logo alinea.id logo alinea.id

Perang dagang tidak mengganggu perdagangan China-ASEAN

Dubes Huang Xilian optimistis bahwa di tengah perang dagang, perdagangan China-ASEAN akan terus menunjukkan tren positif.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 28 Mei 2019 10:19 WIB
Perang dagang tidak mengganggu perdagangan China-ASEAN

Duta Besar China untuk ASEAN Huang Xilian menuturkan bahwa perang dagang antara Tiongkok dengan Amerika Serikat tidak menghambat laju perdagangan dengan ASEAN.

"Selama bertahun-tahun, ASEAN telah menjadi salah satu mitra dagang utama China," tutur Dubes Huang di kediamannya di Menteng, Jakarta, Senin (27/5).

Dia menambahkan, selama delapan tahun berturut-turut, ASEAN bahkan menempati posisi ketiga mitra dagang terbesar China.

Pada 2018, Dubes Huang mengatakan nilai perdagangan antara China dan ASEAN mencapai hampir US$587 miliar. Dan dalam kuartal pertama 2019, dubes mengklaim perdagangan kedua pihak masih tumbuh dengan pesat.

"Meskipun kondisi perdagangan dunia sedang tegang, perdagangan dengan ASEAN terus berjalan," tuturnya. "Saya percaya momentum semacam ini akan terus berlanjut."

Di tengah perang dagang yang memengaruhi kondisi ekonomi dunia, Dubes Huang menuturkan bahwa China terus berupaya memperkuat dan meningkatkan perdagangan, investasi, serta kerja sama dengan banyak pihak.

Huang menyebut, pihaknya akan mengimplementasikan peningkatan protokol Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara China dan ASEAN demi kelancaran kemitraan di masa depan.

Selain melalui perdagangan, kerja sama antara kedua pihak juga diperkuat dengan bentuk kerja sama ekonomi lainnya yakni Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas oleh Presiden China Xi Jinping.

Sponsored

"Kami berharap itu tidak hanya berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi China, tetapi juga ekonomi Asia Tenggara," ungkapnya.

Selain itu, Dubes Huang menyatakan bahwa China tengah mengambil banyak langkah untuk membuka perekonomian mereka ke dunia.

Imbas perang dagang

Dubes Huang mengatakan bahwa China sama sekali tidak menginginkan adanya perang dagang dengan AS. Dia mengklaim bahwa China selalu berupaya bernegosiasi dengan AS untuk mencapai kesepakatan yang mampu mengatasi persoalan ketimpangan perdagangan.

Sayangnya, kata dia, hingga saat ini belum ada kemajuan ataupun jalan keluar.

"AS merupakan pihak yang sepenuhnya bertanggung jawab atas terhambatnya negosiasi itu," tegasnya. "Tidak masuk akal untuk menerapkan tarif tanpa melalui prosedur peninjauan apapun."

Tanpa menyebut nama perusahaan, Huang juga mengkritik langkah pemerintahan Donald Trump yang menjatuhkan sanksi kepada perusahaan China tertentu atas dasar keamanan nasional AS.

Meski mendapat tekanan kuat dari Washington, Huang menegaskan Beijing akan tetap melawan.

"Kami tidak menginginkan ada perang dagang, tetapi jika kami dipaksa, tentu saja kami akan melakukan segala cara untuk bertahan dan menjaga kepentingan rakyat China," ujarnya.

Huang berpendapat bahwa perang dagang yang dimulai oleh AS tidak hanya akan merugikan pihak yang terlibat, tapi dampak negatif juga akan berimbas kepada sistem perdagangan global secara keseluruhan.

Menurutnya, AS yang menganut proteksionisme dan unilateralisme akan menimbulkan ancaman serius bagi sistem perdagangan yang berbasis multilateralisme.

Hal itu, lanjutnya, juga dapat merusak rantai pasokan dan rantai produksi yang merupakan fitur utama dari perdagangan global. Jika perdagangan bebas terancam kepentingan nasional setiap negara yang terlibat perdagangan bebas pun otomatis akan dirugikan.

"Kami berharap China dan ASEAN, sebagai pejuang perdagangan bebas dan multilateralisme, akan bekerja sama untuk mempertahankan dan mempromosikan sistem perdagangan multilateral dan semangat perdagangan bebas," tuturnya. "China percaya bahwa ASEAN sebagai salah satu mitra dagang utama Beijing dapat berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan perang dagang."