sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Peringati 9/11, Trump singgung perundingan dengan Taliban

Trump mengklaim bahwa kini Amerika Serikat berupaya menghantam Taliban lebih keras dari sebelumnya.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 12 Sep 2019 18:19 WIB
Peringati 9/11, Trump singgung perundingan dengan Taliban

Dalam peringatan tragedi 11 September 2001, Donald Trump mengklaim bahwa kini Amerika Serikat berupaya menghantam Taliban lebih keras dari sebelumnya.

"Selama belakangan ini, kami telah menghantam musuh kami lebih keras dari yang pernah mereka alami sebelumnya dan itu akan terus berlanjut," kata Trump dalam pidato pembukaannya di Pentagon, Washington, pada Rabu (11/9) pagi.

Baik Komando Pusat AS maupun Kementerian Pertahanan belum menanggapi permintaan untuk berkomentar terkait bagaimana Washington mengubah strateginya untuk menghantam Taliban lebih keras, seperti yang diklaim Trump.

Trump memperingatkan bahwa jika Taliban berani menginjakkan kaki di AS, pihaknya akan menggunakan kekuatan yang belum pernah digunakan sebelumnya.

"Tidak ada pihak di Bumi yang dapat menandingi kekuatan dan keterampilan angkatan bersenjata AS," tegas dia.

Presiden Trump menekankan kembali posisinya bahwa dia ingin mengakhiri konflik militer di Timur Tengah, tetapi dia membela keputusannya yang secara tiba-tiba membatalkan perundingan perdamaian dengan pihak Taliban.

Pada Sabtu (7/9), Trump membatalkan rencana untuk mengundang para pemimpin Taliban ke Camp David pada Minggu (8/9) untuk melanjutkan perundingan perdamaian.

Dia mengatakan, negosiasi itu dibatalkan karena Taliban mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman di Ibu Kota Kabul pada awal pekan itu. Serangan tersebut menewaskan seorang pejabat militer AS dan 11 orang lainnya.

Sponsored

Pada Senin (9/9), presiden ke-45 AS itu menekankan bahwa perundingan perdamaian sudah tamat.

"Perundingan sudah mati," kata dia.

Selama berbulan-bulan terakhir, AS telah melakukan perundingan dengan Taliban, dengan harapan kedua pihak dapat mencapai perdamaian untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 18 tahun di Afghanistan.

Beberapa pihak mengkritik Trump dan menyatakan bahwa AS seharusnya tidak pernah bernegosiasi dengan teroris, apalagi mengundang mereka ke dalam negeri.

Pada Rabu, Reuters melaporkan bahwa pertempuran sengit sedang berlangsung di sejumlah provinsi di Afghanistan. Para pejabat keamanan setempat mengatakan bahwa eskalasi kekerasan merupakan hasil dari runtuhnya perundingan perdamaian dengan AS.

Pemerintahan Trump berharap dapat menarik sekitar 5.000 dari lebih dari 13.000 personel militer AS yang ditugaskan di Afghanistan. Peran mereka sebagian besar difokuskan pada pelatihan pasukan setempat dan operasi kontraterorisme.

Kehadiran pasukan AS telah menurun tajam dibandingkan pada 2010 ketika sekitar 100.000 tentara ditempatkan di negara itu. (Business Insider dan Politico)