sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pengamat HI paparkan sembilan tugas utama Biden

Covid-19 menjadi tugas yang paling pertama dan mendesak untuk ditangani.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 30 Jan 2021 16:50 WIB
Pengamat HI paparkan sembilan tugas utama Biden

Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Padjajaran Arry Bainus memaparkan sembilan pekerjaan rumah (PR) domestik, yang harus dihadapi oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden selama masa pemerintahannya.

Covid-19 menjadi tugas yang paling pertama dan mendesak untuk ditangani. Dengan total kasus positif melampaui 26 juta, termasuk fatalitas di atas 440.000, AS menjadi negara yang paling parah terdampak Covid-19.

"Ini menjadi persoalan tersendiri dan harus ditangani secara serius oleh pemerintah AS," tutur Arry dalam webinar 'Arah Kebijakan Presiden AS Joe Biden, Dampak Atas Indonesia dan Dunia' pada Sabtu (30/1).

Arry menilai, Biden pun mengetahui seberapa seriusnya persoalan terkait pandemik Covid-19 di dalam negeri. Pasalnya, ketika mengeluarkan sejumlah perintah eksekutif pada hari pertamanya menjabat, sebagian besar mencakup respons pemerintah terhadap pandemik.

"Ke depannya, isu pandemik akan menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Biden, terutama persoalan-persoalan yang menyangkut negara bagian maupun masyarakat," lanjutnya.

Ekonomi dan perdagangan menjadi tugas kedua yang perlu diatasi pemerintahan Biden. Arry memaparkan akibat pandemik, ekonomi AS menyusut sebesar 32,9% pada tingkat tahunan antara April-Juni 2020.

Selain itu, isu hak asasi manusia, kesetaraan ras, dan gender menjadi tugas berat ketiga Biden.

"Ini semua terkait gerakan Black Lives Matter lalu persoalan transgender di militer," jelasnya. "Isu ini adalah isu laten di AS karena siapa pun yang menjadi presiden pasti akan menghadapi persoalan-persoalan ini," terang dia.

Sponsored

Tugas keempat Biden, tambahnya, adalah nilai-nilai demokrasi di AS. Walaupun AS mengakui diri sebagai negara yang mengedepankan demokrasi. Peristiwa kerusuhan mematikan di Capitol pada awal Januari seolah-olah menghapus apa yang sudah diperjuangkan nenek moyang mereka.

"Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi Biden, baik untuk memperbaiki nilai-nilai demokrasi di dalam negeri maupun secara global," kata dia.

Lebih lanjut, Arry menuturkan, imigrasi menjadi tugas kelima. Perawatan kesehatan sebagai tugas keenam, dan perubahan iklim menjadi tugas ketujuh selama pemerintahan Biden.

Tugas kedelapan Biden, merupakan bagaimana mengatasi perpecahan internal yang timbul pascapemilu.

"AS terpecah menjadi dua dan ini perlu segera dihadapi. Ini seolah-olah memecah nilai AS yang menjunjung tinggi persatuan," ungkapnya.

Tugas kesembilan Biden, menurut Arry, merupakan politik luar negeri dan keamanan nasional.

"Biden sudah memiliki visi kebijakan luar negeri, selama masa kampanye dia menyebut bahwa AS akan memulihkan kepemimpinan mereka di panggung dunia dan di dalam negeri," kata Arry.

Tujuannya adalah untuk mendorong kemakmuran, keamanan, dan nilai-nilai AS dengan cara memperbaiki demokrasi dan aliansi.

"Berbeda dari Trump, sifat kebijakan Biden lebih global. Bukan hanya memperbaiki isu-isu domestik tetapi juga menangani isu-isu global," tutupnya.

Dalam kesempatan yang sama, diplomat AS yang menjabat di Kementerian Luar Negeri AS sejak 1986-2013 Stanley Harsha menilai, perpecahan masyarakat jelas terlihat di Negeri Paman Sam.

"Masih banyak masyarakat yang mendukung Trump, apalagi mereka yang garis keras," tutur dia. "Namun, menurut saya itu tidak akan memengaruhi kebijakan Biden," kata dia lagi.

Menurut Stanley, Biden akan berusaha memenangkan hati atau mengubah sikap masyarakat pro-Trump dengan cara memberikan bukti nyata dari kinerja pemerintahannya.

"Dia akan berupaya memperbaiki ekonomi, mengatasi Covid-19, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong kebijakan luar negeri yang baik," sambungnya.

Berita Lainnya