sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Penyelidikan pemakzulan Trump: Ada whistleblower kedua

Whistleblower kedua ini disebut juga berasal dari komunitas intelijen.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 07 Okt 2019 09:46 WIB
Penyelidikan pemakzulan Trump: Ada whistleblower kedua

Whistleblower atau pelapor pelangggaran kedua muncul dalam kasus pemakzulan terhadap Donald Trump. Demikian disampaikan pengacara yang mewakil whistleblower pertama.

Mark Zaid menuturkan kepada ABC News bahwa whistleblower kedua juga seorang pejabat intelijen.

Belum ada detail yang dirilis tentang klaim pelapor kedua. Namun, menurut Zaid, whistleblower kedua memiliki tahu tentang tuduhan terkait pembicaraan telepon yang dilakukan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 25 Juli.

Gedung Putih belum memberikan komentar terkait kabar ini.

Penyelidikan yang berusaha memakzulkan Trump tengah berlangsung di DPR. Pemicunya adalah aduan whistleblower pada Agustus yang menyebutkan bahwa dalam pembicaraannya dengan Presiden Zelensky, Trump menggunakan pengaruh dan wewenangnya untuk meminta Zelensky menyelidiki rival utamanya dalam Pilpres 2020, Joe Biden dan putranya Hunter Biden.

Trump menuduh Biden dan Hunter melakukan korupsi terkait urusan politik dan bisnis mereka di Ukraina dan China. Tuduhannya tersebut tidak disertai dengan bukti-bukti spesifik. 

Adalah ilegal meminta entitas asing untuk membantu memenangkan pemilu. Trump sendiri membantah melakukan kesalahan apapun.

Pada Jumat (4/10), New York Times melaporkan bahwa whistleblower kedua, yang memiliki informasi-informasi lebih langsung seputar pembicaraan telepon Trump-Zelensky tengah mempertimbangkan untuk maju. Belum tahu apakah dia juga akan diwakili oleh Zaid.

Sponsored

The Times juga menyatakan bahwa whistleblower kedua telah berbicara dengan inspektur jenderal komunitas intelijen, yang disebut berusaha menguatkan kesaksian whistleblower pertama.

Adapun komite investigasi yang dipimpin Demokrat di DPR sangat ingin berbicara dengan seseorang yang mengetahui secara langsung percakapan telepon Trump-Zelensky atau memiliki banyak informasi soal itu. Mereka berharap sosok itu adalah whistleblower kedua.

Pengacara pribadi Trump, Rudy Giuliani, mentwit dia tidak terkejut bahwa ada "sumber rahasia" lain. Dia menyebut penyelidikan soal ini bermotivasi politik dan mengecam media.

Sebelumnya, setelah laporan whistleblower pertama terungkap, Gedung Putih menegaskan bahwa mereka terbuka soal pembicaraan telepon Trump-Zelensky dan mereka juga telah merilis transkipnya. Namun, para penyelidik mengatakan, yang dibuka ke publik hanyalah transkip parsial.

Penyelidik pun meminta Kementerian Luar Negeri untuk merilis lebih banyak informasi terkait pembicaraan telepon Trump-Zelensky. 

Jika DPR yang saat ini dikontrol Demokrat memberikan suara untuk memakzulkan Trump, maka akan digelar sidang di Senat. Butuh mayoritas dua pertiga suara untuk melengserkan Trump, tetapi mengingat Senat saat ini dikuasai Republikan maka hal tersebut dipandang tidak mungkin.

Sumber : BBC