuana dari beberapa bulan sebelumnya," kata Dan Harris, pengacara di firma hukum Harris Bricken.

Persoalan penangkapan guru asing di China menjadi sorotan pada Juli ketika 19 warga asing, termasuk tujuh staf EF, ditangkap di Xuzhou atas tuduhan penggunaan narkoba.

Kasus itu dikecam oleh media pemerintah yang menggemakan seruan Beijing untuk mendorong pemberantasan pengaruh asing dari sekolah-sekolah di China.

Pada September 2018, China meluncurkan kampanye luas untuk menghilangkan pengaruh asing dari pendidikan. Kampanye itu termasuk upaya melarang kursus sejarah asing dan merevisi buku pelajaran agar berfokus pada ideologi Partai Komunis.

Kementerian Pendidikan China menyatakan bahwa kampanye itu dirancang untuk mempromosikan patriotisme dan nilai-nilai sosialis yang mencerminkan rasa cinta tanah air.

Sejumlah pengacara menyampaikan, meningkatnya sentimen antiasing dalam industri pendidikan Tiongkok membuat guru asing rentan menghadapi persoalan seperti pengurangan gaji dari sekolah dan perubahan kontrak kerja secara semena-mena.

"Ketika sekolah mendapatkan banyak lamaran dari guru asing, mereka merasa memiliki kontrol," kata Pang.

Salah satu contoh kasusnya adalah Emily (25), guru bahasa Inggris asal Utah, AS. Dia mengatakan bahwa sebuah sekolah di Chengdu menahan paspornya selama 10 minggu pada akhir 2018. Pihak sekolah menolak untuk mengembalikan paspor itu sampai Emily mengancam akan memanggil polisi.

Sekolah itu bahkan secara sepihak mengurangi US$169,85 dari gaji bulanannya sebesar US$2,269. Pihak sekolah menyatakan potongan itu merupakan biaya untuk agen.

Para pengacara menyebut praktik ini sudah umum dilakukan oleh banyak sekolah di China.

"Banyak pejabat pemerintah menganggap bahwa mengusir pengaruh Barat, seperti guru bahasa Inggris, merupakan perilaku yang membantu pekerjaan Partai Komunis. Sekolah-sekolah mengambil keuntungan dari pola pikir seperti ini," kata Harris.

Sumber : Reuters